Bupati meminta Dinas Pendidikan dan seluruh stakeholder terkait benar-benar bisa memberikan pemahaman sejelas-jelasnya tentang sekolah hybrid kepada para siswa, orang tua dan masyarakat. Dia berharap sekolah hybrid tidak mengesampingkan pengembangan karakter karakter dan pendidikan budi pekerti yang diajarkan secara langsung di sekolah-sekolah.
“Karena anak-anak SMP pun mereka butuh adaptasi dengan lingkungan sekolah pengembangan karakter dan juga pendidikan budi pekerti yang diajarkan secara langsung di kelas,” tuturnya.
Menurut Bupati, tantangan pelaksanaan sekolah hybrid adalah sarana gadgetnya. Untuk itu, nantinya Pemerintah Kabupaten Tangerang akan memberikan bantuan gadget dari APBD ataupun dengan kolaborasi dengan swasta melalui CSR perusahaan untuk sekolah-sekolah sehingga anak-anak yang belum memiliki gadget bisa meminjam ke sekolah.
“Urgensi dilaksanakannya pembelajaran atau sekolah hybrid di Kabupaten Tangerang ini karena didasari pada jumlah lulusan sekolah dasar di Kabupaten Tangerang yang terserap di Sekolah Menengah Pertama Negeri hanya sekitar 45% lebih,” ungkapnya.






