Jejak KataWisata dan Kuliner

Nasi Rames, Hidangan Favorit yang Lahir dari Ketidakpastian

×

Nasi Rames, Hidangan Favorit yang Lahir dari Ketidakpastian

Sebarkan artikel ini
Hadangan favorit Nasi Rames

KULINER — Di warung makan, nasi rames hampir tak pernah benar-benar punya wajah yang tetap. Hari ini ditemani telur, tumis sayur, dan sambal. Besok bisa berganti ayam, tahu, tempe, atau sayuran lain. Namanya tetap nasi rames. Lauknya yang boleh berganti-ganti.

Konon, dari ketidakpastian itulah nama nasi rames berasal.

Sejumlah sumber menyebut nasi rames berakar dari tradisi kuliner Jawa. Hidangan ini kemudian menyebar ke berbagai daerah di Nusantara, terutama kota-kota yang menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya dan selera.

Nasi rames diperkirakan berkembang pada masa kolonial Belanda, ketika beragam tradisi kuliner bertemu. Ia menjadi hidangan yang praktis: nasi dengan aneka lauk dan sayuran yang bisa disesuaikan dengan bahan tersedia sekaligus selera pembelinya.

Di Jawa, penyajiannya pun tak seragam.

Di Banyumas, misalnya, nasi rames dikenal sebagai menu sarapan yang dibungkus dalam porsi kecil. Dahulu daun pisang menjadi pembungkus utama. Kini, daun pisang lebih sering menjadi alas atau lambaran, sementara bagian luarnya dibungkus kertas.

Lauknya juga punya ciri tersendiri. Di tengah aneka sayuran, mendoan atau bongkrek kerap menjadi teman nasi. Sederhana, tetapi justru di situlah daya tariknya.

Di daerah lain, nasi rames disajikan di atas piring. Ada pula yang menggunakan konsep prasmanan: nasi dan lauk tersedia di meja, pembeli tinggal memilih sesuai selera dan isi dompet.

Dari warung sederhana, nasi rames kemudian naik kelas. Ia kini dapat ditemukan di rumah makan hingga restoran yang lebih berkelas. Barangkali karena konsepnya sederhana dan sulit ditolak: nasi hangat, lauk beragam, sayuran, lalu sambal. Tak banyak aturan.

Namun ada satu hal yang menarik dari namanya.

Sebagian penjelasan populer mengaitkan kata “rames” dengan ungkapan bahasa Jawa ora mesti. “Ra” diambil dari ora, sedangkan “mes” dari mesti. Artinya kurang lebih “tidak pasti” atau “tidak selalu”.

Dengan begitu, nasi rames bisa dimaknai sebagai nasi dengan lauk yang tidak mesti sama. Hari ini lauknya telur, besok ayam. Sayurnya bisa berubah sesuai persediaan. Tidak ada komposisi yang benar-benar baku.

Meski demikian, asal-usul istilah tersebut sebaiknya dipandang sebagai etimologi populer, bukan kesimpulan sejarah yang sudah pasti. Sebab, sejarah nasi rames sendiri tidak memiliki satu versi tunggal yang benar-benar final.

Justru ketidakpastian itu terasa cocok dengan watak nasi rames.

Ia tidak banyak menuntut. Tak harus ayam, tak harus telur, tak harus mahal. Yang penting nasi ada, lauk tersedia, sayur menemani, dan perut kemudian berdamai dengan kenyataan.

Nasi rames mungkin sederhana. Tetapi dari sepiring nasi itulah kita bisa melihat satu hal: kuliner Nusantara tumbuh bukan hanya dari resep yang diwariskan, melainkan juga dari kemampuan manusia mencampur apa yang tersedia menjadi sesuatu yang disukai.

Dan seperti namanya—jika tafsir ora mesti itu benar—nasi rames memang tidak pernah berjanji akan selalu sama. Justru karena itulah ia bertahan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *