JEJAK KATA, Tangerang — Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tak lagi hanya menjadi urusan kawasan Selat Sunda. Material erupsi terbawa angin hingga Banten dan sebagian Jawa Barat. Di Kabupaten Tangerang, seluruh wilayah dilaporkan terdampak sebaran abu.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, warga dianjurkan menggunakan masker medis, bukan masker kain, serta mengenakan pelindung mata dan pakaian yang lebih tertutup.
“Kita berharap masyarakat kurangi aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa harus pakai masker medis, bukan masker kain. Serta pelindung mata dan baju yang lebih tertutup,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi, Minggu, 6 September 2026.
Menurut Hendra, paparan abu vulkanik dapat memicu gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Abu juga berpotensi menyebabkan iritasi mata dan alergi pada kulit.
Erupsi Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026. Badan Geologi menyebut aktivitas gunung api tersebut berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Pada 5 September pukul 23.07 WIB, terjadi erupsi menerus yang disertai suara gemuruh.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga mendeteksi sebaran abu vulkanik yang meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Pemantauan dilakukan selama 24 jam, terutama karena abu vulkanik berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.

BPBD Siapkan Langkah Antisipasi
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Ahmad Taufik, mengatakan bahwa pemerintah daerah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik.
Bupati Tangerang akan mengeluarkan imbauan kepada camat serta kepala desa dan lurah. Pemerintah juga menyiapkan spanduk berisi panduan bagi masyarakat yang akan dipasang di sejumlah lokasi strategis.
“Warga diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, memakai kacamata di tempat umum dan saat mengendarai sepeda motor, serta mengurangi kegiatan di luar rumah. Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan tubuh dan memperbanyak minum air putih,” ujar Taufik.
Di dalam rumah, kata Taufik, warga dianjurkan tidak terlalu sering membuka pintu dan ventilasi. Makanan serta wadah berisi air juga perlu ditutup ketika tidak digunakan.
Untuk pengendara, BPBD meminta perjalanan yang tidak penting ditunda. Pengendara sepeda motor diminta menggunakan masker, kacamata, dan helm. Pengguna mobil juga harus berhati-hati karena abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang.
Dampak abu bahkan menjalar ke ruang udara. Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat menghentikan operasional pada Minggu dini hari akibat sebaran abu vulkanik. Penutupan sementara itu berdampak pada 209 penerbangan dan sekitar 22.798 penumpang. Sebanyak 16 penerbangan internasional dibatalkan, tujuh ditunda, dan lima dijadwal ulang. Pada penerbangan domestik, empat penerbangan dibatalkan dan satu dialihkan.
Rute internasional yang terdampak antara lain penerbangan dari dan menuju Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul, Doha, Amsterdam, dan Kuala Lumpur. Sementara penerbangan domestik yang terdampak mencakup rute Lampung, Denpasar, dan Surabaya.
Abu yang semula tampak seperti persoalan di sekitar gunung kini telah menjadi persoalan lintas wilayah. Bagi warga Tangerang, pesan pemerintah sederhana: kurangi aktivitas di luar, lindungi pernapasan dan mata, serta ikuti perkembangan informasi resmi.
Gunung berada jauh di Selat Sunda. Namun abunya bisa tiba di halaman rumah sebelum orang sempat menyadarinya. (*






