JEJAK KATA, Jakarta — Peringatan dini bukan sekadar alarm di ruang kendali. Di ujung teknologi itu ada nelayan yang menentukan kapan melaut, warga pesisir yang harus mengenali ancaman tsunami, dan keluarga di daerah rawan bencana yang membutuhkan waktu untuk menyelamatkan diri.
Karena itu, teknologi harus berjalan bersama sistem yang mampu mengubah data menjadi informasi, lalu informasi menjadi tindakan.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan Presiden World Meteorological Organization (WMO) H.E. Dr. Abdulla Al Mandous di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu, 23 September 2026. Pertemuan itu membahas peluang penguatan kerja sama Indonesia, Uni Emirat Arab, dan WMO di bidang observasi, teknologi, pertukaran pengetahuan, serta peringatan dini.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan tantangan cuaca, iklim, dan bencana tidak mengenal batas negara. Karena itu, pertukaran data dan keahlian menjadi bagian penting dalam memperkuat perlindungan masyarakat.
“Kerja sama di bidang sains, teknologi, dan sistem peringatan dini memainkan peran krusial untuk melindungi masyarakat dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Faisal.
Indonesia menghadapi ancaman berlapis sebagai negara kepulauan, mulai dari cuaca ekstrem, perubahan iklim, gempa bumi hingga tsunami. BMKG terus mengembangkan prakiraan dan layanan peringatan dini, termasuk melalui kecerdasan buatan atau AI, agar informasi dapat diterima masyarakat secara cepat, akurat, dan mudah dipahami.
Indonesia juga mendukung program Early Warnings for All yang digagas WMO. Program tersebut menekankan pentingnya memastikan masyarakat yang menghadapi risiko memperoleh peringatan dan memiliki kesempatan untuk mengambil tindakan.
Al Mandous mengapresiasi pengalaman Indonesia mengelola jaringan radar cuaca. Menurut dia, radar merupakan komponen penting dalam layanan meteorologi dan memiliki ruang untuk dikembangkan melalui kerja sama.
“Saya melihat Indonesia memiliki kapasitas dan pengalaman yang sangat baik dalam pengelolaan jaringan radar cuaca,” kata Al Mandous.
Kerja sama juga diarahkan pada sistem pemantauan dan peringatan dini tsunami. Delegasi WMO meninjau fasilitas Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) BMKG, termasuk InaTEWS, MEWS, dan CEWS.
BMKG juga berkontribusi dalam WIGOS, GBON, SOFF, serta pengembangan kapasitas melalui Ina-RTC. Berbagai program itu menunjukkan bahwa peringatan dini bukan pekerjaan satu lembaga atau satu negara.
Sebab radar, satelit, sensor, dan AI hanyalah mata dan telinga. Nilainya baru terasa ketika informasi tersebut sampai kepada manusia sebelum bahaya datang.
Pada titik itulah teknologi menemukan tujuan paling sederhananya: memberi masyarakat waktu untuk menyelamatkan diri. (*






