JEJAK KATA, Tangerang—Aroma kopi hangat menyambut pengunjung ketika pintu Bisa Cafe terbuka. Di meja, kuliner Nusantara tersaji. Di baliknya, para pelayan bergerak melayani pesanan.
Sekilas, tidak ada yang berbeda dari sebuah kafe. Namun jika diperhatikan lebih lama, tempat ini sedang menghidangkan sesuatu yang lebih besar daripada makanan dan minuman: kesempatan.
Bisa Cafe di salah satu sudut Kota Tangerang, merupakan bagian dari Precious One atau Yayasan Karya Insan Sejahtera, lembaga yang telah lebih dari dua dekade bergerak dalam pemberdayaan penyandang disabilitas.
Kafe ini menjadi ruang perjumpaan. Bukan sekadar tempat masyarakat datang untuk makan, tetapi tempat penyandang disabilitas bekerja, berinteraksi dan menunjukkan kemampuan mereka.
Partnership and Impact Development Bisa Cafe, Rosalyna, mengatakan bahwa gagasan kafe tersebut berangkat dari kebutuhan menciptakan ruang interaksi yang lebih luas.
Selama ini, kata dia, penyandang disabilitas telah menghasilkan beragam karya. Namun kesempatan untuk bertemu langsung dengan masyarakat masih terbatas.
“Karena itu kami membuka Bisa Cafe agar pengunjung bisa melihat langsung bagaimana mereka bekerja secara profesional,” ujarnya.

Bukan Belas Kasihan
Di dapur, meja pelayanan, area kasir hingga bar kopi, sejumlah penyandang disabilitas menjalankan perannya sebagai staf. Mereka direkrut secara profesional seperti pekerja pada umumnya. Kompetensi menjadi bagian penting dari pekerjaan—bukan rasa iba.
Di sinilah Bisa Cafe mencoba mengubah cara pandang. Penyandang disabilitas tidak ditempatkan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai pekerja yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berkembang.
Gagasan itu sejalan dengan tiga pilar yang diusung kafe tersebut: pemberdayaan, edukasi dan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui pemberdayaan, mereka memperoleh ruang bekerja. Melalui edukasi, masyarakat diajak mengenal dunia disabilitas lebih dekat. Sementara kepedulian lingkungan diwujudkan antara lain melalui pemanfaatan sampah organik menjadi kompos dan penggunaan hasil kebun sendiri sebagai bahan makanan.
Barangkali, inilah cara sebuah kafe berbicara tentang keberlanjutan tanpa harus memasang terlalu banyak slogan di dinding.

Ketika Kopi Menjadi Ruang Pertemuan
Sebagian besar menu disiapkan segar setiap hari dengan mengutamakan bahan lokal. Hidangan Nusantara menjadi bagian dari pengalaman bersantap.
Meja-meja di kafe ini juga membawa cerita lain. Ada kerajinan tangan karya penyandang disabilitas berupa aksesori dan suvenir. Ada lukisan yang dipajang seperti galeri kecil. Ada pula layanan pijat oleh terapis tunanetra. Dengan begitu, pengunjung tidak hanya membeli secangkir kopi atau sepiring makanan. Mereka berjumpa dengan karya.
Kualitas, Bukan Rasa Kasihan
Rosalyna menegaskan, tujuan utama Bisa Cafe bukan membuat orang datang karena kasihan. Justru sebaliknya.
“Masyarakat datang bukan karena kasihan, tetapi karena percaya pada kualitas produk dan pelayanan,” katanya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi dunia pemberdayaan penyandang disabilitas, ia menyimpan pesan penting. Kesetaraan bukan berarti memberikan perlakuan khusus tanpa batas. Kesetaraan berarti memberikan kesempatan untuk membuktikan kemampuan.
Ketika seorang barista menyajikan kopi dengan baik, seorang pelayan memberikan pelayanan dengan ramah, atau seorang pekerja menghasilkan kerajinan yang diminati, yang seharusnya dinilai adalah kualitas pekerjaannya. Bukan kondisi fisiknya. Di situlah secangkir kopi memperoleh makna lain.
Ia tidak lagi sekadar minuman yang menghangatkan pagi atau menemani percakapan. Ia menjadi bagian dari sebuah ekosistem kecil yang mempertemukan pekerjaan, kemandirian dan penghargaan terhadap manusia.
Bisa Cafe mungkin tidak sedang mengubah dunia dalam satu hari. Tetapi dari sebuah kafe, ada pesan yang terus disajikan bersama makanan dan minuman: setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk bekerja, berkarya dan dihargai karena kemampuannya.
Dan mungkin, perubahan cara pandang memang tidak selalu dimulai dari pidato besar. Kadang cukup dari sebuah meja, secangkir kopi, dan keberanian untuk melihat seseorang bukan dari keterbatasannya, melainkan dari apa yang mampu dikerjakannya.(*






