KULINER — Selepas Isak, suasana Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, asuhan K.H. Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, di Kelurahan Leteh, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mulai tenang. Namun di rumah klasik pengasuh Pondok Leteh itu, suasana justru bergerak ke arah lain: meja makan telah penuh hidangan.
Ada sambel docang, pindang bandeng, ikan belanak, dan aneka hasil laut. Tapi mata saya berhenti pada satu mangkuk berwarna kuning. Kuahnya tampak sederhana, tetapi aromanya segera membongkar kesederhanaan itu. Kelo mrico.
Saya mencicipinya sebelum sang kiai menemui saya untuk berbincang tentang banyak hal, termasuk soal kebangsaan. Namun untuk sementara, percakapan itu harus menunggu. Ada urusan yang lebih dekat dengan perut: seporsi nasi dan semangkuk kelo mrico khas Rembang.
Rembang adalah kota pesisir di pantai utara Jawa Tengah bagian timur. Laut menjadi salah satu penanda kehidupan masyarakatnya. Ikan segar bukan barang mewah. Ia datang bersama perahu, dibawa ke pasar, lalu berakhir di dapur dalam berbagai bentuk masakan.
Kelo mrico adalah salah satunya. Namanya terdengar sederhana. Kelo merujuk pada masakan berkuah, sedangkan mrico berarti merica atau lada. Tetapi jangan berharap rasanya sesederhana namanya.
Kuah kelo mrico dibuat dari ikan segar yang dimasak bersama cabai merah keriting dan lada butiran. Bumbu itu kemudian bertemu bawang merah, bawang putih, tomat, kemiri, daun salam, lengkuas, serta air asam Jawa. Labu siam ikut masuk, memberi tekstur dan sedikit keseimbangan pada kuah yang pedas.
Untuk mendapatkan rasa yang dianggap paling sedap, ikan manyung menjadi salah satu pilihan. Namun ikan selar badongan, sembilang, atau kacangan juga bisa digunakan.
Kuncinya satu: ikan harus segar. Itulah sebabnya kelo mrico bukan makanan yang bisa diperlakukan seperti mi instan. Ada waktunya. Ada batas kesegarannya. Dan bagi penggemarnya, ada alasan untuk datang pagi-pagi.
Di Lasem, kota tua yang berada di jalur pantura penghubung Semarang-Surabaya, salah satu tempat yang menyajikan kelo mrico adalah Warung Makan Ibu Tri. Lokasinya di sekitar pojok Alun-Alun Lasem, tepat di Jalan Raya Lasem.
Jangan datang terlalu siang. Lewat tengah hari, kemungkinan besar mangkuk kelo mrico sudah kosong. Bukan karena penjualnya sedang malas memasak, melainkan karena pembelinya telah lebih dahulu menghabiskannya.
“Kelo mrico ini kan harus pakai ikan yang masih segar, jadi adanya pagi-pagi. Kalau sudah lewat jam dua belas, ya sudah habis,” ujar pengelola warung.
Ia tidak akan memasaknya lagi siang itu. Kelo mrico kembali hadir keesokan pagi, ketika ikan segar tersedia.
Di warung tersebut, seporsi kelo mrico lengkap dengan nasi putih dan teh tawar hangat dibanderol belasan ribu. Harga yang membuat hidangan pesisir ini cukup bersahabat bagi kantong.
Namun yang membuat kelo mrico sulit dilupakan bukan sekadar harganya.
Pedasnya Datang dari Dua Arah
Cabai merah keriting lebih dulu menyapa lidah. Setelah itu lada menyusul, membawa sensasi pedas yang berbeda. Rempah-rempah membuat kuahnya semakin kaya. Pedasnya tidak berhenti di mulut, tetapi perlahan merambat menjadi rasa hangat di tubuh. Keringat pun mulai muncul.
Bagi sebagian orang, itu mungkin tanda harus berhenti. Bagi penggemar kelo mrico, justru di situlah kenikmatannya.
Satu suapan nasi, satu potong ikan, lalu kuah pedas. Di luar mangkuk, udara Lasem mungkin tetap panas. Di dalam tubuh, sensasinya seperti kompor kecil yang baru dinyalakan. Lalu keringat mengucur.
Setelah mangkuk hampir bersih, yang tersisa adalah rasa hangat dan perasaan lega. Orang Lasen atau Rembang punya istilah yang lebih sederhana untuk menggambarkannya: plong.
Kelo mrico akhirnya bukan cuma soal ikan dan bumbu. Ia adalah cara masyarakat pesisir mengolah apa yang tersedia di laut menjadi hidangan yang punya karakter.
Di rumah Gus Mus, ia hadir di tengah percakapan tentang kebangsaan. Di warung sederhana Lasem, ia menjadi menu yang diburu sejak pagi.
Tempatnya berbeda. Suasananya berbeda. Tetapi mangkuknya menyampaikan pesan yang sama: kuliner tidak selalu lahir dari dapur mewah. Kadang ia tumbuh dari ikan segar, cabai, lada, rempah, dan kebiasaan masyarakat yang diwariskan tanpa banyak seremoni.
Dan di Rembang, kelo mrico membuktikan bahwa rasa pedas tidak selalu dimaksudkan untuk menyiksa lidah. Kadang, pedas memang diperlukan agar badan terasa plong. (*






