Tak dipungkiri, menurut Abraham, kaum milenial saat ini menjadi kurang percaya kepada politik lantaran kurang nyambungnya komunikasi antara milenial dengan legislatif.
“Mungkin selama ini mereka (milenial) suaranya kurang didengar. Sehingga perlu adanya ‘wajah baru’ dan regenerasi dalam kepemimpinan yang modern dan cocok dengan suasana kebatinan milenial,” ujar jebolan James Cook University Singapura pada usia 19 tahun itu.
Terinspirasi Keluarga Pejuang.
Selain itu, Abraham juga menyebut, bahwa dirinya merambah dunia politik karena terinspirasi keluarganya yang juga pejuang suara nurani rakyat.
Kata dia, dulu kakeknya juga merupakan anggota DPRD di Sukoharjo dan Solo dari PNI. Walaupun anggota DPRD saat itu, tapi dirinya hidup sangat miskin.
“Dan kalau Kakek saya berangkat kerja itu pakai sepatu, tapi pulangnya tidak pakai sepatu karena dikasihkan ke orang lain. Ini juga yang telah menginspirasi saya dalam mendedikasikan untuk memperjuangkan rakyat,” ungkapnya.
Kemudian ketika kuliah dan beranjak dewasa, lanjut Abraham, dirinya melihat banyak teman-temannya kalangan milenial yang suara aspirasinya kurang tersuarakan dan kurang sejahtera.
“Jadi inspirasi ini menjadi sebuah komitmen saya nanti berusaha memperhatikan dan memperjuangkan suara teman-teman milenial,” ucapnya.






