Soft News

9 September: Dari Stadion Sriwedari hingga Bom Kuningan

×

9 September: Dari Stadion Sriwedari hingga Bom Kuningan

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

HISTORI — Kalender biasanya bekerja dengan cara yang membosankan. Ia mengganti angka setiap tengah malam, lalu membiarkan manusia sibuk mengejar urusannya masing-masing. Tetapi sejarah punya tabiat berbeda. Ia bisa menyimpan terlalu banyak cerita di satu tanggal.

Salah satunya 9 September.

Di Indonesia, tanggal ini dirayakan sebagai Hari Olahraga Nasional atau Haornas. Akar peringatannya berada di Solo pada 1948, ketika Indonesia yang baru beberapa tahun merdeka menggelar Pekan Olahraga Nasional pertama. PON itu bukan sekadar pertandingan untuk menentukan siapa yang paling cepat berlari atau paling tinggi melompat. Ia juga menjadi pernyataan bahwa sebuah republik muda sedang berusaha menunjukkan keberadaannya kepada dunia.

Tiga puluh lima tahun kemudian, tanggal yang sama mendapat nama resmi: Hari Olahraga Nasional. Pemerintah menetapkannya melalui Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985. Dengan begitu, sebuah pertandingan olahraga di Solo menjelma menjadi hari peringatan nasional.

Ada ironi kecil di sini. Negara yang lahir dari revolusi ternyata membutuhkan stadion untuk menegaskan identitasnya.

Di lapangan olahraga, perbedaan daerah semestinya berhenti di garis lintasan. Bendera boleh berbeda lambang daerahnya, tetapi ketika Merah Putih berkibar, urusannya menjadi satu. PON pertama karena itu memiliki makna yang lebih luas daripada medali dan rekor.

9 September juga menjadi tanggal kelahiran Susilo Bambang Yudhoyono.

SBY lahir di Pacitan, Jawa Timur, pada 9 September 1949. Kelak ia menjadi Presiden Indonesia keenam dan presiden pertama yang terpilih melalui pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat.

Tanggal kelahiran itu membuat 9 September kembali berkelindan dengan sejarah politik Indonesia. Jika PON 1948 menggambarkan sebuah republik yang sedang mencari pengakuan, kelahiran SBY setahun kemudian berada dalam periode ketika Indonesia masih mempertahankan eksistensinya sebagai negara merdeka.

Sejarah memang sering bekerja seperti penulis yang gemar menyelipkan plot twist. Kita tidak pernah tahu peristiwa kecil mana yang kelak memperoleh huruf kapital.

Namun 9 September bukan hanya tentang kabar baik.

Pada 9 September 2004, Jakarta mengalami salah satu hari kelam dalam sejarah terorisme Indonesia. Sebuah ledakan terjadi di depan Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Bom Kuningan itu menewaskan sejumlah orang dan menyebabkan banyak lainnya terluka. Catatan pemberitaan mengenai jumlah korban berbeda pada laporan awal dan perkembangan berikutnya; arsip Kompas mencatat sembilan korban jiwa dan 160 orang terluka dalam salah satu catatannya.

Ledakan tersebut bukan hanya mengguncang kawasan diplomatik. Ia mengguncang rasa aman warga Jakarta.

Kuningan pada hari biasa adalah kawasan gedung perkantoran, lalu lintas padat, pekerja yang mengejar jam masuk, dan orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing. Sebuah ledakan mengubah suasana itu dalam sekejap.

Di situlah sejarah menjadi berbeda dari buku pelajaran. Dalam buku, sebuah peristiwa hanya membutuhkan satu atau dua paragraf. Dalam kehidupan nyata, ia meninggalkan ketakutan, kehilangan, luka, dan pertanyaan panjang yang tidak selesai hanya dengan bergantinya hari.

Karena itu, memperingati sebuah tanggal bukan berarti menghafalkan sebanyak mungkin angka dan nama.

Tanggal adalah Pintu

Di balik 9 September terdapat Indonesia yang sedang membangun identitas melalui olahraga. Ada Solo 1948 yang menunjukkan keberanian sebuah republik muda. Ada kelahiran seorang tokoh yang kelak memimpin negeri ini. Ada pula Kuningan 2004 yang mengingatkan bahwa sejarah bangsa tidak selalu ditulis dengan tinta kemenangan.

Jika diperlebar, 9 September ternyata juga menyimpan sejumlah peristiwa dunia.

Pada 1543, Mary Stuart dimahkotai sebagai Ratu Skotlandia ketika usianya baru sembilan bulan. Tiga abad kemudian, pada 1850, California menjadi negara bagian ke-31 Amerika Serikat.

Tahun 1948 menjadi tahun yang sibuk bagi kalender dunia. Pada 9 September, Korea Utara memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Demokratik Korea. Puluhan tahun kemudian, pada tanggal yang sama pada 1991, Tajikistan mendeklarasikan kemerdekaannya dari Uni Soviet.

Dengan kata lain, 9 September seperti sebuah meja panjang tempat sejarah menaruh hidangan yang rasanya bermacam-macam. Ada penobatan, kemerdekaan, kelahiran, olahraga, dan tragedi.

Ada pula satu peringatan internasional yang terasa semakin relevan: Hari Internasional untuk Melindungi Pendidikan dari Serangan. Peringatan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa ini bertujuan meningkatkan perhatian terhadap perlindungan siswa, guru, dan fasilitas pendidikan di wilayah konflik.

Di titik itu, sejarah kembali membawa kita kepada pertanyaan sederhana: untuk apa sebuah bangsa mengingat?

Jawabannya barangkali bukan agar manusia sibuk mengoleksi tanggal seperti mengumpulkan nomor undian.

Sejarah diperlukan supaya manusia tidak mudah keminter—merasa sudah tahu segala-galanya hanya karena hafal tahun dan nama.

9 September mengajarkan sesuatu yang lebih sederhana. Sebuah stadion dapat menjadi simbol kedaulatan. Seorang bayi dapat tumbuh menjadi pemimpin negara. Sebuah kota yang sibuk dapat berubah menjadi lokasi tragedi. Dan sebuah tanggal di kalender dapat memuat begitu banyak wajah manusia.

Maka ketika 9 September datang, ada baiknya kalender tidak buru-buru dibalik.

Berhentilah sebentar. Di satu sisi, dengarkan suara peluit pertandingan dan sorak penonton. Di sisi lain, ingat bahwa sejarah juga memiliki bunyi yang jauh lebih sunyi: kehilangan.

Sebab bangsa yang matang bukan hanya bangsa yang pandai merayakan kemenangan. Ia juga bangsa yang bersedia mengingat luka. Dan, barangkali di situlah arti sebenarnya sebuah tanggal.

Bukan sekadar angka yang berulang setiap tahun, melainkan pengingat bahwa masa lalu belum benar-benar pergi. Ia tinggal di belakang kita, sambil sesekali mengetuk pintu agar tidak dilupakan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *