OPINI—Kebakaran yang melalap 120 rumah di Kampung Adat Wisata Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, bukan sekadar bencana permukiman. Ia adalah alarm bagi cara kita memperlakukan kampung adat sebagai etalase pariwisata.
Api berkobar sekitar pukul 22.00 Wita pada Sabtu malam, ketika sebagian warga sedang tertidur. Rumah-rumah yang menjadi bagian dari lanskap budaya Sade—dengan atap jerami, dinding anyaman bambu, dan konstruksi tradisional—dengan cepat berubah menjadi bara. Hingga Minggu pagi, petugas masih berjibaku memadamkan kepulan asap dan mendinginkan lokasi.
Angka 120 rumah seharusnya tidak berhenti sebagai statistik kebakaran. Di baliknya ada keluarga, kain tenun, uang, telepon seluler, dokumen, dan benda-benda lain yang tidak sempat diselamatkan. Warga seperti Amaq Imi bahkan hanya tersisa pakaian yang melekat di tubuh.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada soal api.
Sade selama ini dipasarkan sebagai kampung adat dan destinasi wisata. Keaslian rumah tradisional menjadi bagian penting dari daya tariknya. Namun keaslian juga membawa konsekuensi: material seperti jerami dan anyaman bambu memiliki karakteristik yang mudah terbakar. Ketika ratusan bangunan berhimpitan, api bukan lagi persoalan satu rumah. Ia dapat menjadi bencana komunal dalam waktu singkat.
Karena itu, pertanyaan setelah kebakaran bukan semata-mata siapa yang harus disalahkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pengelolaan kawasan wisata adat selama ini sudah memasukkan risiko kebakaran sebagai persoalan utama.
Penyebab kebakaran memang belum diketahui. Pemerintah daerah masih menyelidiki apakah api berasal dari korsleting listrik atau faktor lain. Sikap hati-hati itu patut dihargai. Jangan sampai spekulasi mendahului penyelidikan.
Tetapi ketidakpastian mengenai penyebab tidak boleh menjadi alasan untuk menunda evaluasi terhadap sistem keselamatan.
Kampung adat yang dijadikan destinasi wisata semestinya tidak hanya dipoles agar menarik bagi wisatawan. Ia juga harus aman bagi penghuninya. Infrastruktur keselamatan—akses kendaraan pemadam, sumber air, alat pemadam, jalur evakuasi, sistem kelistrikan, hingga prosedur tanggap darurat—seharusnya menjadi bagian dari desain kawasan, bukan perlengkapan yang dicari setelah bencana terjadi.
Ada ironi dalam pengembangan pariwisata semacam ini. Pemerintah ingin mempertahankan bentuk rumah tradisional karena itulah yang menjual pengalaman wisata. Tetapi jika konservasi hanya berhenti pada bentuk fisik, sementara keselamatan penghuninya diabaikan, yang dipertahankan sesungguhnya hanyalah sebuah latar untuk foto.
Padahal Sade bukan museum. Ia adalah kampung tempat orang hidup.
Karena itu, rekonstruksi pascakebakaran tidak boleh dilakukan secara serampangan. Pemerintah memang perlu segera memenuhi kebutuhan dasar warga: tempat tinggal sementara, makanan, pakaian, layanan kesehatan, serta dukungan bagi mereka yang kehilangan mata pencarian. Tetapi tahap berikutnya harus lebih serius: membangun kembali Sade dengan standar keselamatan yang lebih baik tanpa menghilangkan karakter budayanya.
Teknologi tidak harus menjadi musuh tradisi. Sistem kelistrikan yang aman, detektor asap, hidran atau titik air, alat pemadam ringan, pembagian jarak antarrumah yang lebih aman, dan pelatihan evakuasi dapat dirancang tanpa mengubah identitas arsitektur Sade.
Justru di situlah ukuran keberhasilan konservasi budaya diuji: mampukah tradisi bertahan tanpa mengorbankan keselamatan manusia?
Kebakaran Sade mestinya menjadi kesempatan untuk menjawab pertanyaan itu.
Pemerintah pusat dan daerah, pengelola pariwisata, masyarakat adat, serta pemangku kepentingan lain perlu duduk bersama menyusun standar keselamatan khusus bagi kampung wisata berbasis rumah tradisional.
Jangan sampai setelah api padam, perhatian pun ikut padam.
Sade membutuhkan lebih dari sekadar bantuan untuk membangun kembali rumah yang terbakar. Ia membutuhkan koreksi atas cara negara mengelola destinasi wisata berbasis komunitas. Sebab warisan budaya yang paling penting bukanlah jerami di atap, anyaman di dinding, atau bentuk rumah yang tampak eksotis di mata wisatawan.
Warisan itu adalah manusianya. Jika keselamatan mereka tidak menjadi prioritas, maka pariwisata telah salah memahami apa yang sesungguhnya harus dilestarikan. (*
Oleh: Jejak Kata






