JEJAK KATA, Tangerang — Ruang Audio Visual perpustakaan Kabupaten Tangerang mendadak berubah menjadi panggung. Selasa, 11 Agustus 2026, suara anak-anak bergantian memainkan peran. Ada yang bertutur dengan suara lantang, ada yang menahan gugup, ada pula yang membuat cerita seolah hidup di hadapan para juri.
Mereka bukan sedang sekadar menghafal cerita. Anak-anak sekolah dasar itu tertantang meramu bagaimana sebuah kisah disampaikan: kapan suara harus meninggi, kapan harus melambat, bagaimana ekspresi wajah mengikuti alur, dan yang tak kalah penting, bagaimana berani berbicara di depan orang lain.
Itulah suasana Lomba Bertutur Tingkat SD-MI dan SMP-MTs yang kembali digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip (DPA) Kabupaten Tangerang. Kegiatan berlangsung pada Selasa, 11 Agustus dan Kamis, 13 Agustus 2026.
Sekretaris DPA Kabupaten Tangerang, R. Dicky Burhanuddin, membuka kegiatan tersebut. Ia mengatakan bahwa lomba bertutur bukan sekadar kompetisi untuk menentukan siapa yang paling baik bercerita.
“Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat dan budaya baca pada anak-anak sekolah dasar melalui kegiatan yang menyenangkan dan kreatif,” kata Dicky dalam sambutannya.
Menurut dia, kemampuan membaca seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengenali kata dan memahami kalimat. Literasi juga perlu memberi ruang kepada anak untuk mengolah apa yang dibacanya menjadi gagasan, kemudian menyampaikannya dengan percaya diri.
Karena itu, lomba bertutur menjadi salah satu cara melatih kemampuan komunikasi anak. Peserta dituntut menguasai bahasa, intonasi, ekspresi, sekaligus membangun kepercayaan diri ketika berhadapan dengan penonton dan juri. Cerita yang dibawakan pun bukan sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat sejarah, cerita rakyat, kearifan lokal, dan nilai-nilai kehidupan yang dapat dikenalkan kepada generasi muda.

Dicky mengatakan kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak sekaligus memperkenalkan serta melestarikan cerita dan budaya daerah.
“Selain itu juga mendorong peran perpustakaan sebagai ruang pengembangan kreativitas, bukan sekadar tempat membaca atau menyimpan buku,” ujarnya.
Pernyataan itu terasa relevan di tengah suasana perlombaan. Buku yang biasanya diam di rak seakan mendapatkan kehidupan kedua melalui suara para peserta. Cerita yang tertulis di halaman berubah menjadi tokoh, konflik, dialog, dan pesan moral ketika disampaikan di atas panggung.
Dari sana, anak-anak tidak hanya belajar bercerita. Mereka belajar mendengar, memahami, mengolah informasi, kemudian menyampaikannya kembali kepada orang lain.
Lomba ini juga menjadi agenda tahunan DPA Kabupaten Tangerang untuk menemukan peserta potensial yang dapat mewakili daerah dalam lomba bertutur tingkat provinsi maupun jenjang berikutnya.
Pada kategori SD-MI tahun ini, Khaliqa Alesha Putri Rayuni dari SDS Dewi Kunti 1 meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Cinta Shaiha Almashira Zein dari SDIT Al Fatih 1 CitraRaya. Sedangkan juara ketiga diraih Yumna Kejora Ayunidya dari SDN Sukaasih 1.
Seluruh peserta tampil menghibur. Namun, di balik persaingan memperebutkan piala, ada pelajaran yang lebih panjang: keberanian untuk berdiri, membuka suara, dan membuat orang lain mau mendengarkan.
Di ruang perpustakaan itu, literasi tidak lagi sekadar perkara buku yang dibaca dalam diam. Ia menjelma menjadi suara anak-anak yang berusaha menghidupkan kembali cerita—dan menemukan keberanian dalam dirinya sendiri. (*






