Soft News

Ilmu Rawa Rontek, Ajian Antikematian dari Jawa

×

Ilmu Rawa Rontek, Ajian Antikematian dari Jawa

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI | Istimewa

BILA Anda generasi Baby Boom dan pernah menonton film ‘Jaka Sembung‘, mungkin Anda akan mengenal sebuah ajian bernama rawa rontek. Ajian ini, seperti digambarkan dalam film tersebut mampu membuat pemiliknya kebal dari kematian meski tubuhnya telah dicacah oleh senjata tajam sepanjang jasadnya tersebut masih menyentuh tanah. Satu-satunya cara untuk membunuh pemilik ajian ini adalah dengan menggantung jasadnya atau melepaskan ajian yang dimilikinya. Namun melepaskan ajian ini tidak mudah, harus ada keturunan yang bersangkutan yang mau mewarisi dan sanggup menjalani persyaratannya yang tidak ringan.

Ajian rawa rontek bukan hanya mitos dan legenda yang hidup di tanah Jawa. Bahkan sampai era modern saat ini, meskipun sudah sangat langka, masih ada orang yang memiliki ajian ini. Sebagaimana dituturkan Jampang dalam podcast Dunia Mencekam, kakeknya adalah pemilik terakhir ajian rawa rontek. Usia kakeknya ini sudah mencapai seratus tahun lebih. Ajian rawa rontek yang ia miliki mencegahnya mati meski dia sudah lelah menjalani hidup dan ingin mati. Kakek Jampang merahasiakan kepemilikan ajian rawa rontek dari keluarganya.

“Suatu hari saya dipanggil kakek saya. Dia mengajak saya bicara empat mata, dia ingin mewariskan ajian rawa rontek, karena dia sudah lelah dan ingin mati,” kata Jampang yang merupakan generasi ketujuh pemilik ajian rawa rontek.

Jampang mengaku terkejut dan sempat tergiur untuk mau menerima warisan ajian rawa rontek sekalipun syaratnya berat. “Saya berpikir ini adalah kesempatan saya bisa melakukan apa yang selama ini ingin saya lakukan,” kata Jampang.

Salah satu syarat mewarisi ajian rawa rontek adalah dengan bertapa selama empatpuluh hari empatpuluh malam. Jadi kalaupun Jampang mau, tetapi apabila dia tidak dapat menjalani syaratnya, maka ajian tersebut akan mental.

Tetapi niat itu hanya muncul sepintas. Dengan cepat pikiran dan nurani Jampang menolak tawaran kakeknya. Menurut Jampang itu adalah jalan yang tidak baik. “Saya tidak mau mewarisi hal-hal yang buruk dan membuat hidup saya nggak tenang,” akunya.

Menurut Jampang, kematian para pemilik ajian rawa rontek bukan hanya sulit dan menyakitkan, tetapi juga arwahnya tidak tenang. “Jadi setan merakayangan yang sering mengganggu manusia, menggoda mereka ke jalan keburukan,” kata Jampang.

Ajian rawa rontek membuat pemiliknya menjadi jahat karena merasa tidak ada yang bisa membunuhnya. Mereka bisa melakukan apa saja karena tak ada orang yang berani menghadapi ajian tersebut. “Saya ingin hidup menjadi orang biasa. Damai tenteram meski hidup sederhana,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *