DALAM perspektif budaya patriarkis, perempuan harus melakukan apa pun demi memuaskan laki-laki. Tidak peduli hal itu harus menyangkal dirinya sendiri. Terutama untuk urusan ranjang. Bila tidak, maka perempuan akan dicampakkan. Laki-laki akan mencari perempuan lain yang mampu memuaskan hasratnya, yang rela menyediakan diri menjadi korban demi menjaga martabat dan harga diri laki-laki.
Film ‘Gowok, Kamasutra Jawa‘ garapan Hanung Bramantyo dituturkan dengan perspektif sebaliknya, atau paling tidak setara dalam relasi laki-perempuan. Perempuan boleh memuaskan laki-laki sejauh dia juga nyaman dan tidak merasa dipaksa. Perempuan tidak boleh sakit dan menderita hanya demi kepuasan laki-laki. Gowok, dalam tradisi Jawa (Tengah), adalah semacam praktik memberi pelatihan bagi remaja laki-laki yang menuju dewasa dan hendak menikah. Yang memberi pelatihan umumnya adalah seorang perempuan yang mahir dalam bercinta, dia yang disebut Gowok.
Gowok dipercaya oleh keluarga-keluarga bangsawan atau saudagar untuk mengajari anak-anak mereka tentang seks. Dalam bahasa sekarang sex education. Gowok mengajari laki-laki akil balig bagaimana kelak bercinta dan memuaskan pasangannya di ranjang. Jadi bukan hanya laki-laki yang puas dan senang, tetapi juga harus tahu bagaimana memuaskan perempuan. Maka laki-laki harus belajar, tidak boleh egois.
Dikisahkan Ratri (Alika Jantinia), anak dari seorang pelacur, tanpa mengetahui siapa ayahnya. Sejak bayi, Ratri diasuh oleh Nyai Santi (Lola Amaria), seorang gowok yang bijaksana dan disegani. Ratri tumbuh menjadi gadis cantik dan berbakat, dididik untuk meneruskan ilmu gowokan Nyai Santi. Sebelum waktunya, Ratri jatuh cinta pada Kamanjaya (Devano Danendra), seorang remaja dari keluarga terpandang.
Ratri dan Kamanjaya bercinta. Kamanjaya berjanji akan menikahi Ratri, namun ia mengingkari janjinya. Dua puluh tahun kemudian, Ratri (Raihaanun) bertemu kembali dengan Kamanjaya (Reza Rahadian) yang kini membawa putranya, Bagas (Ali Fikry), untuk belajar di bawah asuhan Nyai Santi. Bagas jatuh cinta pada Ratri, tanpa tahu hubungan masa lalu orang tua mereka. Ratri pun menggunakan pesonanya untuk membalas dendam.
Lewat film ini Hanung seolah mau menegaskan bahwa dirinya telah kembali ke jalan yang ‘benar’. Seperti diketahui sejak menggarap ‘Ayat Ayat Cinta‘ (2008) Hanung dianggap melanggengkan patriarkis. Hanung lalu membuat pertobatan lewat film ‘Perempuan Berkalung Sorban‘ (2009). Film Gowok tidak hanya sebuah gugatan kepada patriarkis tetapi juga kepada stigma Partai Komunis Indonesia (PKI).
Alur kisah film ini mengalir dan mampu mengikat penonton. Pemilihan pemain dan akting setiap karakter tergarap dengan mulus. Devano Danendra yang bermain sebagai Kamanjaya muda tampil dengan penghayatan yang bagus sekali, sehingga tidak terputus dengan Kamanjaya dewasa yang dimainkan Reza Rahadian. Akting Lola Amaria dan Raihanun membuat film ini makin menarik sebagai sebuah tontonan yang bukan hanya menyajikan kisah erotisisme tradisi gowok, tapi juga gugatan feminis terhadap patriarkis.
Selain itu film ini menarik karena mengangkat sebuah tradisi yang hampir punah dan terlupakan. Tradisi Gowok bahkan dianggap tabu dan memalukan, karena itu sengaja ditutup-tutupi. Upaya melupakan atau menutup-nutupi diduga bukan hanya soal menjaga martabat para bangsawan Jawa, tapi juga ihwal martabat laki-laki. Perempuan tidak boleh dominan dari laki-laki. Film ini memberi tahu generasi terkini, terutama Zilenial tentang tradisi Gowok, dan tentu saja tentang bahwa yang berkewajiban menyenangkan pasangannya bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki! Sebelum Gowok, kita juga pernah mendapatkan film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ (2018) garapan Garin Nugroho, yang mengangkat tradisi masyarakat Jawa yang dianggap tabu: gemblak.
Meskipun bertema seks education, dalam film ‘Gowok, Kamasutra Jawa’ Hanung tidak menampilkan adegan erotis secara vulgar. Seks sebagai topik utama divisualkan secara elegan dan berkelas. Dalam arti sesuai dengan kebutuhan alur cerita, tidak kurang tidak lebih. Dari semua keunggulan yang dipaparkan di atas, kelemahan film ini adalah terlalu banyak yang diingin dijejalkan. Sehingga terkesan seperti serial yang dipadatkan. (*






