PSIKOLOGI POPULER — Ada jenis remaja yang kalau baru sekali menang lomba, rasanya seperti sudah menerima Nobel. Baru sekali dipuji guru, besoknya berjalan di sekolah seperti komisaris utama perusahaan multinasional.
Nilai 90 dianggap prestasi luar biasa. Nilai 91 milik teman dianggap keberuntungan. Kalau mendapat nilai 100, suasana batinnya kira-kira sudah seperti baru menemukan vaksin untuk seluruh penyakit dunia.
Namanya juga remaja. Dunia sedang mereka temukan. Masalahnya, kadang-kadang dunia itu baru sebatas halaman sekolah, tetapi rasa percaya dirinya sudah sampai orbit Mars.
Fenomena ini sebenarnya tidak selalu buruk. Masa remaja memang masa ketika seseorang sedang mencari identitas, mencoba berbagai peran, dan ingin diakui. Ia ingin tahu: Saya ini siapa? Saya hebat di mana? Orang lain melihat saya sebagai apa?
Yang menjadi persoalan adalah ketika percaya diri naik kelas menjadi merasa paling hebat.
Baru Bisa Sedikit, Gayanya Sudah Selangit
Ada remaja yang baru belajar satu keterampilan, lalu merasa sudah menguasai seluruh cabangnya. Baru bisa bermain gitar tiga lagu, sudah memberi tutorial kepada orang lain. Baru menang lomba antar-kelas, sudah merasa sistem kompetisi nasional perlu diperbaiki. Baru punya seribu pengikut di media sosial, sudah berbicara soal strategi membangun kerajaan digital.
Kalau temannya mendapat prestasi, komentarnya, “Ah, biasa.” Tetapi ketika dirinya melakukan hal serupa, ceritanya bisa berubah menjadi seminar motivasi selama 45 menit.
Di sinilah over acting mulai bekerja. Semua pencapaian harus terlihat. Semua kelebihan perlu diumumkan. Semua keberhasilan perlu saksi.
Kalau bisa, satu sekolah tahu. Kalau media sosial memungkinkan, satu dunia tahu.
Percaya Diri Itu Bagus, Tapi Jangan Sampai Butuh Penonton
Percaya diri sebenarnya sederhana: “Saya mampu.” Masalah dimulai ketika kalimat itu berubah menjadi: “Saya harus dianggap mampu.”
Lebih parah lagi jika berubah menjadi: “Kalau orang lain lebih hebat daripada saya, harga diri saya turun.”
Remaja seperti ini bisa sangat sensitif terhadap kritik. Masukan kecil dianggap penghinaan. Kekalahan dianggap ketidakadilan. Ketika temannya mendapat pujian, ia merasa seperti pemerintah baru saja menaikkan harga sesuatu yang paling ia sukai.
Padahal dunia memang tidak dirancang untuk memberikan tepuk tangan kepada satu orang sepanjang hidup.
Hari ini kita dipuji. Besok orang lain. Lusa mungkin tidak ada yang peduli. Dan itu normal.
Ada Masalah yang Namanya “Merasa Sudah Sampai”
Yang lebih berbahaya bukan merasa hebat. Yang lebih berbahaya adalah merasa sudah selesai belajar.
Ketika seseorang merasa dirinya sudah paling pintar, ia berhenti mendengarkan. Ketika merasa paling jago, ia berhenti berlatih. Ketika merasa tidak mungkin kalah, ia mulai meremehkan lawan.
Di situlah kemampuan yang tadinya tumbuh bisa berhenti.
Ironisnya, orang yang merasa paling tinggi sering kali justru tidak sadar bahwa masih banyak orang lain yang sedang berlari lebih jauh.
Sebab dunia ini luas. Sekolah bukan dunia. Kompleks bukan dunia. Kampung bukan dunia. Media sosial juga bukan dunia. Dan jumlah like bukan ukuran kecerdasan.
Di Atas Langit Masih Ada Langit
Pepatah lama mengatakan, di atas langit masih ada langit. Kalimat ini sebenarnya merupakan nasihat psikologis yang cukup murah, tetapi manfaatnya mahal.
Artinya: sehebat apa pun kita, selalu ada ruang untuk belajar.
Pemain terbaik di kelas mungkin masih harus belajar dari pemain terbaik di kota.
Yang terbaik di kota masih bisa kalah dari yang terbaik di provinsi. Yang terbaik di provinsi masih bisa bertemu orang yang lebih hebat. Begitu seterusnya.
Jadi kalau hari ini seorang remaja merasa sudah menjadi “raja segala keahlian”, tidak perlu buru-buru menjatuhkan mahkotanya. Cukup ajak melihat ke atas. Langit masih banyak.
Orang Tua Jangan Ikut Membesarkan Ego
Orang tua juga perlu berhati-hati. Pujian memang penting. Anak perlu tahu bahwa usahanya dihargai.
Tetapi kalimat seperti, “Kamu paling pintar,” “Tidak ada yang sehebat kamu,” atau “Kamu memang nomor satu,” jika terlalu sering diberikan, bisa membuat anak mengira dunia memang memiliki kewajiban untuk mengakui kehebatannya.
Lebih baik mengatakan: “Kamu sudah berusaha keras.” Atau: “Hasilmu bagus. Sekarang coba lihat apa yang masih bisa diperbaiki.”
Dengan begitu, anak belajar menikmati keberhasilan tanpa mabuk kemenangan. Sebab kemenangan juga punya efek samping. Kalau terlalu sering diminum tanpa dosis yang tepat, seseorang bisa keracunan ego.
Jangan Takut Kalah
Kalah adalah bagian dari pendidikan kehidupan.
Remaja perlu belajar bahwa kalah dalam pertandingan bukan berarti dirinya bodoh. Mendapat nilai lebih rendah bukan berarti masa depannya tamat. Tidak dipuji bukan berarti dirinya tidak berharga.
Kadang-kadang kekalahan justru menjadi guru yang paling rajin. Ia tidak pernah izin. Tidak pernah terlambat. Dan kalau perlu, mengajar berulang-ulang sampai muridnya mengerti.
Karena itu, remaja perlu dibiasakan menerima kalimat sederhana:
“Ada orang yang lebih hebat darimu.”
Bukan untuk mematahkan semangat. Justru untuk membuatnya terus belajar.
Hebat Itu Tidak Perlu Terlalu Banyak Gaya
Orang yang benar-benar hebat biasanya tidak perlu menghabiskan seluruh energinya untuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya hebat.
Hasil kerja yang bagus punya cara sendiri untuk berbicara. Begitu pula prestasi.
Kita tidak perlu berteriak kepada gunung bahwa kita tinggi. Gunung tidak akan menjawab.
Yang diperlukan seorang remaja bukanlah mematikan rasa percaya diri, melainkan memberinya rem.
Gas penting. Rem juga penting. Kalau hanya punya gas, kendaraan bukan melaju cepat, melainkan berpotensi masuk selokan.
Begitu pula dengan ego. Percaya diri membuat seseorang berani melangkah. Kerendahan hati membuatnya tahu kapan harus berhenti dan belajar.
Jadi, boleh bercita-cita menjadi yang terbaik. Boleh bangga dengan prestasi. Boleh tampil percaya diri. Tetapi jangan buru-buru merasa sudah menjadi puncak.
Sebab di atas langit masih ada langit. Dan kalau suatu hari merasa sudah paling tinggi, mungkin itu tanda bahwa kita perlu melihat sedikit lebih jauh. Bisa jadi, di sana ada seseorang yang sedang tersenyum sambil berkata: “Santai. Saya juga dulu pernah merasa begitu.”
Oleh: Jejak Kata






