OPINI — Setiap 17 Agustus, batang pinang kembali berdiri. Licin, tinggi, dan penuh hadiah di pucuknya. Di bawahnya, orang-orang berkumpul. Ada yang tertawa, ada yang berteriak memberi semangat. Beberapa orang membentuk piramida manusia. Satu demi satu tubuh menjadi pijakan bagi tubuh yang lain.
Ketika satu peserta hampir mencapai puncak, sorak-sorai biasanya pecah.
Tetapi barangkali ada baiknya kita berhenti sejenak sebelum ikut tertawa. Sebab di balik permainan yang tampak sederhana itu tersimpan perjalanan sejarah yang panjang. Panjat pinang yang hari ini dianggap sebagai hiburan khas perayaan kemerdekaan memiliki jejak pada masa kolonial Belanda.
Dalam sejumlah catatan, permainan memanjat tiang itu dikenal sebagai de klimmast. Ia pernah hadir dalam berbagai perayaan pada masa Hindia Belanda, termasuk perayaan Koninginnedag. Pesertanya terutama pribumi, sementara hadiah digantung di puncak tiang.
Kita tidak perlu tergesa-gesa menyebut seluruh sejarah itu sebagai kisah tentang penjajah yang sengaja menertawakan penderitaan rakyat. Sejarah sering lebih rumit daripada cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Namun satu hal sulit diabaikan: permainan itu lahir dalam masyarakat kolonial yang bertingkat-tingkat, ketika akses terhadap barang, kekuasaan, dan kesejahteraan tidak terbagi secara setara.
Di sanalah ironi panjat pinang bermula. Barang yang digantung di atas tiang—makanan, pakaian, atau benda yang pada masa itu bernilai tinggi bagi sebagian pribumi—menjadi hadiah yang harus direbut dengan tenaga. Mereka yang berada di bawah berjuang mencapai sesuatu yang berada di atas.
Bukankah gambaran itu akrab dalam sejarah manusia?
Yang memiliki berada di atas. Yang membutuhkan berada di bawah. Yang menguasai menentukan permainan. Yang dikuasai berjuang mengikuti aturan.
Namun sejarah tidak selalu berhenti pada makna awalnya. Setelah Indonesia merdeka, masyarakat mengambil permainan itu dan memberinya tafsir baru. Batang pinang yang dulu hadir dalam pesta kolonial berubah menjadi salah satu simbol perayaan kemerdekaan. Permainan yang pernah berada dalam ruang sosial kolonial di-indonesiakan menjadi tontonan rakyat. Maknanya bergeser: dari sekadar hiburan menjadi gambaran tentang perjuangan, gotong royong, persatuan, dan pantang menyerah.
Di sinilah sebuah bangsa sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang menarik terhadap sejarahnya. Ia tidak selalu membuang masa lalu. Ia mengambilnya, membongkarnya, lalu memberinya makna baru.
Dari penderitaan menjadi pelajaran
Panjat pinang mengajarkan satu hal yang sering dilupakan manusia modern: tidak semua puncak dapat dicapai dengan kekuatan sendiri.
Lihatlah mereka yang berada di bawah. Mereka mungkin tidak akan memperoleh hadiah. Nama mereka barangkali tidak disebut ketika peserta terakhir mencapai puncak. Tetapi tanpa pundak mereka, tidak akan ada orang yang sampai ke atas.
Dalam bahasa Jawa ada istilah sangga—menyangga, menopang. Ada pula guyub, keadaan ketika orang-orang berkumpul dalam kebersamaan. Dua kata itu barangkali lebih menjelaskan filosofi panjat pinang daripada hadiah yang bergelantungan di pucuk tiang.
Sebab dalam kehidupan, orang yang paling berjasa tidak selalu menjadi orang yang paling terlihat. Ada orang yang berdiri di bawah agar orang lain bisa berdiri lebih tinggi. Begitulah kemerdekaan.
Ia tidak lahir dari satu orang. Ia tidak dibangun oleh satu kelompok. Ia adalah hasil dari begitu banyak manusia yang menjadi sangga bagi cita-cita bersama.
Karena itu, ketika peserta paling atas gagal dan jatuh kembali ke bawah, permainan belum selesai. Mereka menyusun tubuh lagi. Mengatur posisi lagi. Mencoba lagi.
Ora gampang munggah. Tidak mudah untuk naik. Ungkapan sederhana itu dapat menjadi filsafat hidup bangsa.
Kemerdekaan memang diperoleh pada 1945, tetapi mencapai tujuan kemerdekaan adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Puncak bukan milik satu orang
Ada kesalahan cara pandang ketika keberhasilan selalu diukur dari siapa yang mencapai puncak.
Dalam panjat pinang, orang yang berada paling atas memang terlihat sebagai pemenang. Tetapi kemenangan sesungguhnya adalah kemenangan kelompok. Hadiah yang diambil bukan milik satu tubuh yang memanjat. Ia milik semua orang yang membantu.
Ini berbeda dengan logika kehidupan modern yang kadang terlalu memuja pemenang. Mereka yang berada di puncak mendapat sorotan, sementara orang-orang yang menopangnya perlahan dilupakan.
Panjat pinang mengingatkan bahwa puncak tanpa penopang adalah kemustahilan. Sak dhuwur-dhuwuré wit, oyoté tetep ana ing ngisor. Setinggi apa pun pohon, akarnya tetap berada di bawah.
Begitu pula manusia. Semakin tinggi kedudukannya, semakin ia seharusnya mengingat siapa yang membuatnya dapat berdiri.
Batang yang licin dan bangsa yang tidak pernah selesai
Batang pinang sengaja dibuat licin. Itulah rintangannya.
Peserta sudah tahu bahwa jalan menuju puncak tidak mudah. Mereka juga tahu bahwa jatuh mungkin terjadi. Tetapi mereka tetap mencoba. Di sini panjat pinang menemukan makna filosofis yang lebih luas.
Hidup sebuah bangsa pun demikian. Kemiskinan adalah batang licin. Ketidakadilan adalah batang licin. Korupsi adalah batang licin. Kebodohan adalah batang licin. Kesenjangan adalah batang licin.
Pendidikan yang belum merata, pelayanan publik yang buruk, hukum yang belum sepenuhnya memberikan rasa keadilan—semuanya menjadi bagian dari tiang panjang yang harus dipanjat.
Pertanyaannya bukan apakah bangsa ini pernah jatuh. Tentu pernah. Pertanyaannya adalah apakah setelah jatuh kita mau menyusun kembali barisan.
Di sinilah makna pantang menyerah memperoleh tempatnya. Bukan keras kepala. Bukan pula mengulang kesalahan yang sama tanpa belajar. Pantang menyerah berarti jatuh, membaca kegagalan, memperbaiki cara, kemudian mencoba kembali.
Ora ilok nyerah sadurunge perang rampung. Tidak baik menyerah sebelum perjuangan selesai.
Jangan sampai kemerdekaan hanya menjadi tontonan
Ada ironi lain yang mungkin lebih penting.
Dahulu, pribumi berada di bawah dan orang-orang kolonial berada di luar permainan. Kini kita semua mengaku sebagai bangsa merdeka. Tetapi apakah kita sudah benar-benar menjadi masyarakat yang saling menopang? Ataukah kita hanya mengganti penontonnya?
Pertanyaan itu layak diajukan setiap kali panjat pinang digelar.
Jangan sampai gotong royong hanya hidup selama perlombaan berlangsung. Jangan sampai persatuan hanya terdengar ketika lagu kebangsaan dinyanyikan. Jangan sampai semangat perjuangan hanya muncul ketika hadiah digantung di puncak tiang.
Sebab kemerdekaan bukan sekadar kemampuan mengibarkan bendera.
Kemerdekaan adalah kemampuan memastikan manusia di bawah tidak selamanya berada di bawah.
Orang miskin tidak boleh terus dipaksa menjadi penonton bagi kemewahan orang lain. Anak-anak dari keluarga kurang mampu harus memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai pendidikan terbaik. Petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, dan pekerja informal harus memperoleh ruang yang layak dalam kehidupan ekonomi.
Kalau tidak, kita hanya memindahkan bentuk tiang kolonial ke zaman baru.
Bedanya, sekarang tiangnya mungkin tidak terbuat dari batang pinang. Ia bisa berupa birokrasi. Bisa berupa ketimpangan ekonomi. Bisa berupa akses pendidikan. Bisa berupa hukum yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
Makna kemerdekaan ada pada mereka yang menopang
Barangkali itulah alasan panjat pinang tetap bertahan. Bukan karena kita senang melihat orang jatuh. Bukan pula karena hadiah di atas tiang begitu menarik. Melainkan karena permainan itu, sadar atau tidak, menyimpan cermin kecil tentang bangsa ini.
Kita melihat manusia saling menopang. Kita melihat seseorang rela menjadi pijakan agar orang lain mencapai tujuan. Kita melihat kegagalan tidak langsung menjadi alasan untuk berhenti. Dan kita melihat bahwa hadiah di puncak pada akhirnya bukan untuk satu orang.
Itulah gotong royong dalam bentuk yang paling sederhana. Dalam filosofi Jawa ada ungkapan urip iku urup—hidup itu semestinya memberi nyala bagi kehidupan lain. Barangkali orang yang berada di bawah dalam panjat pinang sedang menjalankan filsafat itu tanpa pernah mengucapkannya. Ia mungkin tidak mencapai puncak. Tetapi ia membuat orang lain bisa sampai.
Bukankah banyak pahlawan dalam sejarah juga demikian?
Nama mereka mungkin tidak tercetak di buku sejarah. Tidak ada patung untuk mereka. Tidak ada jalan yang memakai nama mereka. Tetapi bangsa ini berdiri di atas pengorbanan mereka.
Karena itu, pada setiap 17 Agustus, ketika orang-orang kembali memanjat batang pinang, kita sebenarnya sedang menyaksikan sesuatu yang lebih tua daripada sebuah permainan. Kita sedang melihat metafora tentang manusia. Tentang perjuangan. Tentang kesetaraan. Tentang pengorbanan. Tentang kegagalan. Tentang harapan. Dan tentang sebuah bangsa yang tidak pernah benar-benar selesai mencapai puncaknya.
Jika dahulu panjat pinang mungkin pernah menjadi bagian dari tontonan dalam masyarakat kolonial, setelah kemerdekaan kita telah mengubah cara memandangnya. Masa lalu tidak harus disembah, tetapi juga tidak harus dihapus. Ia perlu dibaca. Dipelajari. Kemudian diberi makna baru. Sebab bangsa yang matang bukan bangsa yang tidak memiliki sejarah kelam. Bangsa yang matang adalah bangsa yang mampu mengubah luka sejarah menjadi pelajaran.
Maka jangan hanya bertanya siapa yang mendapatkan hadiah di puncak. Lihatlah siapa yang menjadi pijakan. Sebab sering kali, yang membuat seseorang sampai ke puncak justru mereka yang tidak pernah terlihat dari atas.
Dan mungkin di situlah makna kemerdekaan yang paling dalam: bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri, melainkan tentang apakah mereka yang berada di bawah masih bersedia saling menopang agar semua orang dapat naik bersama.
Mikul dhuwur, mendhem jero.
Menjunjung yang baik, menyimpan yang buruk sebagai pelajaran. Begitulah seharusnya sebuah bangsa memperlakukan sejarahnya. Bukan untuk terus hidup dalam dendam, melainkan agar tidak mengulangi ketidakadilan yang sama. Karena kemerdekaan bukan garis akhir. Ia adalah pekerjaan bersama untuk memastikan tidak ada lagi manusia yang harus berada di bawah hanya karena dilahirkan sebagai manusia yang lebih lemah. (*
Oleh: Jejak Kata






