Jejak KataSeni dan Hiburan

Tradisi Meron Sukolilo, Jejak Keraton yang Bertahan Ratusan Tahun di Pati

×

Tradisi Meron Sukolilo, Jejak Keraton yang Bertahan Ratusan Tahun di Pati

Sebarkan artikel ini
Tradisi Meron salah satu tradisi masyarakat di Sukolilo Pati | FOTO: Dok. Visit Central Java

BUDAYA — Di Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sejarah tidak hanya disimpan dalam kitab atau cerita para sesepuh. Ia juga menjulang dalam bentuk gunungan. Tinggi, meriah, dipenuhi hasil bumi dan jajanan pasar, lalu diarak menuju halaman Masjid Besar Baitul Yaqin untuk akhirnya diperebutkan warga. Tradisi itu bernama Meron.

Konon, kata Meron berasal dari ungkapan mempere keraton, yang berarti menyerupai kegiatan atau tata cara di lingkungan keraton. Nama itu menyimpan jejak masa lalu, ketika pengaruh Kerajaan Mataram disebut singgah dan berakar di kawasan Sukolilo sekitar tahun 1628.

Sejak itu, Tradisi Meron terus diwariskan. Bukan sekadar pesta rakyat, melainkan pertemuan antara sejarah, agama, kekuasaan, dan kebudayaan Jawa yang bertahan melampaui pergantian generasi.

Tiga Belas Gunungan dan Simbol Kekuasaan Desa

Puncak perayaan Tradisi Meron ditandai dengan arak-arakan gunungan atau tumpeng raksasa menuju Masjid Besar Baitul Yaqin Sukolilo.

Jumlahnya tak sembarangan: 13 gunungan Meron. Gunungan-gunungan itu melambangkan kepala desa beserta perangkatnya. Di bagian puncak terdapat mahkota berbentuk ayam—ayam putih dengan pola menyerupai Kabah untuk kepala desa, sedangkan ayam hitam menjadi lambang perangkat desa.

Tubuh gunungan dipenuhi hasil bumi, jajanan pasar, hingga rengginang. Rengginang, dalam penafsiran tradisi setempat, menjadi semacam kenang-kenangan: sesuatu yang dibawa pulang, bukan hanya untuk dimakan, tetapi juga untuk mengingat.

Meron, dengan demikian, adalah panggung simbolik. Kekuasaan desa diwujudkan dalam gunungan, kemakmuran ditampilkan melalui hasil bumi, sementara masyarakat menjadi bagian paling penting dari perayaan itu.

Dari Kesenian Lengger hingga Berebut Berkah

FOTO: Dok. Istimewa

Perayaan biasanya dimulai sejak malam. Kesenian tradisional, termasuk pertunjukan lengger dari berbagai desa, memeriahkan suasana. Sukolilo berubah menjadi ruang bersama, ketika seni tampil bukan sebagai tontonan museum, melainkan bagian dari kehidupan warga.

Pagi harinya, prosesi memasuki tahap utama. Gunungan dironce dan disiapkan sebelum diarak menuju masjid. Setelah rangkaian ritual selesai, masyarakat pun berebut isi gunungan.

Bagi orang luar, adegan itu mungkin tampak seperti rebutan biasa. Namun bagi masyarakat Sukolilo, benda-benda yang dibawa pulang dipercaya mengandung simbol keberkahan. Ada keyakinan, ada tradisi, dan ada kegembiraan yang sulit diterjemahkan hanya dengan bahasa administrasi kebudayaan.

Tradisi Meron menunjukkan satu hal: kebudayaan bertahan bukan semata karena dicatat dalam dokumen, melainkan karena terus dipraktikkan.

Pada 2017, Tradisi Meron ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengakuan negara itu penting, tetapi sesungguhnya Meron telah lebih dahulu mendapat pengesahan dari masyarakat: diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya selama ratusan tahun.

Di tengah zaman yang gemar mengubah tradisi menjadi sekadar tontonan dan konten, Meron masih mempertahankan fungsi yang lebih tua. Ia adalah ingatan kolektif.

Dan setiap kali gunungan kembali diarak di Sukolilo, sejarah seperti turun dari keraton—bukan untuk duduk di singgasana, melainkan menyatu dengan rakyat. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *