EsaiJejak Kata

Ketika Sportivitas Tersesat di Lapangan Pekan Olahraga Pegawai

×

Ketika Sportivitas Tersesat di Lapangan Pekan Olahraga Pegawai

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

OPINI – Ada ironi kecil di Stadion Mini Solear pada Jumat, 14 Agustus 2026. Di tempat para pegawai berlomba membawa nama institusinya, pertandingan sepak bola justru sempat diwarnai ketegangan antarpemain. Lebih ironis lagi, tim yang terlibat adalah jajaran Polresta Tangerang dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang. Institusi yang setiap hari diajarkan dan mengajarkan disiplin, pengendalian diri, dan kepatuhan terhadap aturan.

Kedua tin imi dipertemukan dalam Pekan Olahraga antar Pegawai (POP). Laga semifinal tersebut berakhir 1-0 untuk Polresta Tangerang. Namun, skor pertandingan justru terasa seperti bagian paling sederhana dari cerita.

Persoalannya adalah bagaimana orang-orang yang terbiasa bekerja dengan aturan menyikapi aturan ketika berada di lapangan olahraga.

Kontak fisik dalam sepak bola memang bukan perkara aneh. Tackle, benturan, bahkan protes kepada wasit merupakan bagian dari dinamika pertandingan. Tetapi olahraga memiliki garis yang jelas: kompetisi boleh keras, sportivitas tidak boleh hilang.

Menurut Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Indra Waspada, ketegangan bermula dari tackle pemain DLHK terhadap pemain Polresta Tangerang. Situasi kemudian memicu emosi sesaat. Namun persoalan itu disebut segera dilerai dan tidak berkembang ke luar lapangan.

Plt Kasipropam Polresta Tangerang, Ipda Irfan Fauzi, juga menegaskan pertandingan tetap dilanjutkan hingga selesai. Kedua tim kemudian saling bersalaman dan sepakat berdamai.

Penjelasan itu patut dihargai. Tidak semua ketegangan harus berakhir dengan hukuman. Tidak setiap benturan dalam pertandingan layak diperlakukan sebagai pelanggaran disiplin. Apalagi kedua pihak telah memilih menyelesaikan persoalan dan pertandingan dapat kembali berlangsung.

Tetapi ada pertanyaan yang tetap layak diajukan: apakah berdamai otomatis berarti persoalan selesai? Jawabannya tidak selalu!

Kapolresta Tangerang menyatakan tidak ada petugas yang dipanggil ataupun dikenai sanksi karena situasi telah kondusif dan kedua tim sepakat berdamai. Secara administratif, keputusan itu mungkin dapat dipahami. Namun dari perspektif pendidikan disiplin, perkara ini semestinya tidak berhenti pada ada atau tidak adanya sanksi.

Sebab seorang aparat bukan hanya dituntut mampu menegakkan aturan kepada orang lain. Ia juga dituntut mampu mengendalikan diri ketika aturan itu sedang menguji dirinya sendiri.

Di sinilah olahraga menjadi lebih penting daripada sekadar pertandingan memperebutkan tiket final.

Pekan Olahraga antar Pegawai semestinya menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, kesehatan, solidaritas, dan keteladanan. Apalagi pertandingan berlangsung menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kemerdekaan tidak cukup dirayakan dengan upacara, bendera, lomba, atau pertandingan olahraga. Mengisi kemerdekaan juga berarti belajar menghormati aturan ketika tidak ada yang memaksa kita untuk mematuhinya.

Di lapangan sepak bola, godaan itu sederhana: menang ingin dipertahankan, kalah sulit diterima, emosi mudah tersulut. Justru dalam keadaan seperti itulah karakter diuji.

Ironis jika pegawai yang sehari-hari dilatih disiplin justru memberikan contoh bahwa disiplin bisa berhenti ketika peluit pertandingan berbunyi.

Tentu tidak adil pula jika satu insiden sesaat kemudian dijadikan ukuran untuk menilai keseluruhan profesionalitas sebuah institusi. Polisi maupun pegawai DLHK tetap manusia yang dapat terpancing emosi. Karena itu, penjelasan bahwa situasi hanya berlangsung sesaat dan telah diselesaikan secara damai juga perlu ditempatkan secara proporsional.

Namun perdamaian bukan berarti pelajaran harus dibuang.

Jika tidak ada sanksi, setidaknya harus ada evaluasi. Jika tidak ada pemeriksaan, setidaknya ada pengingat. Dan jika persoalan dianggap selesai, semestinya penyelesaiannya meninggalkan kesadaran bahwa sportivitas bukan sekadar slogan yang dicetak di spanduk turnamen.

Kita sering menganggap persoalan disiplin hanya berkaitan dengan hukuman. Padahal disiplin yang matang justru terlihat ketika seseorang mampu menahan diri sebelum hukuman diperlukan.

Sepak bola mengajarkan bahwa kemenangan hanyalah hasil akhir. Cara seseorang mengejar kemenangan jauh lebih penting.

Maka, menjelang 17 Agustus, barangkali ada pelajaran kecil dari Stadion Mini Solear. Kemerdekaan bukan hanya soal bebas bertanding, bebas bersaing, atau bebas merayakan kemenangan.Kemerdekaan juga berarti bebas dari ego yang membuat kita lupa bahwa di lapangan, di kantor, dan di ruang publik, ada aturan yang harus dihormati.

Jika aparat yang setiap hari mengajarkan disiplin kepada masyarakat gagal menunjukkan sportivitas di lapangan, yang tersesat bukan hanya bola. Bisa jadi, untuk sesaat, kesadaran tentang makna disiplin ikut keluar lapangan. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *