JEJAK KATA, Jakarta — Hari Pers Nasional atau HPN tak semestinya berhenti pada panggung, spanduk, dan seremoni tahunan. Di tengah banjir informasi digital, perayaan pers justru perlu menjadi ruang untuk bercermin: seberapa jauh media masih mampu menjaga independensi, kredibilitas, dan kualitas jurnalistik.
Pesan itu mengemuka dalam pertemuan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Akhmad Munir dengan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa di kantor PWI, Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis, 24 September 2026.
Teguh datang memenuhi undangan PWI bersama Ketua Harian JMSI Ari Rahman. Akhmad Munir didampingi Sekretaris Jenderal PWI Marthen Selamet Susanto, Wakil Sekjen PWI Kadirah, dan Ketua Bidang Pendidikan Agus Sudibyo.
Pertemuan itu membicarakan HPN 2027 yang akan berlangsung di Provinsi Lampung. Agenda tersebut juga akan dirangkaikan dengan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas). Karena 9 Februari 2027 diperkirakan bertepatan dengan bulan Ramadan, rangkaian HPN direncanakan berlangsung pada April 2027.
Bagi Teguh, dukungan JMSI bukan sekadar memasang nama di daftar peserta. Ia membawa pengalaman ketika memimpin Panitia HPN 2016 di Nusa Tenggara Barat. Saat itu, HPN diisi sejumlah kegiatan yang dirancang tidak biasa, termasuk pelayaran hampir 300 wartawan dari Dermaga Madura Ujung Surabaya menuju Lombok menggunakan KRI Makassar-590.
Di atas kapal, wartawan tidak hanya mengikuti seremoni. Ada seminar, salat Jumat, olahraga pernapasan, hingga lomba stand-up comedy. Business Forum juga mempertemukan insan pers dengan lebih dari 30 duta besar negara sahabat.
Pengalaman itu menjadi bekal yang ditawarkan Teguh untuk HPN 2027. Ia mendukung gagasan agar perhelatan pers nasional tersebut lebih terbuka dan melibatkan berbagai konstituen Dewan Pers.
“JMSI mendukung penuh penyelenggaraan HPN 2027. Saya yakin, HPN 2027 akan lebih hebat,” kata Teguh.
Akhmad Munir mengatakan HPN perlu melibatkan lebih banyak unsur pers. “Kami ingin agar HPN 2027 nanti bisa lebih inklusif dan melibatkan semua konstituen Dewan Pers,” ujarnya.
Agus Sudibyo menambahkan, semangat inklusivitas itu akan dimulai sejak perencanaan, penyusunan program hingga pelaksanaan. Kick off HPN 2027 dijadwalkan pada November 2026.
Di tengah industri media yang berhadapan dengan hoaks, informasi menyesatkan, dan tekanan ekonomi, HPN memiliki pekerjaan yang lebih besar ketimbang sekadar merayakan profesi. Ia menjadi kesempatan untuk menguji kembali mutu pers sekaligus memastikan profesionalisme berjalan beriringan dengan kesejahteraan pekerja media.
Setidaknya, itulah dukungan yang hendak dibawa JMSI: bukan sekadar hadir dalam seremoni, melainkan ikut mengisi gagasan. (*






