JEJAK KATA, Tangerang — Buah merah kecil jatuh dari dahan. Bagi sebagian orang, itu sekadar buah matang yang menyerah pada gravitasi. Namun, di Tanjung Kait, Kabupaten Tangerang, jatuhnya buah itu bisa dimaknai lain: pertanda rezeki. Itulah buah sianto.
Mitos itu hidup di sekitar Kelenteng Tjoe Soe Kong, Pantai Tanjung Kait, Kecamatan Mauk. Pohon dewandaru yang tumbuh di pojok kelenteng itu, oleh masyarakat setempat dipercaya telah berusia ratusan tahun. Pohonnya memang tidak menjulang seperti raksasa. Tingginya sekitar 3–4 meter. Tetapi cerita yang menempel pada batangnya jauh lebih tinggi.
Buah sianto atau buah dewandaru dalam bahasa Latin namanya Eugenia uniflora. Tanaman yang berasal dari Brasil ini dikenal pula dengan nama cermai Belanda, asam selong, atau asam Belanda. Secara botani, ia termasuk keluarga Myrtaceae, kerabat tanaman jambu-jambuan.
Pohon perdu itu memiliki batang tegak dengan kulit cokelat. Daunnya hijau, lonjong, dan relatif kecil. Buahnya menyerupai cermai, dengan biji kecil yang keras dan berwarna cokelat. Di Tanjung Kait, perhatian orang bukan semata-mata pada bentuk buahnya.
Buah yang jatuh justru dianggap membawa cerita. Konon, seseorang yang kejatuhan buah sianto dari pohon tua di halaman kelenteng akan memperoleh rezeki. Sebagian masyarakat bahkan memperluas maknanya: bukan hanya rezeki, tetapi juga jodoh, keselamatan, atau kenaikan derajat.
Mitos semacam ini tentu tidak memiliki pembuktian ilmiah. Tetapi ia bertahan karena diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.
Nenek Rumi, warga Desa Tanjung Kait, pernah menjadi salah seorang yang akrab dengan cerita tersebut. Bertahun-tahun lalu, perempuan yang ketika itu berusia sekitar 75 tahun itu kerap duduk atau beristirahat di bawah pohon dewandaru.
Sejak kecil, Rumi mengetahui kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Jika buah atau daun pohon itu jatuh mengenai seseorang, kejadian tersebut dipercaya sebagai pertanda baik.
Pohon itu pun seolah menjadi semacam lotere alam. Bedanya, tidak ada yang perlu membeli kupon. Tinggal duduk di bawahnya dan menunggu—meski tentu saja tidak ada jaminan buah akan jatuh, apalagi rezeki akan datang.
Cerita tentang dewandaru bukan hanya berkembang di Tanjung Kait.
Di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur, misalnya, pohon dewandaru juga dikenal memiliki nilai mistis. Ada kepercayaan bahwa buah yang jatuh dari pohonnya dapat menjadi pertanda keberuntungan. Masyarakat setempat bahkan mengenal larangan memetik buah atau menggoyang pohon tersebut.
Dewandaru juga dikaitkan dengan kisah tokoh yang dikeramatkan di Gunung Kawi, Eyang Jugo atau Eyang Junggo. Dalam cerita yang berkembang, batang dewandaru dikaitkan dengan tongkat yang dibawa tokoh tersebut.
Di titik inilah buah sianto menjadi lebih dari sekadar buah.
Ia menjadi bagian dari lanskap kepercayaan masyarakat. Pohonnya berada di antara ruang ibadah, tradisi, sejarah, dan cerita rakyat. Bagi mereka yang mempercayainya, buah yang jatuh bukan sekadar fenomena alam.
Tetapi bagi ilmu pengetahuan, buah tetaplah buah.
Ketika matang, sianto memiliki rasa manis. Sebaliknya, buah yang belum matang terasa asam. Di balik rasa itu terdapat kandungan nutrisi yang membuatnya menarik untuk dibicarakan dari sisi pangan, terlepas dari mitos yang menyertainya.
Sejumlah sumber mencatat buah dewandaru mengandung protein, karbohidrat, kalsium, magnesium, fosfor, kalium, vitamin C, vitamin A, serta sejumlah senyawa lain seperti kaempferol, myricetin, dan quercetin. Namun angka kandungan nutrisi dapat berbeda bergantung pada sumber, varietas, tingkat kematangan, dan metode pengukuran.
Karena itu, mitos tentang buah sianto sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari warisan cerita masyarakat, bukan sebagai klaim kesehatan atau jaminan datangnya kekayaan.
Toh, manusia sejak lama memang gemar memberi makna pada sesuatu yang sulit dijelaskan. Buah jatuh bisa menjadi kebetulan. Tetapi di tengah masyarakat yang memelihara cerita turun-temurun, kebetulan itu bisa berubah menjadi pertanda.
Di bawah pohon dewandaru Tanjung Kait, buah sianto akhirnya memiliki dua wajah. Satu wajah milik botani: buah kecil dari tanaman tropis asal Brasil. Wajah lainnya milik kebudayaan: simbol keberuntungan yang membuat orang rela duduk menunggu di bawah pohon tua.
Dan seperti kebanyakan mitos, kekuatannya bukan terletak pada apakah ia terbukti atau tidak. Kekuatannya justru pada kemampuannya bertahan—diceritakan, dipercaya, diperdebatkan, lalu diwariskan lagi kepada orang berikutnya.
Barangkali itulah sebabnya pohon dewandaru tetap menarik perhatian. Bukan karena ia menjanjikan kekayaan. Melainkan karena dari sebuah buah kecil bernama sianto, masyarakat menemukan cerita besar tentang harapan. (*






