KULINER — Mie ayam, siapa yang tak mengenalnya? Kuliner rakyat ini seperti punya kartu anggota di hampir setiap lidah Indonesia. Mie berbahan gandum menjadi panggungnya, sementara potongan daging ayam berbumbu menjadi pemeran utamanya. Di jalanan, ia lazim muncul dari gerobak sederhana yang menyusuri gang-gang perumahan. Ada pula yang mangkal di warung kecil di tepi jalan, hingga menjelma hidangan di rumah makan yang lebih besar. Bentuknya boleh sederhana, tetapi urusan rasa sering kali punya cerita sendiri.
Nah, bicara soal kuliner favorit yang satu ini, Jejakkata.news menelusuri salah satu kedai mie ayam di kawasan Kebon Nanas, Cikokol, Kota Tangerang. Lokasinya berada di Jalan MH. Thamrin, tepat di seberang Primaya Hospital Kebon Nanas. Tempatnya memang sederhana, tetapi semangkuk mie ayam di sini punya alasan untuk membuat lidah kembali melirik. Namanya Mie Ayam Pangsit Pak Moto.
Yang menarik dari kedai Mie Ayam Pangsit Pak Moto bukan sekadar semangkuk mie yang datang mengepul. Tekstur mie menjadi salah satu daya tariknya ketika bergoyang di antara sumpit dan lidah. Potongan ayamnya menggunakan daging fillet yang empuk dan berbumbu. Saus tomat yang menjadi pelengkap pun bukan sekadar pemanis meja. Semua dipilih untuk menjaga komposisi rasa agar tetap berada di jalurnya.
Hartanto, pemilik Mie Ayam Pangsit Pak Moto, mengatakan bahwa mie yang digunakan sebagai bahan dasar dibuat sendiri. Cara ini membuat mie memiliki karakter berbeda dibandingkan sebagian mie ayam yang beredar di pasaran. Menurut dia, membuat mie sendiri menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas dan rasa.
“Kita lebih mengutamakan kualitas, yaitu rasa. Makanya, sausnya pun kita menggunakan saus yang berkualitas,” ujar Hartanto.
Ketika Jejakkata.news mencicipi mie ayam di Mie Ayam Pangsit Pak Moto beberapa waktu lalu, kuah gurihnya datang lebih dulu menyapa. Bagi penyuka pedas, sensasinya bisa dibuat lebih berani. Bumbu, irisan daun bawang, potongan ayam, dan kuah berpadu seperti orkestra kecil di dalam mangkuk. Tidak sekadar mengisi perut, semangkuk mie ayam ini meninggalkan rasa yang membuat sendok ingin kembali bekerja.
Kedai Mie Ayam Pangsit Pak Moto juga disebut kerap menjadi tempat singgah sejumlah tokoh, baik dari tingkat daerah maupun nasional. Bagi kedai sederhana, kedatangan tamu semacam itu tentu menjadi cerita tersendiri. Tetapi pada akhirnya, mangkuk mie tetap menjadi hakim yang paling jujur: apakah rasa mampu membuat orang datang kembali?
Mie Ayam Pangsit Pak Moto buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB. Bagi pemburu kudapan rakyat dengan resep khas, waktu terbaik jangan terlalu sore. Sebab, sebelum azan Magrib berkumandang, persediaan mie ayam biasanya sudah lebih dulu berpamitan dari mangkuk. Meski tampak sederhana dari luar, kedai ini juga memiliki ruang yang dapat digunakan sebagai meeting room dengan kapasitas sekitar 25 orang. Area parkir pun tersedia cukup memadai.
Bagi yang sedang mager alias malas bergerak, semangkuk mie ayam juga tak harus dikejar sampai Kebon Nanas. Pesanan Mie Ayam Pangsit Pak Moto dapat dilakukan melalui GoFood. Tinggal memilih menu dan paket yang diinginkan, lalu menunggu si mangkuk datang mengetuk pintu. Karena untuk urusan mie ayam, terkadang yang dibutuhkan memang bukan perjalanan panjang—cukup satu klik dan perut yang mulai keroncongan. (*






