Jejak KataSoft News

Mengapa Hal Sepele Terasa Seperti Prestasi Besar di Status WhatsApp?

×

Mengapa Hal Sepele Terasa Seperti Prestasi Besar di Status WhatsApp?

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

PSIKOLOGI POPULER — Ada orang yang berhasil menyelesaikan pekerjaan besar, tetapi cukup menulis, “Alhamdulillah, selesai.”

Ada pula yang berhasil melakukan sesuatu yang sebenarnya biasa saja, tetapi status WhatsApp-nya terasa seperti siaran pers dari sebuah lembaga penghargaan. “Alhamdulillah, akhirnya tercapai juga setelah perjuangan panjang.”

Foto menyusul. Kemudian foto kedua. Lalu foto ketiga.

Dua jam kemudian muncul kalimat:

“Tidak semua orang tahu perjuangan di balik ini.”

Pembaca pun bertanya-tanya: sebenarnya yang berhasil dicapai apa? Mendapat penghargaan kah?

Fenomena semacam ini menarik jika dilihat dari psikologi. Sebab, kebiasaan membesar-besarkan pencapaian di media sosial tidak selalu berarti seseorang sedang berbohong. Bisa jadi ada kebutuhan psikologis yang lebih sederhana: ingin diakui, ingin dihargai, atau ingin merasa dirinya bernilai.

Validasi: “Tolong bilang saya hebat”

Manusia pada dasarnya membutuhkan pengakuan sosial. Keberhasilan akan terasa lebih menyenangkan ketika mendapatkan respons dari orang lain.

Media sosial menyediakan mekanisme yang sangat praktis untuk itu. Seseorang mengunggah keberhasilannya, lalu datanglah tanda jempol, emoji tepuk tangan, komentar “keren”, atau sekadar orang yang melihat statusnya.

Masalahnya, otak manusia tidak selalu membedakan antara prestasi besar dan pencapaian kecil ketika keduanya mendapatkan respons positif.

Akibatnya, hal sederhana pun dapat terasa luar biasa ketika memperoleh cukup banyak validasi.  Yang awalnya “Saya berhasil menyelesaikan ini” perlahan berubah menjadi “Ternyata saya luar biasa.”

Mengapa pencapaian kecil dibesarkan?

Salah satu kemungkinan adalah self-enhancement, kecenderungan manusia untuk mempertahankan atau meningkatkan penilaian positif terhadap dirinya sendiri.

Media sosial menjadi panggung yang nyaman untuk melakukan itu. Foto makanan diberi narasi tentang perjuangan. Membeli barang baru disebut hasil kerja keras. Menghadiri sebuah acara ditulis seperti pencapaian karier. Baangun pagi terkadang diberi caption yang terdengar seperti pidato motivasi. Bahkan usai menjadi panitia Agustusan di tingkat RT seoalah usai melaksanakan event di Istina Negara.

Tidak ada yang salah dengan merayakan pencapaian kecil. Justru itu bisa sehat.

Yang menarik adalah ketika kebutuhan untuk menunjukkan keberhasilan menjadi begitu besar sehingga setiap aktivitas harus diberi kemasan prestasi. Seolah-olah kehidupan sehari-hari adalah laporan tahunan perusahaan.

Status sebagai “cermin diri”

Psikologi juga mengenal konsep self-presentation, yaitu cara seseorang mengatur bagaimana dirinya ingin dilihat orang lain.

Di dunia nyata, kita tidak selalu bisa mengendalikan penilaian orang. Di WhatsApp, kendali itu terasa lebih besar.

Kita memilih foto terbaik. Memilih kalimat terbaik. Memilih waktu unggah. Lalu menunggu penonton.

Dengan kata lain, status WhatsApp bukan sekadar tempat berbagi informasi. Bagi sebagian orang, ia menjadi ruang pamer identitas.

Yang ditampilkan bukan selalu kehidupan sebagaimana adanya, melainkan kehidupan sebagaimana ingin terlihat.

Mengapa hal kecil bisa terasa besar?

Karena ukuran keberhasilan sangat subjektif. Bagi seseorang, berhasil membayar cicilan tepat waktu mungkin merupakan pencapaian besar. Bagi orang lain, membeli sepatu baru mungkin menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri setelah bekerja keras.

Karena itu, kita sebaiknya tidak terlalu cepat menertawakan pencapaian orang lain. Yang tampak sepele bagi kita belum tentu sepele bagi orang tersebut.

Masalahnya bukan pada apa yang dirayakan, melainkan pada pola dan kebutuhannya. Jika seseorang sesekali mengunggah pencapaian kecil, itu wajar.

Tetapi jika hampir setiap aktivitas harus diumumkan, selalu membutuhkan pujian, mudah kecewa ketika tidak mendapatkan respons, atau merasa harga dirinya turun ketika orang lain tidak memberikan perhatian, persoalannya mungkin bukan lagi sekadar berbagi kebahagiaan.

Ada kebutuhan validasi yang lebih kuat di belakangnya.

Ketika WhatsApp berubah menjadi panggung penghargaan

Ada tipe pengguna yang tampaknya memiliki prinsip: Kalau tidak diumumkan, berarti belum terjadi.

Maka keberhasilan harus difoto. Foto harus diberi caption. Caption harus diberi emoji. Emoji harus diberi musik. Setelah itu, menunggu penonton. Jika respons sepi, status berikutnya muncul:

“Tidak perlu pengakuan dari siapa pun.”

Ironisnya, status itu sendiri sedang meminta pengakuan.

Ini salah satu kelucuan media sosial: seseorang bisa mengatakan tidak membutuhkan perhatian sambil mengunggah pengumuman bahwa dirinya tidak membutuhkan perhatian.

Bukan selalu narsisme

Perlu hati-hati menggunakan istilah narsistik. Orang yang suka memamerkan keberhasilan di WhatsApp tidak otomatis memiliki gangguan kepribadian narsistik. Diagnosis psikologis membutuhkan penilaian profesional dan tidak dapat disimpulkan hanya dari beberapa status media sosial.

Perilaku tersebut bisa muncul karena banyak faktor: kebutuhan akan apresiasi, kebiasaan sosial, rasa tidak aman, lingkungan pertemanan, pengalaman hidup, atau sekadar memang senang berbagi.

Jadi, jangan melihat satu status lalu berkata:

“Wah, ini gangguan narsistik.”

Itu bukan diagnosis. Itu lebih dekat kepada diagnosis berdasarkan tiga detik melihat story.

Kapan perlu menjadi perhatian?

Kebiasaan membagikan keberhasilan baru patut diperhatikan ketika mulai menguasai kehidupan seseorang.

Misalnya, ia sangat bergantung pada pujian orang lain, merasa kecewa atau rendah diri ketika unggahannya tidak mendapat respons, terus membandingkan dirinya dengan orang lain, atau menghabiskan banyak waktu membangun citra digital hingga mengganggu pekerjaan dan hubungan nyata.

Dalam kondisi demikian, yang penting bukan berapa banyak status yang dibuat, melainkan apa fungsi status tersebut bagi dirinya. Apakah sekadar berbagi? Atau menjadi cara utama untuk memperoleh rasa berharga? Perbedaannya cukup besar.

Tidak semua pencapaian membutuhkan konferensi pers

Pada akhirnya, manusia memang berhak merayakan keberhasilan sekecil apa pun. Berhasil bangun pagi? Silakan. Berhasil membeli sepatu? Boleh. Berhasil menemukan dompet yang tadi dicari setengah jam? Itu bahkan layak dirayakan.

Namun mungkin tidak semuanya membutuhkan konferensi pers. Sebab ada perbedaan antara bersyukur atas pencapaian dan membutuhkan dunia untuk mengakui pencapaian tersebut.

Yang pertama bisa menjadi bentuk apresiasi diri. Yang kedua bisa menjadi tanda bahwa harga diri mulai terlalu bergantung pada penonton.

Dan WhatsApp memang menyediakan banyak penonton. Hanya saja, tidak semuanya datang untuk menonton. Sebagian mungkin sedang mencari nomor tukang ledeng.

Jadi, jika hari ini seseorang berhasil melakukan hal kecil, rayakanlah. Kalau mau dibuat status, silakan. Tetapi sesekali tidak mengunggahnya juga tidak membuat keberhasilan itu menjadi kurang berharga.

Sebab sebuah pencapaian tetap menjadi pencapaian meskipun tidak ada satu pun orang yang menekan tombol “lihat”. Dan mungkin itulah bentuk keberhasilan yang paling sulit dipamerkan: merasa cukup tanpa membutuhkan tepuk tangan. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *