Jejak Kata

Ultimate Series: Tangerang 10K Menjadi Etalase Budaya dan Wisata

×

Ultimate Series: Tangerang 10K Menjadi Etalase Budaya dan Wisata

Sebarkan artikel ini
Peserta sampai di titik finis dalam Kegiatan Tangerang 10k di Taman Elektrik, Kota Tangerang | Foto: Dok. Dinas Kominfo Kota Tangerang

JEJAK KATA, Kota Tangerang — Bagi sebagian pelari, Tangerang 10K mungkin hanya soal jarak 10 kilometer dan catatan waktu. Namun bagi peserta yang datang dari luar kota, lintasan itu berubah menjadi semacam etalase kota.

Minggu pagi, 13 September 2026, pelari dari Bandung, Surabaya, hingga Pontianak berlari menyusuri jalan-jalan Kota Tangerang. Mereka tidak sekadar mengejar garis finis. Sepanjang rute, kota memperkenalkan dirinya: rumah ibadah, jejak sejarah, kultur Tionghoa, arsitektur kota, hingga kerumunan warga yang berdiri di tepi jalan memberi semangat.

Sumka, pelari asal Bandung, bahkan datang sehari sebelum lomba. Ia berangkat bukan karena sejak awal memasukkan Tangerang 10K ke kalender lombanya, melainkan karena ajakan seorang teman.

“Teman saya ngajakin yang di Tangerang, ya sudah gas,” kata Sumka.

Keputusan itu berbuah pengalaman berbeda. Pagi yang relatif nyaman membuatnya bisa menikmati rute tanpa terlalu sibuk memelototi jam. Matanya justru sibuk menangkap wajah Tangerang yang muncul sepanjang perjalanan.

Ada kelenteng. Ada Masjid Raya Al-Azhom. Ada gereja. Bagi Sumka, keberagaman itu menjadi salah satu hal yang menarik dari lintasan.

“Benar-benar semua budaya, kultur, agama juga ada. Kita lihat sepanjang lari,” ujarnya.

Bagi kota yang kerap dikenal dari kawasan industri dan kepadatan lalu lintasnya, pemandangan itu menjadi kesempatan untuk menunjukkan wajah lain. Tangerang tidak hanya ingin dilihat sebagai kota tempat orang bekerja dan pulang. Ia ingin dikenali sebagai kota dengan sejarah, keberagaman dan ruang publik yang bisa dinikmati.

Michel Oktani datang lebih jauh lagi, dari Surabaya. Tangerang merupakan kota ketiganya dalam rangkaian Ultimate Series, setelah sebelumnya mengikuti lomba di Bandung dan Surabaya.

Ia tidak datang membawa catatan perjalanan wisata. Namun lintasan lari membuatnya seperti mendapat paket city tour tanpa bus.

“Tiga kota, ternyata Tangerang gas terus. Keren banget, jalannya steril dan banyak cheering-nya. Jadi berasa happy banget larinya,” kata Michel.

Di jalan, warga menjadi bagian dari pertunjukan. Mereka berdiri di pinggir rute, menyaksikan pelari lewat dan meneriakkan dukungan. Bagi peserta dari luar daerah, keramahan semacam itu bukan sekadar aksesori lomba. Ia menjadi pengalaman yang melekat pada ingatan tentang sebuah kota.

Arya, peserta dari Pontianak, Kalimantan Barat, menangkap hal serupa. Ia menikmati pemandangan kota sekaligus keberagaman budaya yang ditemuinya di sepanjang rute.

“City view-nya ada tempat sejarah. Ada kultur Tionghoa-nya, saya suka. Warganya juga lebih antusias,” ujar Arya.

Tangerang 10K akhirnya menjadi lebih dari lomba lari. Ia menjadi cara sederhana sebuah kota memperkenalkan dirinya kepada tamu yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.

Pelari datang membawa sepatu dan nomor dada. Mereka pulang membawa cerita tentang kota yang mereka lintasi.

Di luar lintasan, cerita itu bisa berlanjut ke tempat wisata, kawasan bersejarah, pusat kuliner, atau sudut-sudut kota yang sebelumnya tak masuk radar mereka. Sebab, pariwisata kota sering kali tidak dimulai dari brosur. Ia bisa bermula dari pengalaman 10 kilometer yang menyenangkan.

Sterilisasi jalan, dukungan warga, keberagaman budaya dan suasana kota menjadi modal penting. Tinggal bagaimana pengalaman itu tidak berhenti ketika pelari melewati garis finis.

Para peserta dari Bandung, Surabaya dan Pontianak itu bahkan menyatakan kesiapannya kembali jika Tangerang 10K digelar lagi tahun depan.

Untuk sebuah kota, mungkin itulah garis finis yang sesungguhnya: bukan ketika pelari berhenti berlari, melainkan ketika mereka ingin datang kembali. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *