Esai

Irvan Vs Sunadi: Ketika Video Semenit Menjadi Pengadilan Jagat Maya

×

Irvan Vs Sunadi: Ketika Video Semenit Menjadi Pengadilan Jagat Maya

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

ESAI — Di zaman ketika kamera ponsel lebih cepat bekerja daripada akal sehat, sebuah teguran di pos keamanan bisa berubah menjadi perkara nasional. Tidak perlu ruang sidang. Tidak perlu jaksa. Cukup unggah video, tambahkan sedikit narasi, lalu biarkan netizen bekerja.

Begitulah kira-kira kisah Irvan dan Sunadi bermula di sebuah kawasan perumahan CitraRaya, Tangerang.

Irvan merekam percakapannya dengan Sunadi, petugas keamanan yang menegurnya ketika keluar-masuk kawasan pada puku 2:30 WIB dini hari. Teguran itu rupanya tidak berkenan. Kamera menyala. Percakapan direkam. Video kemudian diunggah melalui akun Threads @irvanjono.

Setelah itu, algoritma mengambil alih. Video tersebut menyebar dan diunggah ulang ke berbagai media sosial, termasuk Instagram dan TikTok. Kolom komentar segera berubah menjadi ruang pengadilan. Vonis berhamburan lebih cepat daripada klarifikasi.

Dalam narasi yang beredar, Irvan menyebut dirinya sebagai warga yang keluar kompleks karena istrinya sedang sakit. Kalimat itu punya kekuatan dramatis yang sulit ditandingi. Seorang suami. Dini hari. Istri sakit. Dicegat petugas keamanan.

Lengkap sudah bahan untuk membuat seorang tokoh protagonis.

Netizen pun sebagian memberikan simpati. Irvan seolah muncul sebagai pahlawan yang baru saja menyelamatkan kompleks perumahan dari sesuatu yang entah apa. Sementara Sunadi, petugas keamanan yang wajah dan percakapannya ikut terseret ke jagat maya, mendadak memperoleh peran antagonis.

Begitulah media sosial bekerja: konteks sering datang belakangan, kalau sempat.

Masalahnya, Sunadi bukan batu di pos satpam. Ia punya versi cerita sendiri.

Dari sisi Sunadi, teguran itu berkaitan dengan aktivitas orang yang keluar-masuk kawasan pada dini hari dan tidak begitu dikenalnya. Sebagai petugas keamanan, ia merasa memiliki alasan untuk bertanya. Cara bertanya boleh diperdebatkan. Bahasa yang digunakan boleh dinilai kurang nyaman. Tetapi alasan di balik teguran tidak otomatis hilang hanya karena sebuah kamera menyala.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik. Sebab video pendek memiliki satu kelemahan besar: ia mampu merekam suara, tetapi tidak selalu mampu merekam konteks.

Satu menit percakapan dapat menjadi tontonan jutaan orang. Namun siapa yang mengetahui apa yang terjadi lima menit sebelumnya? Siapa yang tahu percakapan sebelum kamera dinyalakan? Siapa pula yang mengenal situasi keamanan di kawasan tersebut malam itu?

Netizen tentu tidak diwajibkan menjadi detektif. Tetapi mereka juga tidak otomatis menjadi hakim.

Lebih menarik lagi, persoalan ini kemudian menyeret nama pengurus lingkungan. Ketika kawasan perumahan mendadak muncul di berbagai platform media sosial, pengurus RT dan RW disebut terkejut. Apalagi muncul klaim bahwa orang yang terlibat dalam video merupakan warga di kawasan tersebut, sementara pengurus lingkungan yang disebut dalam kisah ini mengaku tidak mengenalnya sebagai warga.

Di titik itu, cerita yang semula hanya tentang teguran petugas keamanan berubah menjadi pertanyaan sederhana: siapa sebenarnya warga di sini?

Pertanyaan tersebut akhirnya membawa persoalan ke meja mediasi. Dan seperti lazimnya sebuah drama yang sudah telanjur viral, kenyataan di lapangan ternyata tidak sesederhana potongan video di layar ponsel.

Mediasi mempertemukan pihak-pihak yang berselisih. Versi masing-masing didengar. Persoalan yang semula tampak hitam-putih di media sosial ternyata memiliki lebih banyak warna ketika dibicarakan langsung.

Di jagat maya, Irvan sempat memperoleh panggung sebagai korban yang layak dibela. Di lingkungan tempat kejadian, persoalannya bisa dilihat dengan kacamata yang berbeda.

Di sinilah kita mungkin perlu berhenti sebentar. Media sosial telah mengubah manusia menjadi produsen berita sekaligus penontonnya sendiri. Seseorang bisa merekam peristiwa, mengunggahnya, memberi narasi, lalu menyaksikan ribuan orang membangun kesimpulan berdasarkan potongan kejadian yang mereka lihat.

Yang viral belum tentu lengkap. Yang ramai belum tentu benar seluruhnya. Dan yang mendapat tepuk tangan paling banyak belum tentu merupakan pihak yang paling memahami persoalan.

Ironisnya, Sunadi adalah petugas keamanan. Pekerjaannya menjaga pintu masuk. Tetapi ketika video itu beredar, batas antara pintu kompleks dan pintu penghakiman digital mendadak hilang.

Sekali wajah masuk internet, ia bisa berjalan jauh lebih cepat daripada orang yang memilikinya.

Karena itu, persoalan Irvan dan Sunadi semestinya tidak berhenti pada siapa yang menang dalam pertengkaran. Yang lebih penting adalah pelajaran tentang bagaimana sebuah peristiwa kecil dapat menjadi besar ketika dipotong, diberi narasi, kemudian dilempar ke kerumunan digital.

Mungkin Irvan merasa memiliki alasan untuk merekam. Mungkin Sunadi juga merasa memiliki alasan untuk menegur. Keduanya berhak menjelaskan versinya. Tetapi netizen sebaiknya tidak buru-buru mengambil palu hakim hanya karena menonton video berdurasi beberapa menit.

Sebab dalam pengadilan media sosial, hukuman bisa dijatuhkan dalam hitungan detik. Sementara untuk mengembalikan nama baik seseorang, kadang diperlukan waktu bertahun-tahun.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar Irvan versus Sunadi. Ini tentang kita. Tentang betapa mudahnya kita menjadi hakim ketika yang kita pegang hanya sebuah layar. Dan tentang betapa sulitnya kita menjadi manusia yang mau menunggu cerita sampai selesai.


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan