JEJAK KATA, Tangerang – Musim kemarau punya cara sendiri menguji kewaspadaan. Rumput yang menguning, tumpukan sampah yang mengering, hingga lahan kosong yang tampak sepi bisa berubah menjadi “bahan bakar” hanya karena satu percikan api. Dalam situasi seperti ini, bukan hanya petugas pemadam kebakaran yang dituntut siaga, tetapi juga para ketua RT dan RW.
Pemerintah Kota Tangerang memilih memperkuat barisan paling depan di lingkungan permukiman. Memasuki puncak musim kemarau, seluruh RT dan RW diinstruksikan untuk mengintensifkan patroli lingkungan sebagai langkah antisipasi meningkatnya risiko kebakaran akibat cuaca panas dan minimnya curah hujan.
Tugas baru itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di musim ketika matahari seperti enggan berkompromi, berjalan menyusuri gang, memantau lahan kosong, atau memastikan tak ada asap mencurigakan bisa menjadi perbedaan antara kebakaran kecil yang cepat dipadamkan dan kobaran api yang meluas ke permukiman.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang, Mahdiar, mengatakan patroli lingkungan merupakan upaya pencegahan agar potensi kebakaran dapat diketahui sejak dini.
“Musim kemarau menyebabkan vegetasi dan lahan menjadi lebih kering, sehingga sangat mudah terbakar. Karena itu, kami menginstruksikan RT dan RW untuk lebih aktif melakukan patroli lingkungan, terutama di lokasi yang memiliki potensi kebakaran seperti lahan kosong, semak belukar, maupun area yang terdapat tumpukan sampah,” ujarnya.
Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran yang terjadi di Kota Tangerang lebih banyak dipicu oleh alang-alang kering, lahan kosong, dan tumpukan sampah. Kombinasi cuaca panas dan embusan angin membuat api dapat merambat lebih cepat dibanding biasanya.
Ironisnya, musuh terbesar saat kemarau sering kali bukan hanya terik matahari, melainkan kebiasaan yang dianggap sepele. Puntung rokok yang masih menyala, sampah yang sengaja dibakar, atau bara kecil yang ditinggalkan tanpa pengawasan dapat berubah menjadi persoalan besar. Api memang tak pernah memilih apa yang akan dilahapnya.
Karena itu, BPBD juga meminta RT dan RW terus mengingatkan warga agar tidak membakar sampah maupun membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan yang dipenuhi rumput kering. Edukasi dinilai menjadi bagian penting dari upaya menekan risiko kebakaran.
Mahdiar juga mengimbau masyarakat segera melapor apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Semakin cepat dilaporkan, semakin cepat petugas dapat melakukan penanganan sehingga kebakaran tidak meluas,” katanya.
Pada akhirnya, musim kemarau bukan sekadar tentang langit yang jarang menurunkan hujan. Ia juga menjadi ujian bagi kedisiplinan dan kepedulian bersama. Ketika warga, pengurus lingkungan, dan pemerintah bergerak dalam irama yang sama, peluang api untuk membesar menjadi semakin kecil.
Sebab, mencegah kebakaran selalu lebih murah daripada memadamkannya. Dan terkadang, penyelamat pertama sebuah lingkungan bukanlah mobil pemadam yang meraung di jalan, melainkan mata yang jeli melihat kepulan asap sebelum semuanya terlambat. (*






