“Kita juga secara berkala akan menyediakan pemeriksaan kanker di puskesmas. Keempat strategi ini harus dilakukan bersama-sama lintas sektor untuk memberikan informasi dan edukasi seluas-luasnya,” ujar dr. Eva, Sabtu (03/12/2022).
Menurut dr. Eva, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang minim pengetahuan dan informasi terkait kanker khususnya ovarium jika dibandingkan dengan payudara atau serviks. Hal ini menjadi salah satu penghambat upaya deteksi dini dan pencegahan lebih awal. Di dunia kanker ovarium merupakan penyebab kematian nomor delapan bagi perempuan, sedangkan di Indonesia Di Indonesia, berada di peringkat ketiga dari sisi insiden dan tingkat kematian.
BACA JUGA: Ji Chang-wook Sisihkan Pendapatannya untuk Korban Bencana Cianjur
Hak ini pulalah, kata dr. Eva, yang menjadikan Kemenkes semakin menggencarkan kampanye deteksi dini untuk kanker ovarium. Penyebaran informasi ini pun dilakukan melalui berbagai media termasuk media sosial (Medsos) TikTok agar lebih menarik perhatian masyarakat, khususnya anak muda untuk memiliki kesadaran dalam melakukan pemeriksaan dini.
“Kita membuat edukasi, melalui sosial media melalui influencer agar orang-orang mau deteksi dini, agar penanganannya juga lebih baik dan ini membutuhkan dukungan berbagai pihak,” katanya.
BACA JUGA: ASTRA Infra Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Korban Gempa Cianjur
Selain itu, Kemenkes juga melakukan transformasi layanan kesehatan pada tingkatan primer dengan memberikan peralatan yang lebih baik di puskesmas serta penyuluhan kepada petugas medis tentang deteksi dini kanker.
“Pertama memang kita masih di kanker payudara karena jumlahnya banyak banget, kemudian kanker serviks. Kader-kader posyandu juga kita perkuat pengetahuan mereka untuk mengajak masyarakat usia produktif untuk periksa kanker,” tandasnya.






