HISTORI — Siapa sangka, bambu yang tumbuh di pekarangan kampung di wilayah Tangerang pernah menjadi bagian dari perdagangan dunia? Dari tangan-tangan pengrajin sederhana, anyaman bambu menjelma topi yang diminati pasar Eropa dan Amerika. Sebuah perjalanan panjang tentang bagaimana keterampilan lokal mampu menembus batas negara.
Kisahnya bermula pada abad ke-19. Seorang saudagar asal Cina yang datang dari Manila, Filipina, dikisahkan tertarik melihat melimpahnya bambu dan serat pandan di Tangerang. Niat awalnya memperluas perdagangan justru berubah. Ia memilih menetap dan memperkenalkan keterampilan membuat topi berbahan bambu kepada masyarakat setempat.
Dari sana, kerajinan tumbuh menjadi industri rumah tangga. Hampir seluruh anggota keluarga terlibat, mulai dari perempuan dewasa hingga anak-anak. Bambu yang semula menjadi tanaman biasa berubah menjadi sumber penghidupan.
Sejak 1887, topi bambu Tangerang mulai diperdagangkan ke luar negeri. Prancis, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa menjadi pasar yang mengenal produk anyaman tersebut. Pada masa Hindia Belanda, topi bambu buatan pengrajin Tangerang bahkan digunakan sebagai bagian dari atribut seragam tentara KNIL.
Perjalanan itu memperlihatkan satu hal: produk lokal tidak selalu membutuhkan teknologi rumit untuk dikenal dunia. Keterampilan, ketekunan, dan kekayaan bahan alam bisa menjadi kekuatan ekonomi.
Kejayaan tersebut kemudian melekat dalam identitas daerah. Topi bambu diabadikan sebagai salah satu lambang Kabupaten Tangerang.
Hingga kini, jejak keterampilan itu masih ditemukan, salah satunya melalui kerajinan peci anyaman bambu di Desa Ancol Pasir, Kecamatan Jambe.
Namun, sejarah mendunia saja tidak cukup untuk menjamin masa depan. Tantangannya adalah menghidupkan kembali nilai ekonomi kerajinan tersebut agar tidak sekadar menjadi cerita kejayaan masa lalu.
Sebab, topi bambu Tangerang pernah membuktikan bahwa karya dari kampung pun bisa dikenal dunia. Kini, pekerjaan berikutnya adalah membuatnya kembali bernilai bagi generasi penerus. (*






