Peran serta DLHK Kabupaten Tangerang untuk perlindungan, pelestarian sebagai kawasan suaka alam baik untuk perairan laut atau pesisir di kawasan wisata Ketapang Urban Aquaculture adalah dengan melakukan konservasi hutan mangrove di sepanjang kawasan itu.
“Sejak 2014 sudah ada 720ribu (batang mangrove yang ditanam di kasawan ini-red),” kata Kepala DLHK.
Dengan adanya taman konservasi mangrove di kawasan ini, kata Kepala DLHK, ikan-ikan yang dulunya “stunting” kini tumbuh lebih baik. Itu artinya konservasi mangrove di kawasan ini sangat bermanfaat, disamping juga untuk menekan tingkat abrasi di kawasan tersebut.
Tak cukup sampa di situ, Pemkab Tangerang melalui DLHK juga membangun Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) komunal. Sistem IPAL komunal ini diharapkan dapat menjadi solusi, yang diantaranya masalah sanitasi serta limbah rumah tangga lainnya yang seringkali muncul akibat pembuangan secara sembarangan, yang pada akhirnya dapat merusak ekosistem perairan yang menjadi sumber air untuk dikonsumsi warga sekitar.
Kepala DLHK juga berharap, setelah Partnership in Environmental Management for the Seas of East Asia (PEMSEA) Network of Local Government (PNLG) 2022, kawasan wisata Ketapang Urban Aquaculture ini bisa dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya.

“Pascanya itulah yang sama-sama kita pelihara sebaik-baiknya. Masyarakat dengan pemerintah bisa berkolaborasi supaya dapat menjaga, memelihara apa yang sudah dibangun oleh pemerintah pusat dan Pemerintah kabupaten Tangerang, sehingga kedepannya akan lebih bermanfaat bagi masyarakat setempat,” pungkasnya. (Advertorial)






