Jejak KataSeni dan Hiburan

Kardinal Menggores, Pelukis Dwi Samuji Menyulam: Menyambung Goresan Iman

×

Kardinal Menggores, Pelukis Dwi Samuji Menyulam: Menyambung Goresan Iman

Sebarkan artikel ini
Pelukis Dwi Samuji

SENI — Sebuah goresan hijau menjadi awal perjalanan. Dari tangan Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, garis itu kemudian diteruskan pelukis Dwi Samuji. Dalam waktu 3–5 jam, goresan sederhana tersebut berubah menjadi lukisan yang sarat simbol iman, harapan, dan perdamaian.

Karya Continuum itu dihadirkan dalam pameran lukisan Dwi Samuji di Sedayu Golf, Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, Kamis, 17 September 2026. Dalam pameran bertajuk “Merawat Ciptaan Meneguhkan Iman” lukisan tersebut menjadi salah satu karya yang dilelang dalam pameran itu.

Sebanyak tiga lukisan terjual dengan nilai total Rp130 juta. Salah satunya adalah karya kolaborasi Dwi Samuji dan Kardinal Suharyo.

“Ini warna hijau goresan pertama Uskup Katedral Jakarta, saya teruskan sampai jadi lukisan. Saya dikasih waktu kurang lebih 3 sampai 5 jam,” ujar Dwi Samuji.

Ketika Goresan Menjadi Perjalanan

Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, menyapu kuasa di atas kanvas yang kemudian dilanjutkan menjadi lukisan oleh Dwi Samuji

Karya Continuum itu tidak bermula dari kanvas yang sepenuhnya kosong. Ia diawali oleh goresan pertama seorang pemimpin Gereja Katolik. Dwi kemudian mengambil alih perjalanan visual tersebut, mengembangkan garis awal menjadi komposisi yang utuh.

Di sana, lukisan tidak sekadar menjadi hasil kerja dua tangan. Ia juga menyimpan gagasan tentang kesinambungan: sesuatu yang dimulai oleh satu orang, lalu diteruskan oleh orang lain.

Satu goresan menjadi awal. Sisanya adalah tafsir. Gereja Katedral Jakarta ditempatkan sebagai pusat visual. Menara dan salib menjulang, membentuk garis vertikal yang mengarahkan pandangan ke atas.

Arsitektur gereja dalam lukisan itu bukan hanya latar bangunan. Ia menjadi simbol ruang penghayatan iman—tempat manusia menengadah, sekaligus mengingat batas dirinya.

Di atas Katedral, sapuan hijau membentuk lengkung menyerupai pelangi. Dalam tradisi liturgi Katolik, hijau berkaitan dengan Masa Biasa, yang kerap dimaknai sebagai lambang pertumbuhan dan perjalanan iman.

Dwi memperluas tafsir itu melalui lengkung hijau yang menaungi bangunan. Warna tersebut menjadi metafora harapan: kehidupan yang terus bergerak dan iman yang tidak selesai dalam satu peristiwa.

Merpati, Daun, dan Pesan Perdamaian

Dwi Samuji meneruskan sapuan kuas Sang Uskup

Simbol lain muncul melalui seekor merpati putih yang membawa daun hijau. Dalam tradisi kekristenan, merpati dikenal sebagai lambang Roh Kudus. Sementara daun yang dibawanya mengingatkan pada kisah Nuh dalam Kitab Kejadian, ketika daun menjadi tanda bahwa air bah telah surut dan kehidupan kembali menemukan harapan.

Simbol-simbol itu memberi lapisan makna pada lukisan. Katedral menjadi tempat iman berakar. Salib menghadirkan arah pengorbanan. Warna hijau menyiratkan pertumbuhan. Merpati membawa gagasan tentang damai dan pengharapan.

Lukisan tersebut tidak menyampaikan pesan melalui kalimat panjang. Ia mengandalkan bentuk, warna, dan simbol yang telah lama hidup dalam tradisi keagamaan.

Di situlah Continuum menemukan maknanya. Sebuah karya yang dimulai dari goresan pertama, lalu berkembang melalui tangan lain. Seperti iman yang diwariskan, ditafsirkan, dan diteruskan.

Dari Kardinal ke Kapolri

Kolaborasi Dwi Samuji dengan tokoh publik bukan kali pertama terjadi. Pada 2025, lukisan kolaborasi antara Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Dwi Samuji terjual Rp330 juta dalam lelang Indonesia Painting Exhibition (IPE) yang diselenggarakan NU Gallery.

Dua kolaborasi itu berlangsung dalam konteks yang berbeda. Namun, keduanya memperlihatkan bagaimana goresan seorang tokoh dapat menjadi bagian dari karya seni yang kemudian dikembangkan oleh pelukis.

Dalam Continuum, goresan pertama bukanlah akhir. Ia justru menjadi permulaan. Sebab dalam seni, sebagaimana dalam kehidupan, satu tangan dapat membuka jalan bagi tangan berikutnya. Dan terkadang, sebuah garis sederhana menyimpan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang tampak di atas kanvas. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *