JEJAK KATA, Semarang — Simpang Lima boleh menjadi magnet kuliner Kota Semarang. Tapi urusan berburu gambar, perjalanan belum lengkap sebelum bergeser ke kawasan Kota Lama. Dari pusat kota, kawasan di sekitar Stasiun Tawang itu menawarkan wajah Semarang yang berbeda: lebih tua, lebih tenang, sekaligus lebih fotogenik.
Salah satu bangunan yang hampir selalu masuk daftar buruan kamera adalah Lawang Sewu. Bangunan peninggalan era kolonial ini bukan sekadar latar untuk swafoto. Ia menyimpan jejak panjang sejarah perkeretaapian Indonesia dan kini menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang dikenal luas di Semarang.
Nama Lawang Sewu—yang berarti seribu pintu—sudah lebih dulu menjadi daya tarik. Di antara lorong, jendela, pintu tua, dan ornamen bangunan, kamera seolah tak pernah kehabisan pekerjaan.
Pada siang hari, bangunan berwarna putih keabu-abuan dengan ornamen klasiknya menawarkan suasana vintage. Cat yang menua justru memberi tekstur tersendiri. Tak perlu kamera profesional atau sederet lensa mahal. Ponsel pun cukup untuk menangkap karakter bangunan.
Menjelang malam, suasananya berubah. Lampu-lampu yang menyala di sela lorong dan pintu tua menghadirkan rona jingga. Bayangan bangunan membentuk siluet. Bagi penggemar fotografi, kondisi semacam ini ibarat studio tanpa atap—hanya saja latarnya sudah dibuat jauh sebelum istilah Instagramable ditemukan.
Setiap sudut menawarkan kemungkinan gambar berbeda. Pintu tua, lorong panjang, permainan cahaya, hingga detail arsitektur kolonial bisa menjadi komposisi. Tinggal memilih sudut, mengatur cahaya, lalu menekan tombol kamera.
Bagi pasangan yang ingin mengabadikan momen prewedding, Lawang Sewu juga bisa menjadi pilihan. Tentu, pemotretan perlu mengikuti ketentuan dan berkoordinasi dengan pengelola kawasan. Jadi, jangan sekadar datang membawa kamera dan merasa halaman bangunan adalah studio pribadi.
Yang menarik, Lawang Sewu tidak hanya menjual latar foto. Di balik pintu dan lorongnya terdapat cerita tentang perkembangan perkeretaapian pada masa kolonial hingga Indonesia modern. Dengan kata lain, pengunjung bisa pulang membawa dua hal sekaligus: foto untuk media sosial dan sedikit pengetahuan tentang sejarah.
Ajak keluarga, teman, atau pasangan. Soal membawa selingkuhan, itu urusan lain—yang jelas jangan sampai sejarah Lawang Sewu lebih panjang daripada hubungan Anda.
Sebab bangunan tua seperti Lawang Sewu mengajarkan satu hal sederhana: sesuatu yang telah berumur panjang tidak selalu kehilangan pesona. Kadang, justru dari cat yang kusam, pintu yang menua, dan lorong yang diterangi cahaya temaram, sebuah gambar mendapatkan ceritanya. (*







Berfotoria di tempat cagar budaya berarti ikut melestaribudaya ydaya