Liputan

Ketika Sekcam Panongan Tinggalkan Bahasa Birokrasi, Bicara Niat dan Lisan

×

Ketika Sekcam Panongan Tinggalkan Bahasa Birokrasi, Bicara Niat dan Lisan

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Kecamatan Panongan, Rizky Rizani Fachri, saat memberikan sambutan pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Safari Silaturahmi Subuh Berjamaah (S3B), di di Masjid At Taqwa, Perumahan Mekar Asri 2, Panongan, Kabupaten Tangerang | Foto: Dok. Widi Hatmoko

JEJAK KATA, Tangerang — Subuh di Masjid At Taqwa, Perumahan Mekar Asri 2, Panongan, Minggu, 20 September 2026, bukan sekadar perkara sajadah dan doa. Sekretaris Kecamatan Panongan, Rizky Rizani Fachri, mengajak jamaah memeriksa sesuatu yang sering luput setelah ibadah: niat dan lisan.

Dalam sambutannya pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Safari Silaturahmi Subuh Berjamaah (S3B), Rizky tampil bak ustaz. Bahasa birokrasi ditinggalkan sejenak. Sebagai gantinya, ia menyodorkan humor yang menggelitik sekaligus nasihat yang menohok.

Menurut Rizky, amal yang dikerjakan demi pujian manusia hanya akan berujung pada pujian. Persoalannya, manusia kadang belum selesai mengurus niat sendiri, tetapi sudah sibuk mengaudit ibadah tetangga.

Ia mengilustrasikan tiga ibu yang baru pulang pengajian. Mereka membicarakan Bu Nur yang lupa bangun sehingga tidak melaksanakan salat Subuh. Dengan nada jenaka, ketiganya merasa lebih pantas masuk surga.

“Biarin aja dia masuk neraka. Kita masuk surga,” ujar Rizky, menirukan percakapan tersebut.

Di situlah lelucon berubah menjadi teguran. Rajin salat Subuh tidak otomatis memberikan kewenangan menentukan nasib akhirat orang lain. Soal surga dan neraka bukan wilayah administrasi RT, apalagi hasil musyawarah jamaah.

“Paling hakim adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala,” katanya.

Rizky mengingatkan jamaah agar tidak berhenti pada mengaji teks, tetapi juga mengaji hati. Sebab, hafal nasihat tentang gibah tidak menjamin lidah terbebas dari kebiasaan membicarakan orang.

Masjid Jangan Cuma Megah, Jamaahnya Mana?

Pesan berikutnya menyasar kemakmuran masjid. Rizky mengingatkan agar pembangunan masjid tidak berhenti pada kemegahan bangunan tanpa kehadiran jamaah.

“Jangan sampai nanti masjid banyak yang terbangun, merajalela yang bagus-bagus, tapi tidak ada penghuninya,” ujarnya.

Ia juga menyelipkan humor tentang bapak-bapak yang datang ke masjid ketika sedang menghadapi persoalan rumah tangga. Masjid, katanya, bisa menjadi tempat merenung dan menenangkan diri.

Bagi ibu-ibu, lelucon itu tentu punya daya tarik tersendiri. Sebab, jika suami lebih sering berada di masjid, setidaknya keberadaannya mudah diketahui. Namun, pesan utamanya bukan soal menyelamatkan rumah tangga melalui absensi masjid. Masjid semestinya menjadi ruang ibadah, silaturahmi, dan pembentukan karakter.

Di tengah kawasan Citra Raya yang dipenuhi tempat nongkrong, Rizky bahkan mengajak jamaah mempertimbangkan masjid sebagai ruang berkumpul.

“Banyak tempat-tempat untuk ngopi. Jangan. Lebih baik ngopinya di masjid,” katanya.

Candaan itu menyimpan pertanyaan yang lebih serius: apakah masjid telah menjadi pusat kehidupan warga, atau hanya ramai ketika azan memanggil?

Pada penutup sambutannya, Rizky mengajak jamaah meluruskan niat, menjaga lisan, mendoakan orang tua, dan mendidik anak-anak menjadi pribadi saleh dan salehah. Ia juga mengingatkan bahwa manusia tidak mengetahui kapan ajal datang.

Nasihat itu barangkali baru diuji setelah jamaah pulang. Ketika sandal dilepas, pintu rumah dibuka, dan percakapan kembali berlangsung.

Sebab, mudah merasa telah mengumpulkan pahala. Yang lebih sulit adalah menahan diri agar pahala itu tidak dijadikan alasan merendahkan sesama.

Rajinlah ke masjid. Tetapi jangan sampai setelah pulang, lisan justru sibuk membangun neraka untuk orang lain. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *