KULINER — Jangan tertipu oleh namanya. Geblek bukan umpatan, apalagi kata yang sedang mencari perkara. Di Kulon Progo, Yogyakarta, ia justru makanan yang dicari ketika perut mulai kliyengan dan lidah membutuhkan sesuatu yang gurih.
Bentuknya pun tak neko-neko: putih, melingkar seperti angka delapan. Sepintas seperti dua gelang yang sedang gandengan. Setelah masuk penggorengan, bagian luarnya berubah renyah, sementara bagian dalam tetap kenyal dan ulet.
Geblek dibuat dari bahan yang sederhana: pati singkong atau tapioka, bawang putih, garam, dan air. Tidak ada daftar bumbu sepanjang primbon. Namun dari kesederhanaan itulah lahir rasa gurih dengan aroma bawang putih yang cukup berani.
Di sinilah geblek punya watak nrimo ing pandum. Ia tidak sibuk menjadi makanan modern dengan puluhan varian rasa. Tidak ada geblek rasa keju, cokelat, atau matcha yang harus dipanggil dengan embel-embel kekinian agar dianggap keren. Geblek tetap menjadi dirinya sendiri.
Geblek Bukan Cireng yang Ganti Nama
Geblek kerap dibandingkan dengan cireng karena sama-sama berbahan tapioka. Wajar. Keduanya sama-sama kenyal dan digoreng. Tetapi menyamakan keduanya begitu saja ibarat menyebut semua orang Jawa sebagai orang Solo.
Geblek memiliki tekstur lebih padat dan ulet. Karakternya juga lebih sederhana: gurih, asin, dan kuat pada bawang putih. Ia mempertahankan bentuk serta cita rasa tradisional yang sudah lama dikenal masyarakat Kulon Progo.
Kalau cireng punya banyak saudara modern, geblek seperti orang desa yang ora gumunan: tidak gampang silau oleh tren.
Pasangan yang Tak Boleh Cemburu

Geblek juga bukan tipe makanan yang nyaman hidup sendirian. Ia punya pasangan yang membuat kisah kulinernya lebih lengkap: tempe benguk atau besengek.
Tempe benguk dibuat dari biji koro benguk, bukan kedelai. Setelah difermentasi, bahan ini dimasak dengan santan dan rempah hingga menghasilkan rasa gurih-manis. Ketika geblek hangat bertemu tempe benguk, terjadi perjumpaan yang cocoklogi-nya justru masuk akal.
Pilihan lainnya adalah sambal pecel. Geblek yang gurih dan kenyal dicocol ke sambal pecel, menghasilkan percampuran rasa gurih, pedas, dan manis.
Pada pagi atau sore hari, segelas kopi Menoreh atau teh lokal bisa menjadi penutup yang sederhana. Tak perlu meja makan mewah. Cukup geblek hangat, kopi, dan waktu luang. Wis, rampung.
Dari Kebun Singkong ke Bekal Petani
Geblek tumbuh dari keadaan yang sangat Jawa: memanfaatkan apa yang tersedia.
Di kawasan Kulon Progo, terutama wilayah Pengasih, singkong menjadi salah satu bahan pangan yang mudah ditemukan. Pati singkong kemudian diolah menjadi makanan yang praktis dan mengenyangkan.
Bagi masyarakat petani pada masa lalu, geblek bukan sekadar kudapan. Ia juga bekal untuk mengganjal perut ketika pekerjaan di sawah belum selesai.
Di sini ada pelajaran kecil tentang pangan lokal. Sebelum istilah food sustainability terdengar seperti jargon seminar, masyarakat sudah lebih dulu menjalankannya dengan cara yang sederhana: menanam, mengolah, lalu memakan apa yang tersedia di sekitar. Ora usah kakehan gaya.
Putih, Kenyal, dan Gotong Royong
Geblek juga memiliki tafsir simbolik yang berkembang di masyarakat.
Warna putih kerap dimaknai sebagai lambang niat dan perbuatan baik. Teksturnya yang kenyal menggambarkan kemampuan manusia beradaptasi. Rasa gurih dianggap mencerminkan pergaulan yang baik tanpa membeda-bedakan.
Lalu ada bentuk angka delapan yang saling terhubung. Ia bisa dibaca sebagai simbol kerja sama, gotong royong, dan hubungan antar manusia yang tidak mudah putus.
Menariknya, filosofi itu justru cocok dengan sifat geblek sendiri. Ia lahir dari bahan sederhana, dibuat melalui proses bersama, lalu biasanya disantap bersama pula.
Guyub rukun, istilah Jawa untuk hidup dalam kebersamaan, rupanya bisa diterjemahkan melalui makanan.
Ketika Geblek Menjadi Identitas
Geblek tidak berhenti sebagai jajanan pasar. Bentuknya yang menyerupai angka delapan kemudian menginspirasi motif Batik Geblek Renteng, yakni pola geblek yang disusun berderet.
Motif itu berkembang menjadi salah satu identitas khas Kabupaten Kulon Progo dan digunakan dalam berbagai kebutuhan, termasuk pakaian daerah.
Di titik ini, geblek menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak selalu berakhir di piring. Kadang ia menjelma menjadi simbol daerah.
Sebab kuliner lokal bukan hanya perkara kenyang. Di dalamnya ada sejarah, lingkungan, kebiasaan, bahkan cara sebuah masyarakat memandang hidup.
Geblek mungkin kecil. Bentuknya sederhana. Warnanya putih. Harganya pun tak perlu membuat dompet ngelu. Tetapi justru dari makanan seperti inilah sebuah daerah menyimpan ingatan.
Ia tidak berteriak meminta perhatian. Hanya duduk manis di meja, menunggu dicocol sambal pecel. Dan, seperti banyak hal yang njawani, geblek barangkali punya satu prinsip sederhana: tidak perlu banyak omong untuk menjadi penting. (*






