Jejak KataSoft News

Waspadai Efek Judi Online Bagi Kesehatan Mental Masyarakat

×

Waspadai Efek Judi Online Bagi Kesehatan Mental Masyarakat

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

PSIKOLOGI — Mulanya hanya satu-dua kali. Taruh uang, menunggu angka bergerak, lalu berharap keberuntungan datang dari layar telepon. Ketika kalah, muncul keinginan untuk mencoba lagi. Ketika menang, rasa penasaran justru semakin besar.

Begitulah judi online bekerja: menawarkan harapan dalam hitungan detik, lalu perlahan menagih harga yang tidak kecil.

Psikolog Puspaga Kota Tangerang, Sri Damayanti, menyebut judi online sebagai “racun manis”. Permainan itu bukan sekadar menguras uang, tetapi dapat menyeret seseorang ke persoalan psikologis, fisik, hingga hubungan sosial.

“Dampaknya tidak hanya merusak kesehatan mental, tetapi juga mengganggu kehidupan sehari-hari secara keseluruhan,” ujar Sri.

Salah satu tanda yang patut dicermati adalah ketika judi mulai mengambil alih waktu. Aktivitas yang semula hanya selingan berubah menjadi rutinitas. Seseorang terus memikirkan permainan, merasa gelisah ketika berhenti, dan mulai mengabaikan pekerjaan atau kegiatan lain.

Masalah biasanya merambat ke dompet. Kekalahan membuat pemain ingin mengejar kembali uang yang hilang. Dari sinilah jebakan balik modal bisa menjadi lingkaran yang sulit diputus.

Ketika Judi Mengambil Alih Hidup

Dalam kondisi yang lebih berat, perilaku berjudi dapat berkembang menjadi gambling disorder, yakni gangguan ketika seseorang terus berjudi meski sudah mengetahui konsekuensi buruknya.

Kehidupan sehari-hari ikut berantakan. Uang habis, aktivitas produktif ditinggalkan, dan hubungan dengan keluarga maupun teman mulai renggang. Pada kasus tertentu, tekanan akibat persoalan keuangan dan konflik sosial juga dapat memperburuk kondisi psikologis.

Depresi dapat muncul ketika kekalahan menumpuk dan seseorang merasa kehilangan kendali. Minat terhadap kegiatan yang sebelumnya disukai pun bisa menghilang karena perhatian tersedot pada upaya mendapatkan uang untuk kembali bermain.

Keluarga sering menjadi pihak yang pertama merasakan perubahan itu. Percakapan berkurang, interaksi mengendur, dan seseorang lebih memilih menghabiskan waktu sendiri dengan gawainya.

Judi online, dengan demikian, bukan sekadar permainan di layar. Ia dapat mengubah cara seseorang menggunakan waktu, uang, dan perhatian—tiga hal yang jika sudah tersedot, tak mudah dikembalikan.

Karena itu, perubahan perilaku seperti terus mengejar kekalahan, gelisah ketika tidak bermain, mulai berutang, mengabaikan pekerjaan, atau menjauh dari keluarga layak menjadi tanda peringatan.

Jika perjudian sudah sulit dikendalikan dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang lebih masuk akal ketimbang terus berharap keberuntungan berikutnya datang dari layar. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *