KULINER — Sejarah persatuan Indonesia tidak hanya bisa dikenang melalui teks ikrar, foto para pemuda berkemeja rapi, atau gedung tempat Kongres Pemuda II berlangsung pada 27–28 Oktober 1928. Ia juga bisa dirayakan lewat semangkuk soto, sepiring nasi Padang, atau papeda yang lengket di ujung sumpit.
Tentu saja, tak ada catatan sejarah yang memastikan gudeg, rendang, atau coto Makassar tersaji di meja kongres kala itu. Namun, makanan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali negeri yang diperjuangkan para pemuda: kepulauan dengan bahasa, adat, bahan pangan, dan tradisi dapur yang beragam.
Sumpah Pemuda lahir ketika identitas kedaerahan masih kuat melekat. Organisasi seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Jong Ambon, dan Jong Celebes menjadi ruang pertemuan anak-anak muda dari latar yang berbeda. Mereka datang membawa identitas masing-masing, tetapi perlahan merumuskan gagasan yang lebih besar: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.
Hampir seabad kemudian, semangat itu bisa dirayakan dengan cara sederhana. Mengenali makanan daerah bukan sekadar urusan lidah, melainkan juga cara membaca sejarah perjumpaan manusia, perdagangan, migrasi, dan kebudayaan.
Jong Java: Gudeg dan Sejarah Dapur Jawa
Pulau Jawa telah lama menjadi persimpangan perdagangan, kekuasaan, pertanian, dan pertukaran budaya. Dari pesisir utara hingga pedalaman, tradisi kulinernya berkembang mengikuti lingkungan, hasil bumi, serta kebiasaan masyarakat setempat.
Gudeg menjadi salah satu hidangan yang lekat dengan Yogyakarta. Makanan ini dibuat dari nangka muda yang dimasak perlahan bersama santan, gula, dan aneka bumbu. Proses memasaknya yang panjang menghasilkan warna kecokelatan dan rasa manis-gurih. Gudeg biasanya disajikan bersama nasi, krecek, telur, tahu, atau ayam.
Sejarah gudeg tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa. Namun, tidak ada satu tanggal atau tokoh yang dapat dipastikan sebagai pencipta pertama hidangan ini. Gudeg berkembang melalui tradisi rumah tangga dan usaha kuliner yang diwariskan lintas generasi.
Selain gudeg, Jawa memiliki ayam Kalasan dari Yogyakarta, pecel yang populer di sejumlah wilayah Jawa, karedok dari tradisi Sunda di Jawa Barat, serta rujak cingur yang identik dengan Surabaya. Setiap hidangan mempunyai karakter sendiri. Pecel mengandalkan sayuran dan sambal kacang, sedangkan karedok menggunakan sayuran mentah yang disiram bumbu kacang. Rujak cingur memadukan sayuran, buah, tahu, tempe, dan irisan moncong sapi dengan bumbu petis.
Keragaman tersebut mengingatkan bahwa Jawa bukanlah satu dapur dengan satu rasa. Di dalamnya ada tradisi kuliner yang berbeda-beda, sebagaimana para pemuda dari berbagai daerah di pulau itu yang bertemu dalam gerakan kebangsaan.
Salah satu tokoh penting Kongres Pemuda II adalah Soegondo Djojopoespito, yang berasal dari lingkungan Jong Java. Ia menjadi ketua kongres yang mempertemukan berbagai organisasi pemuda pada Oktober 1928.
Jong Batak: Mie Gomak dan Jejak Rempah dari Sumatera Utara
Beranjak ke Sumatera Utara, kita menemukan mie gomak, hidangan yang sering dikaitkan dengan tradisi kuliner masyarakat Batak Toba. Bentuk mi yang tebal membuatnya kerap dijuluki sebagai spageti Batak, meski sebutan itu lebih merupakan perbandingan populer daripada penjelasan sejarah asal-usulnya.
Mie gomak dapat disajikan berkuah ataupun digoreng. Pada sejumlah versi, bumbunya menggunakan andaliman, rempah yang menghasilkan sensasi getir dan sedikit kebas di lidah. Aroma khasnya membedakan masakan ini dari banyak hidangan mi lainnya di Indonesia.
Andaliman tumbuh di kawasan Sumatera Utara dan telah lama digunakan dalam masakan Batak. Rempah tersebut memperlihatkan bagaimana lingkungan alam ikut membentuk identitas rasa suatu masyarakat. Selain mie gomak, ada natinombur, yakni ikan yang dibakar atau dipanggang lalu disajikan dengan sambal berbumbu khas Batak. Ada pula arsik, olahan ikan yang terkenal menggunakan bumbu seperti andaliman dan kecombrang.
Tradisi kuliner Batak tidak bisa dilepaskan dari hubungan masyarakat dengan danau, sungai, ladang, serta hasil hutan. Bahan pangan lokal diolah menjadi makanan yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga hadir dalam pertemuan keluarga dan peristiwa adat.
Dalam sejarah pergerakan pemuda, nama Amir Sjarifuddin Harahap kerap dikaitkan dengan lingkungan Jong Batak. Ia kelak menjadi salah satu tokoh politik penting pada masa perjuangan kemerdekaan. Namun, organisasi pemuda dan identitas daerah tidak selalu dapat dipahami sebagai kelompok yang seragam; para anggotanya datang dari latar pendidikan, keluarga, dan pandangan politik yang beragam.
Mengenal mie gomak saat memperingati Sumpah Pemuda berarti memberi ruang bagi kekayaan tradisi Sumatera Utara dalam cerita kebangsaan yang lebih luas.
Jong Sumatranen Bond: Rendang dan Perjalanan Rasa Minangkabau
Mohammad Yamin merupakan salah satu tokoh pergerakan pemuda yang berasal dari Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia aktif dalam Jong Sumatranen Bond dan berperan dalam Kongres Pemuda II. Organisasi ini menghimpun pemuda dari berbagai wilayah Sumatra, sehingga cakupannya lebih luas daripada satu kelompok etnis atau satu tradisi kuliner.
Jika berbicara tentang Sumatera Barat, rendang hampir selalu masuk dalam percakapan. Hidangan berbahan daging sapi ini dimasak bersama santan dan campuran rempah dalam waktu panjang. Cairan santan berangsur menyusut, sementara bumbu meresap dan berubah menjadi lapisan pekat yang menyelimuti daging.
Rendang tumbuh dalam tradisi kuliner Minangkabau. Hidangan ini tidak hanya hadir sebagai lauk sehari-hari, tetapi juga mempunyai tempat dalam perjamuan adat dan acara penting. Ketahanannya ketika dimasak hingga kering turut menjadikannya cocok dibawa dalam perjalanan jauh. Meski demikian, asal-usul rendang tidak bisa disederhanakan menjadi satu peristiwa atau satu pencipta.
Dalam kebudayaan Minangkabau, makanan juga berkaitan dengan tradisi merantau. Para perantau membawa bahasa, kebiasaan, dan resep dari kampung halaman ke berbagai kota. Rumah makan Padang kemudian menjadi salah satu jalur yang memperkenalkan masakan Minangkabau kepada masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang.
Rendang kerap disebut sebagai salah satu makanan terenak di dunia setelah memperoleh pengakuan luas dalam jajak pendapat kuliner internasional. Namun, lebih penting daripada gelar tersebut adalah perjalanan panjang hidangan ini sebagai warisan budaya yang terus dipraktikkan dan ditafsirkan ulang oleh generasi berikutnya.
Selain rendang, Sumatera Barat memiliki sate Padang, dendeng balado, gulai tunjang, dan aneka hidangan berbumbu kuat. Kekayaan ini memperlihatkan bahwa identitas kuliner tidak berhenti pada satu menu terkenal.
Di meja peringatan Sumpah Pemuda, rendang menjadi pengingat bahwa sebuah tradisi lokal dapat melintasi batas geografis tanpa harus kehilangan jejak asalnya.
Jong Ambon: Papeda, Ikan Asar, dan Kehidupan Kepulauan
Dari Sumatera, perjalanan kuliner menuju Maluku. Di wilayah kepulauan ini, laut bukan sekadar pemandangan, melainkan bagian penting dari kehidupan, perdagangan, dan kebiasaan makan masyarakatnya.
Papeda merupakan makanan berbahan dasar sagu yang dikenal luas di Maluku dan Papua. Sagu diolah dengan air panas hingga menghasilkan tekstur kental, lengket, dan berwarna bening keputihan. Papeda biasanya disantap bersama kuah ikan berbumbu, sering kali menggunakan ikan kuah kuning.
Sagu telah lama menjadi sumber pangan penting bagi sejumlah masyarakat di Indonesia timur. Sebelum beras menjadi bahan pangan yang semakin dominan dalam banyak wilayah, pohon sagu menyediakan pati yang dapat diolah menjadi makanan pokok. Tradisi ini menunjukkan hubungan erat antara masyarakat dan lingkungan tempat mereka hidup.
Papeda bukan sekadar alternatif nasi. Cara mengolah dan menyantapnya mencerminkan pengetahuan lokal mengenai tanaman, pengolahan pangan, serta pemanfaatan hasil laut. Di meja makan, papeda lazim disandingkan dengan ikan yang dimasak bersama kunyit, serai, jahe, atau rempah lain sesuai tradisi setempat.
Ada pula ikan asar, ikan yang diasapi hingga menghasilkan aroma khas dan membantu pengawetan. Teknik pengasapan menjadi salah satu cara masyarakat pesisir mengolah hasil tangkapan. Sementara itu, colo-colo merupakan sambal segar yang lazim dibuat dari cabai, bawang merah, tomat, jeruk, dan bahan pelengkap lain. Rasanya segar dan pedas, cocok mendampingi ikan.
Tradisi kuliner Maluku berkembang di tengah sejarah panjang perdagangan rempah. Cengkih dan pala dari kawasan kepulauan ini pernah menjadi komoditas yang menarik pedagang dari berbagai penjuru dunia. Perdagangan tersebut membawa perjumpaan sekaligus konflik, perubahan kekuasaan, dan pengalaman kolonial yang membekas dalam sejarah Indonesia.
J. Leimena, tokoh yang berasal dari Ambon, dikenal dalam sejarah pergerakan nasional dan kemudian menjadi pejabat penting setelah kemerdekaan. Ia sering dikaitkan dengan lingkungan Jong Ambon. Kehadiran tokoh-tokoh dari Maluku dalam gerakan kebangsaan menunjukkan bahwa gagasan Indonesia tidak hanya dibentuk oleh pusat-pusat pergerakan di Jawa.
Papeda dan ikan asar bisa menjadi cara untuk mengenali wajah Indonesia yang dibangun dari pulau-pulau, jalur laut, dan tradisi yang tidak selalu sama dengan kebiasaan makan di wilayah barat Nusantara.
Jong Celebes: Coto Makassar dan Jejak Perdagangan Sulawesi
Sulawesi memiliki sejarah panjang sebagai kawasan pelayaran dan perdagangan. Letaknya yang strategis membuat wilayah ini terhubung dengan jaringan antarpulau, termasuk melalui pelabuhan Makassar yang sejak berabad-abad lalu menjadi titik pertemuan pedagang dan pelaut.
Dalam tradisi kuliner Sulawesi Selatan, coto Makassar menempati tempat penting. Hidangan berkuah ini dibuat dari daging sapi dan jeroan yang dimasak dengan bumbu kaya rempah. Kacang tanah yang dihaluskan menjadi salah satu unsur yang memberi kekentalan dan karakter pada kuahnya.
Coto Makassar lazim disantap bersama ketupat atau burasa, olahan beras yang dibungkus daun pisang. Kombinasi itu memperlihatkan bagaimana hidangan utama, bahan pangan, dan cara penyajian membentuk satu kesatuan dalam tradisi makan masyarakat.
Asal-usul coto Makassar tidak dapat dipastikan hanya melalui satu cerita populer. Namun, hidangan ini telah menjadi bagian penting identitas kuliner Makassar dan diwariskan melalui rumah tangga, warung, serta usaha makanan lintas generasi.
Selain coto, Sulawesi Selatan mengenal sop konro, yang menggunakan iga sapi dengan kuah berbumbu pekat, serta pisang epe, pisang yang dipanggang, dipipihkan, lalu disajikan dengan saus gula merah. Di Sulawesi Tengah dan kawasan sekitarnya, kapurung dikenal sebagai hidangan berbahan sagu yang dipadukan dengan sayuran dan ikan atau sumber protein lainnya.
Nama Jong Celebes merujuk pada organisasi pemuda yang mewakili kawasan Sulawesi, yang dahulu juga disebut Celebes. Namun, Sulawesi memiliki keragaman etnis dan tradisi kuliner yang luas, sehingga coto Makassar tidak mewakili seluruh makanan di pulau tersebut.
Dalam sejarah Kongres Pemuda II, sejumlah pemuda dari berbagai organisasi daerah ikut membangun ruang dialog yang melampaui batas asal-usul. Nama tokoh yang kerap disebut dalam kaitan dengan Jong Celebes antara lain A. K. Gani dalam sejumlah catatan pergerakan pemuda, tetapi afiliasi dan peran setiap tokoh perlu diperiksa berdasarkan sumber sejarah yang digunakan. Karena itu, penyebutan nama tokoh tidak sebaiknya hanya mengandalkan daftar populer tanpa verifikasi.
Sepiring coto Makassar pada peringatan Sumpah Pemuda bisa menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju Indonesia juga berlangsung melalui jalur perdagangan, pelabuhan, dan perjumpaan budaya di luar Jawa.
Dari Ikrar ke Meja Makan
Kongres Pemuda II berlangsung pada 27–28 Oktober 1928. Pertemuan tersebut mempertemukan berbagai organisasi pemuda dan menghasilkan ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Rumusannya menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan: Indonesia.
Peristiwa itu tidak serta-merta menghapus perbedaan daerah. Para pemuda justru merumuskan persatuan dengan membawa pengalaman dan identitas yang telah mereka miliki. Bahasa, kebudayaan, serta asal-usul tidak harus diseragamkan agar sebuah bangsa dapat terbentuk.
Begitu pula dengan makanan. Gudeg tidak harus berubah menjadi rendang. Papeda tidak perlu menyerupai coto Makassar. Masing-masing memiliki bahan, teknik memasak, dan sejarah yang tumbuh dari lingkungan berbeda. Keragaman itu justru menjadi alasan untuk saling mengenal.
Merayakan Sumpah Pemuda melalui kuliner dapat dilakukan dengan menyajikan beberapa makanan daerah dalam satu meja, mencoba resep keluarga dari wilayah lain, atau mengenalkan cerita di balik bahan pangan lokal kepada anak-anak. Kegiatan sederhana tersebut bisa menjadi kesempatan untuk membicarakan sejarah, bahasa, dan kebudayaan tanpa menjadikannya pelajaran yang terasa jauh.
Namun, menghargai kuliner daerah juga berarti menghormati masyarakat yang merawatnya. Sejarah makanan tidak sepatutnya dipotong menjadi klaim asal-usul yang serba pasti, apalagi dijadikan perlombaan untuk menentukan daerah mana yang paling unggul. Banyak hidangan berkembang melalui pertukaran antarmasyarakat dan mengalami perubahan dari generasi ke generasi.
Pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukan ajakan untuk menghapus perbedaan, melainkan untuk menemukan tujuan bersama di tengah perbedaan itu. Di atas meja makan, prinsip tersebut terasa sederhana: setiap hidangan boleh memiliki rasa dan cerita sendiri, tetapi semuanya dapat hadir berdampingan.
Sebab, persatuan tidak selalu harus dimulai dari podium. Kadang-kadang, ia tumbuh ketika seseorang bersedia mencicipi makanan dari daerah lain, mendengarkan ceritanya, dan menyadari bahwa Indonesia jauh lebih luas daripada dapurnya sendiri. (*







