JEJAK KATA, Lasem — Di sebuah sudut Desa Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, berdiri sebuah bangunan yang telah menjadi saksi perjalanan panjang Nusantara. Namanya Klenteng Cu An Kiong, sebuah rumah ibadah yang tidak hanya menyimpan nilai spiritual, tetapi juga merekam kisah pertemuan berbagai peradaban yang pernah singgah di pesisir utara Jawa.
Dinding-dinding tuanya seolah menyimpan cerita tentang pelayaran, perdagangan, migrasi, hingga lahirnya harmoni budaya yang masih bertahan lebih dari enam abad kemudian.
Menurut tokoh masyarakat Tionghoa Lasem, Sie Hwie Djan, yang akrab disapa Pak Gandor, usia pasti klenteng ini memang sulit dipastikan. Arsip sejarah yang pernah dimiliki tiga klenteng tua di Lasem dilaporkan hilang sejak 1966 dan hingga kini belum pernah ditemukan kembali.
Namun, secercah petunjuk muncul dari sebuah peta kuno yang tersimpan di sebuah museum di Kota Leiden, Belanda. Dalam peta bertahun 1411 itu, nama Cu An Kiong telah tercantum sebagai salah satu penanda kawasan Lasem.
“Kalau mengacu pada peta tersebut, berarti klenteng ini sudah ada pada tahun 1411. Kemungkinan besar keberadaannya bahkan lebih tua, diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-13 atau ke-14,” tutur Pak Gandor.
Jika temuan itu benar, Cu An Kiong menjadi salah satu klenteng tertua yang masih berdiri di Indonesia, sekaligus penanda penting jalur maritim Nusantara pada masa lampau.
Bagi sejarawan Lasem, Edi Winarno, keberadaan Cu An Kiong tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang migrasi masyarakat Tionghoa ke pesisir Jawa. Lasem sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai pelabuhan penting yang menjadi tempat berlabuh para pedagang dari berbagai negeri.
Mereka datang membawa bahasa, tradisi, teknologi, hingga kepercayaan. Namun, alih-alih menghapus budaya lokal, perjumpaan itu justru melahirkan akulturasi yang memperkaya identitas Lasem.
Salah satu bab penting dalam sejarah tersebut berkaitan dengan ekspedisi Laksamana Cheng Ho pada abad ke-15. Menurut Edi, rombongan yang dipimpin Bi Nang Un—tokoh yang berasal dari wilayah Champa dan ikut dalam pelayaran Cheng Ho—membawa pengaruh Islam sekaligus memperkenalkan beragam pengetahuan, mulai dari seni pertunjukan, kerajinan, hingga tradisi membatik yang kemudian berkembang di Lasem.
Sejumlah catatan sejarah lokal bahkan menyebut kawasan yang kini menjadi lokasi Klenteng Cu An Kiong diyakini pernah menjadi tempat berdirinya sebuah masjid pada masa awal penyebaran Islam melalui rombongan Cheng Ho. Seiring berjalannya waktu, gelombang migrasi berikutnya dari Tiongkok membawa tradisi Konfusianisme yang kemudian berkembang di kawasan tersebut.
Meski demikian, para sejarawan menilai kisah ini masih menjadi bagian dari kajian sejarah yang terus diteliti dan diperkaya melalui berbagai sumber serta temuan arkeologis.
Memasuki abad ke-16, penyebaran Islam di Lasem kembali menguat melalui para ulama, termasuk jaringan Wali Songo yang turut singgah di kawasan pesisir utara Jawa. Sejak saat itu, berbagai tradisi keagamaan tumbuh berdampingan dan membentuk wajah Lasem yang dikenal hingga sekarang.
Barangkali, inilah keistimewaan Lasem. Kota kecil ini tidak hanya menyimpan bangunan tua, tetapi juga mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar tentang siapa yang datang lebih dahulu. Sejarah adalah tentang bagaimana berbagai kebudayaan saling bertemu, beradaptasi, dan akhirnya hidup berdampingan.
Di halaman Klenteng Cu An Kiong, jejak itu masih terasa. Denting lonceng, aroma dupa, dan bangunan tua yang tetap terawat menjadi pengingat bahwa harmoni bukanlah warisan yang muncul begitu saja, melainkan hasil dari perjalanan panjang yang dijaga oleh banyak generasi.
Cu An Kiong pun tidak hanya berdiri sebagai tempat ibadah. Ia adalah penanda bahwa pesisir Lasem pernah menjadi simpul penting peradaban maritim Nusantara, tempat berbagai bangsa bertemu, bertukar budaya, dan meninggalkan warisan yang masih dapat disaksikan hingga hari ini. (*






