Jejak KataSoft News

Parasit pada Kucing Bisa Menular ke Manusia, Anak Kucing Lebih Rentan

×

Parasit pada Kucing Bisa Menular ke Manusia, Anak Kucing Lebih Rentan

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok. Widi Hatmoko

EDUKASI — Kucing peliharaan tak selalu bebas dari parasit yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Studi yang terbit di jurnal PLOS One pada 7 Oktober 2026 menemukan, sebagian kucing membawa Giardia duodenalis, parasit mikroskopis yang hidup di usus manusia dan hewan.

Penelitian tersebut menganalisis data pemeriksaan feses 157.616 kucing peliharaan di 49 negara bagian Amerika Serikat dan lima provinsi Kanada, pada Maret 2022 hingga Agustus 2023. Hasilnya, 6,3 persen kucing dinyatakan positif mengandung parasit tersebut.

Namun, tidak semua Giardia pada kucing memiliki risiko penularan yang sama. Dari kucing yang positif, 18,5 persen membawa assemblage A atau B, kelompok genetik yang dapat menginfeksi manusia dan hewan. Sebagian besar sisanya membawa assemblage F, yang terutama ditemukan pada kucing.

Giardia duodenalis menyebar melalui air, makanan, permukaan, atau benda yang terkontaminasi tinja. Parasit masuk ke tubuh melalui mulut, kemudian berkembang biak di usus halus. Sebagian individu yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala. Pada kasus tertentu, infeksi dapat menyebabkan diare, gangguan pencernaan, dan penurunan berat badan.

Anak kucing lebih rentan

Penelitian itu menemukan tingkat deteksi Giardia pada anak kucing mencapai 10,7 persen, sedangkan pada kucing yang lebih tua hanya 1,3 persen. Di antara anak kucing yang positif, sekitar satu dari lima membawa assemblage A atau B.

Angka deteksi juga berbeda menurut musim. Pada musim panas, prevalensinya 4,6 persen, meningkat menjadi 7,7 persen pada musim gugur dan 8,1 persen pada musim dingin.

Secara geografis, tingkat deteksi tertinggi tercatat di wilayah Midwest Amerika Serikat, yakni 7,8 persen. Sementara itu, proporsi assemblage yang berpotensi zoonosis di antara kucing positif mencapai 21,6 persen di wilayah Timur Laut dan 20 persen di wilayah Barat.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa angka infeksi keseluruhan tidak sama dengan proporsi galur yang berpotensi menginfeksi manusia. Hasil penelitian di Amerika Utara juga tidak bisa langsung digunakan untuk menggambarkan kondisi kucing di Indonesia.

Kebersihan menjadi kunci

Dalam klasifikasi genetik yang umum digunakan, assemblage A dan B dapat menginfeksi manusia serta berbagai mamalia. Kelompok C dan D lebih sering ditemukan pada anjing, E pada hewan berkuku, F pada kucing, G pada hewan pengerat, dan H pada mamalia laut seperti anjing laut. Penelitian pada 2023 mengusulkan pembagian Giardia menjadi delapan spesies berdasarkan perbedaan genetik.

Untuk mengurangi risiko, pemilik perlu membersihkan kotak pasir secara rutin, mencuci tangan setelah menangani kotoran, serta mencegah makanan dan air minum terkontaminasi. Pemeriksaan feses perlu dipertimbangkan jika kucing mengalami diare atau memiliki faktor risiko tertentu. Dokter hewan dapat menentukan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

Kewaspadaan perlu ditingkatkan di rumah yang dihuni anak kecil, lansia, atau orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Meski demikian, temuan ini bukan alasan untuk menjauhi kucing. Pesannya sederhana: kedekatan dengan hewan peliharaan perlu disertai kebersihan, perawatan, dan pemahaman terhadap risiko penularan penyakit. (*

Tinggalkan Balasan