Soft News

Soenardjo Atmodipoerwo dan Tunas Kelapa yang Menjadi Wajah Pramuka

×

Soenardjo Atmodipoerwo dan Tunas Kelapa yang Menjadi Wajah Pramuka

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Soenardjo Atmodipoerwo

JEJAK KATA — Sebuah tunas kelapa mungkin tampak sederhana. Namun dalam sepotong siluet itu tersimpan gagasan tentang generasi muda, ketahanan, dan masa depan bangsa. Itulah lambang Gerakan Pramuka yang hingga kini melekat pada seragam, bendera, papan nama, dan berbagai kegiatan kepanduan di Indonesia.

Di balik lambang tersebut ada nama yang tak selalu dikenal: Soenardjo Atmodipoerwo. Ia bukan sekadar tokoh Pramuka, melainkan pegawai tinggi Departemen Pertanian yang menciptakan lambang berbentuk siluet tunas kelapa itu.

Lambang tersebut mulai digunakan pada 14 Agustus 1961. Pada hari itu, Presiden Soekarno menganugerahkan Panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Nasional Indonesia kepada Gerakan Pramuka melalui Keputusan Presiden Nomor 448 Tahun 1961.

Pilihan tunas kelapa bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Pramuka, buah kelapa yang sedang tumbuh disebut cikal. Ia dimaknai sebagai tunas penerus bangsa—anak muda yang diharapkan menjadi inti keberlangsungan kehidupan bangsa.

Kelapa juga dikenal sebagai tanaman yang kuat. Ia dapat bertahan lama dan tumbuh di berbagai kondisi tanah. Filosofinya jelas: anggota Pramuka diharapkan memiliki ketahanan fisik dan mental, sekaligus mampu beradaptasi menghadapi perubahan.

Logo Gerakan Pramuka

Pohon kelapa yang tumbuh menjulang pun menjadi perlambang cita-cita yang tinggi. Dengan demikian, lambang itu tidak berhenti sebagai tanda pengenal organisasi. Ia dirancang sebagai pesan pendidikan yang dikenakan setiap anggota.

Lambang tunas kelapa kemudian digunakan pada panji, bendera, papan nama kwartir dan satuan, tanda pengenal, hingga berbagai perlengkapan administrasi Gerakan Pramuka. Penggunaannya diatur antara lain melalui Keputusan Kwartir Nasional Nomor 06/KN/72 tentang Lambang Gerakan Pramuka.

Soenardjo seolah menitipkan satu pesan melalui gambar yang sederhana: menjadi Pramuka bukan sekadar mengenakan seragam atau mengikuti perkemahan. Ada tuntutan untuk tumbuh, bertahan, beradaptasi, dan memberi manfaat.

Karena itu, tunas kelapa bukan sekadar gambar yang dijahit di lengan atau dicetak di papan nama. Ia adalah metafora tentang generasi muda yang diharapkan tumbuh menjadi kader pembangunan, mengamalkan pengetahuan dan teknologi, serta tetap berpegang pada nilai Pancasila.

Lebih dari enam dekade setelah pertama kali digunakan, siluet karya Soenardjo itu masih mudah dikenali. Sang penciptanya mungkin tidak selalu disebut ketika lambang itu berkibar. Tetapi setiap tunas kelapa yang dikenakan anggota Pramuka membawa jejak gagasan seorang pegawai Departemen Pertanian yang pernah menerjemahkan cita-cita pendidikan kepanduan ke dalam sebuah simbol. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *