HeadlineSeni dan Hiburan

Jika Dunia Punya Picasso, Indonesia Punya Lima Maestro yang Mengguncang Kanvas

×

Jika Dunia Punya Picasso, Indonesia Punya Lima Maestro yang Mengguncang Kanvas

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

SENI BUDAYA — Dunia mengenal Pablo Picasso melalui Guernica, lukisan monumental yang merekam horor perang, dan Les Demoiselles d’Avignon, karya yang mengguncang pakem seni rupa modern. Picasso bukan sekadar pelukis. Ia mengubah cara manusia memandang bentuk, warna, dan kenyataan.

Indonesia juga memiliki para maestro yang tak kalah menarik. Mereka tidak semuanya melukis dengan gaya yang sama, tidak pula menyuarakan kegelisahan yang serupa. Ada yang menumpahkan cat seperti sedang bergulat dengan kanvas, ada yang menyelipkan perlawanan terhadap kolonialisme, ada pula yang merekam kehidupan rakyat kecil ketika kemerdekaan masih menjadi cita-cita yang diperjuangkan.

Dalam momentum Hari Seniman Internasional yang diperingati setiap 25 Oktober, nama-nama mereka layak kembali dibicarakan. Bukan semata karena lukisannya mahal atau namanya terpampang di buku sejarah, melainkan karena karya mereka menyimpan cerita tentang manusia, kekuasaan, dan zamannya.

Jika Picasso mengubah bahasa seni rupa dunia, lima maestro Indonesia ini membuktikan bahwa kanvas dari Nusantara juga memiliki suara yang khas. Mereka adalah Raden Saleh, Affandi, S. Sudjojono, Basoeki Abdullah, dan Hendra Gunawan.

1. Raden Saleh: Melawan Kolonialisme dengan Kuas

Jauh sebelum istilah seni rupa modern Indonesia menjadi perbincangan, Raden Saleh Syarif Bustaman (1811–1880) telah melanglang buana di Eropa. Ia mempelajari teknik melukis Barat dan mengembangkan gaya romantisme yang dramatis. Namun, keistimewaannya bukan sekadar kemampuan melukis yang membuat orang Eropa terpukau.

Pada 1857, Raden Saleh menyelesaikan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan ini merekam peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda di Magelang pada 1830, yang menandai berakhirnya Perang Jawa.

Sepintas, lukisan itu terlihat seperti adegan sejarah biasa: seorang pangeran dikelilingi para perwira kolonial. Namun, Raden Saleh tidak sekadar memindahkan peristiwa ke atas kanvas. Ia memberikan sikap dan martabat kepada Diponegoro, berbeda dari penggambaran kolonial yang cenderung menempatkan sang pangeran sebagai pihak yang menyerah.

Di tangan Raden Saleh, Diponegoro bukan tokoh yang kehilangan kehormatan. Ekspresi dan posisi tubuhnya menghadirkan kesan perlawanan, bahkan ketika ia telah ditangkap. Lukisan itu menjadi salah satu karya penting dalam pembacaan sejarah dan tumbuhnya kesadaran kebangsaan Indonesia.

Karya tersebut kini menjadi koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional.

Raden Saleh menunjukkan bahwa seorang pelukis tidak harus mengangkat senjata untuk menyampaikan sikap politik. Ia bisa menggunakan komposisi, ekspresi, dan sudut pandang. Di tengah kolonialisme, kanvasnya menjadi ruang untuk merebut kembali martabat yang berusaha dirampas kekuasaan.

2. Affandi: Ketika Cat Tak Lagi Mau Tunduk pada Kuas

Jika Raden Saleh mengandalkan drama sejarah, Affandi Koesoema (1907–1990) memilih jalan yang lebih liar. Ia dikenal dengan gaya ekspresionis yang menonjolkan emosi, gerak, dan spontanitas. Lukisannya tidak selalu berusaha membuat dunia tampak indah. Ia justru membiarkan kegelisahan manusia muncul melalui sapuan warna yang kasar dan penuh tenaga.

Affandi dikenal dengan teknik melukis menggunakan cat minyak yang dikeluarkan langsung dari tubenya, kemudian digerakkan menggunakan jari atau tangan. Teknik yang kerap disebut plototan itu menghasilkan garis tebal, tekstur kuat, dan kesan emosional yang sulit diperoleh melalui sapuan kuas konvensional.

Pada Affandi, proses melukis seperti pertarungan fisik. Cat bukan sekadar bahan pewarna, melainkan sesuatu yang harus didorong, ditekan, dan diarahkan mengikuti gejolak perasaan. Kanvasnya seolah tidak cukup menampung emosi jika hanya diperlakukan dengan sopan.

Karya seperti Ibuku dan berbagai potret dirinya memperlihatkan ketertarikannya pada manusia, terutama ekspresi wajah, tubuh, dan pergulatan batin. Ia tidak selalu mengejar kemiripan fotografis. Yang lebih penting adalah menangkap sesuatu yang tersembunyi di balik wajah.

Pengakuan terhadap Affandi juga melampaui Indonesia. Ia mengikuti berbagai pameran internasional dan dikenal dalam percakapan seni rupa modern dunia. Namun, kebesaran Affandi bukan semata-mata karena ia pernah berpameran di luar negeri. Ia berhasil membangun bahasa visual yang khas, yang membuat karyanya dapat dikenali tanpa harus membaca tanda tangan di sudut kanvas.

Jika Picasso membongkar bentuk menjadi bidang-bidang geometris, Affandi membiarkan bentuk bergetar dalam luapan emosi. Keduanya memperlihatkan bahwa seni modern tidak harus tunduk pada satu cara melihat kenyataan.

3. S. Sudjojono: Menolak Indonesia yang Terlalu Cantik

Sindu Sudjojono, lebih dikenal sebagai S. Sudjojono (1913–1986), mempunyai kegelisahan berbeda. Ia tidak puas dengan lukisan pemandangan yang hanya menampilkan gunung, sawah, pohon kelapa, dan kehidupan desa yang tenteram. Baginya, Indonesia bukan sekadar negeri yang pantas dipajang sebagai kartu pos.

Ia mengkritik kecenderungan Mooi Indie, atau Hindia Molek, yang dianggap terlalu menonjolkan keindahan alam dan mengabaikan kenyataan sosial. Di tengah kolonialisme dan pergolakan menuju kemerdekaan, Sudjojono ingin seni rupa berbicara tentang kehidupan yang sesungguhnya.

Baginya, lukisan bukan sekadar soal teknik yang rapi atau pemandangan yang sedap dipandang. Karya seni harus mengandung pengalaman, kejujuran, dan sikap pelukis terhadap kenyataan. Pandangan tersebut ikut membentuk perkembangan seni rupa modern Indonesia.

Melalui karya seperti Kawan-kawan Revolusi, Sudjojono merekam wajah-wajah manusia yang berada di tengah pergolakan sejarah. Mereka bukan tokoh ideal yang selalu tampak gagah. Wajah dan tubuh mereka membawa jejak kelelahan, ketegangan, serta pengalaman hidup yang nyata.

Sudjojono juga berperan dalam membangun kesadaran bahwa seniman Indonesia perlu memiliki identitas sendiri. Seni rupa tidak semestinya terus-menerus mengukur keberhasilannya dengan selera pasar atau standar keindahan yang diwariskan dari luar.

Di sinilah letak relevansinya dengan Picasso. Keduanya, dalam konteks dan jalur berbeda, menantang cara pandang yang sudah mapan. Jika Picasso mengguncang aturan bentuk dan perspektif, Sudjojono menggugat cara Indonesia menggambarkan dirinya sendiri.

Ia mengingatkan bahwa negeri ini tidak hanya terdiri atas pemandangan indah. Ada kemiskinan, ketimpangan, perjuangan, dan kehidupan rakyat yang tidak selalu fotogenik. Semua itu juga layak masuk ke dalam kanvas.

4. Basoeki Abdullah: Sang Maestro yang Memburu Keindahan

Basoeki Abdullah (1915–1993) menempuh jalur yang berbeda dari Sudjojono. Jika Sudjojono menuntut seni agar berani berhadapan dengan kenyataan sosial, Basoeki dikenal melalui kemampuan realisme dan naturalisme yang menonjolkan kehalusan teknik, detail, dan keindahan visual.

Ia piawai melukis potret, pemandangan alam, serta figur yang bersumber dari sejarah dan mitologi. Sosok yang dilukisnya sering tampak hidup, dengan permainan cahaya, anatomi, dan ekspresi yang dikerjakan secara cermat.

Salah satu karya yang dikenal luas adalah Nyi Roro Kidul, yang mengangkat figur penguasa laut selatan dalam imajinasi budaya Jawa. Melalui lukisan itu, Basoeki mempertemukan keterampilan realistik dengan dunia legenda yang hidup dalam ingatan masyarakat.

Namanya juga dikenal melalui karya potret tokoh-tokoh penting. Ia pernah terlibat dalam sayembara melukis potret Ratu Juliana di Belanda pada 1948. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan karier internasionalnya.

Basoeki memperlihatkan bahwa keindahan bukan perkara sepele dalam seni. Teknik yang matang, pengamatan yang tajam, dan kemampuan menghidupkan objek membutuhkan keterampilan panjang. Namun, keindahan yang ia tawarkan bukan satu-satunya ukuran seni rupa Indonesia. Justru keberagaman pendekatan para maestro menunjukkan bahwa seni tidak bisa dipaksa berjalan di satu lorong.

Jika Sudjojono ingin lukisan membuka mata terhadap kenyataan yang keras, Basoeki menawarkan kemampuan untuk melihat kehalusan bentuk dan daya pikat figur. Keduanya memperkaya seni rupa Indonesia melalui pilihan artistik yang berbeda.

5. Hendra Gunawan: Rakyat Kecil sebagai Tokoh Utama

Hendra Gunawan (1918–1983) menempatkan rakyat kecil di pusat dunia lukisnya. Petani, nelayan, perempuan, pedagang, dan kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari karya-karyanya. Ia menghadirkan masyarakat bukan sekadar sebagai latar, melainkan sebagai manusia dengan pengalaman dan martabatnya sendiri.

Gaya ekspresionisnya tampak melalui warna-warna kuat, bentuk tubuh yang khas, serta komposisi yang tidak selalu mengikuti proporsi realistis. Figur-figur dalam lukisannya bisa tampak memanjang atau berubah bentuk, tetapi justru di situlah muncul energi yang membuat karya-karyanya terasa hidup.

Dalam Pengantin Revolusi (1955), Hendra menghadirkan suasana yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat pada masa revolusi. Sementara itu, karya seperti Menguliti Petai memperlihatkan bagaimana aktivitas sehari-hari dapat menjadi tema seni yang kuat tanpa harus menunggu peristiwa besar.

Pilihan tersebut menjadikan Hendra berbeda dari pelukis yang lebih menonjolkan keindahan alam atau potret tokoh penting. Ia memberi ruang kepada orang-orang yang dalam catatan sejarah sering hanya muncul sebagai angka, massa, atau pelengkap cerita.

Perjalanan hidupnya juga tidak terlepas dari pergolakan politik. Hendra pernah ditahan pada masa Orde Baru dan menjalani masa penahanan di Pulau Nusakambangan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam pembacaan perjalanan hidup dan karya-karyanya, meskipun makna setiap lukisan tetap perlu ditelaah berdasarkan konteks penciptaannya.

Hendra menunjukkan bahwa seni rupa tidak harus selalu berbicara dari ruang elite. Kehidupan rakyat biasa pun menyimpan drama, keindahan, konflik, dan harapan. Di tangannya, mereka memperoleh tempat yang layak di atas kanvas.

Lima Pelukis, Lima Cara Melihat Indonesia

Raden Saleh menggunakan lukisan sejarah untuk menghadirkan martabat dan perlawanan. Affandi menjadikan warna serta tekstur sebagai saluran emosi. Sudjojono menolak keindahan yang menutupi kenyataan sosial. Basoeki Abdullah menunjukkan ketelitian realisme dan daya pikat figur. Hendra Gunawan membawa kehidupan rakyat kecil ke pusat perhatian.

Mereka tidak memiliki satu gaya yang seragam. Justru perbedaan itulah yang membuat perjalanan seni rupa Indonesia menarik. Sejarah seni bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling hebat, melainkan ruang untuk memahami bagaimana para seniman membaca zamannya melalui pilihan bentuk, warna, tema, dan teknik.

Hari Seniman Internasional semestinya menjadi kesempatan untuk melihat kembali karya-karya tersebut, bukan hanya mengagumi nama besar yang tercetak dalam buku sejarah. Museum, galeri, ruang publik, sekolah, dan media memiliki peran dalam memperkenalkan seni kepada generasi baru.

Picasso telah menjadi salah satu ikon seni modern dunia. Namun, Indonesia tidak perlu menjadi bayangan Picasso untuk memiliki kebanggaan artistik. Para maestro Indonesia memiliki sejarah, bahasa visual, dan pengalaman sosial yang berbeda. Mereka berbicara dari tempat mereka berpijak, dengan persoalan yang mereka kenal.

Pada akhirnya, ukuran kebesaran seorang pelukis bukan hanya seberapa mahal lukisannya dilelang atau seberapa sering namanya disebut di luar negeri. Ada warisan yang lebih panjang: cara ia mengubah pandangan manusia terhadap dunia.

Dan di atas kanvas para maestro itu, Indonesia tidak hanya tampil sebagai negeri yang indah. Ia hadir sebagai bangsa yang pernah dijajah, berjuang, bergolak, mencintai keindahan, dan terus mencari cara untuk memahami dirinya sendiri. (*

Tinggalkan Balasan