JEJAK KATA, Tangerang – Air selalu menyimpan cerita. Di Kampung Wisata Keramba 22, Kelurahan Gebang Raya, Kota Tangerang, riak-riak kecil yang memecah permukaan kolam bukan sekadar pertanda ikan sedang bergerak. Ia adalah penanda kehidupan yang terus bertumbuh—pelan, tekun, dan nyaris tanpa suara.
Pagi itu, Sabtu, 1 Agustus 2026, jaring-jaring mulai ditarik dari dalam keramba. Puluhan tangan bekerja dalam irama yang seolah telah diwariskan oleh kebiasaan. Ketika ikan-ikan patin bermunculan dari balik air yang kecokelatan, sorak kecil warga pun pecah. Timbangan terus bergerak hingga berhenti di angka sekitar 200 kilogram.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya catatan hasil panen. Namun bagi warga Kampung Wisata Keramba 22, setiap kilogram ikan adalah buah dari kesabaran berbulan-bulan: memberi pakan setiap hari, menjaga kualitas air, mengawasi perubahan cuaca, hingga memastikan ekosistem kolam tetap sehat. Di tempat ini, panen bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan perayaan atas hubungan yang terjalin antara manusia dan alam.
Kampung-kampung di tepian kota kerap dipandang sebagai ruang yang perlahan terdesak pembangunan. Namun di Gebang Raya, masyarakat memilih jalan yang berbeda. Mereka menjadikan perairan yang ada bukan sekadar ruang kosong, melainkan sumber kehidupan. Keramba-keramba tumbuh menjadi wajah baru kampung, menghadirkan harapan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari lingkungan sekitar tanpa harus merusak keseimbangannya.
Suasana panen raya semakin semarak ketika warga, pegiat lingkungan, dan pemerintah berkumpul di tepi kolam. Aroma air tawar bercampur dengan gelak tawa anak-anak yang berlarian, sementara ember-ember berisi ikan patin berpindah tangan. Pemandangan sederhana itu menghadirkan satu kenyataan yang sering terlupakan: pangan tidak lahir begitu saja di meja makan. Ia berawal dari kerja panjang yang jarang terlihat.
Wakil Wali Kota Tangerang, Maryono, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menilai keberhasilan panen menjadi bukti bahwa inovasi masyarakat layak terus didukung. Menurutnya, hasil budi daya perikanan memberi manfaat nyata bagi ekonomi warga sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Kami hari ini bersama masyarakat sekitar menyambut panen raya dari hasil budi daya perikanan yang ada di sini. Ada hampir 200 kilogram ikan yang bisa dipanen, tentu ini menjadi kabar baik untuk terus didukung agar produktivitasnya meningkat termasuk memfasilitasi sarana dan prasarana yang dibutuhkan,” ujar Maryono.
Di Kampung Wisata Keramba 22, ikan bukan satu-satunya yang dipelihara. Kesadaran lingkungan pun tumbuh bersama. Tahun ini, panen raya sengaja dirangkaikan dengan kegiatan para pegiat Bank Sampah Kota Tangerang Wilayah Barat dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.
Di sudut lain lokasi acara, bahan-bahan bekas yang biasanya berakhir di tempat pembuangan berubah menjadi busana, kerajinan, dan karya kreatif. Fashion show serta pameran daur ulang menghadirkan pesan yang sederhana tetapi kuat: menjaga bumi tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang ia lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama.
Ketua Komunitas Kampung Wisata Keramba 22 Gebang Raya, Muhammad Afendhi, mengatakan panen raya telah menjadi tradisi tahunan yang selalu dinanti masyarakat.
“Tidak hanya panen raya, kami juga mengadakan kegiatan untuk mengampanyekan pelestarian lingkungan seperti fashion show dan pameran bertema daur ulang hasil karya para pegiat bank sampah khususnya yang ada di wilayah barat,” ujarnya.
Kolaborasi itu memperlihatkan bahwa ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Air yang bersih menghasilkan ikan yang sehat. Lingkungan yang terawat menjaga produktivitas tetap berlangsung. Sementara masyarakat yang peduli menjadi penghubung antara keduanya.
Afendhi berharap sinergi tersebut terus diperkuat agar produktivitas pertanian maupun budi daya perikanan dapat berkembang lebih luas.
“Kami berharap adanya panen raya ini, pemerintah dan masyarakat bisa terus bekerja sama mengembangkan produktivitas pertanian termasuk budi daya perikanan untuk mendukung ketahanan pangan karena pangan tidak akan bisa digantikan dengan mesin,” katanya.
Di tengah laju urbanisasi yang terus mengubah wajah Kota Tangerang, Kampung Wisata Keramba 22 menghadirkan pengingat yang sederhana namun penting. Ketahanan pangan tidak selalu lahir dari hamparan sawah yang luas atau kawasan industri pangan berskala besar. Ia juga dapat tumbuh dari kolam-kolam sederhana yang dirawat dengan gotong royong, dari air yang dijaga kebersihannya, serta dari masyarakat yang percaya bahwa merawat alam berarti sedang menyiapkan masa depan.
Menjelang senja, keranjang-keranjang berisi patin mulai meninggalkan tepi kolam. Permukaan air kembali tenang, seolah menyimpan rahasia tentang musim panen berikutnya. Riak-riak kecil itu perlahan menghilang, tetapi harapan yang tumbuh di atasnya terus mengalir—menghidupi keluarga, menguatkan kampung, dan mengingatkan bahwa peradaban yang bertahan selalu bermula dari kemampuan manusia menjaga hubungan baik dengan alam. (*






