Menceritakan keberadaan Gajah Barong di desa tersebut, menurut Nurdin, karena waktu itu Gajah Barong sedang menghadiri sebuah pesta di wilayah Pesanggerahan, yang saat ini menjadi nama sebuah desa di wilayah tersebut. Karena Gajah Barong waktu itu mengenakan pakaian compang-camping, dan tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang prajurit atau pengawal Sultan Maulana Hasanudin, ia tidak dianggap oleh orang-orang yang berada di arena pesta tersebut.
Melihat sikap warga desa yang dinilai terlalu membeda-bedakan kasta serta tidak mau menerima kehadirannya, Gajah Barong pun pergi meninggalkan tempat itu.
Tidak cukup sampai di situ, setelah beberapa waktu ia menghilang dari warga yang menghinanya tersebut, dia kembali datang dengan penampilan yang berbeda dengan sebelumnya. Gajah Barong nampak terlihat gagah mengendarai kuda dengan pakaian keprajuritan.
Sontak, warga yang sebelumnya menghinanya, berubah menjadi begitu baik dan terkagum-kagum terhadap sosok Gajah Barong. Namun sikap kagum serta hormat warga desa tersebut tidak membuat sosok Gajah Barong luluh. Justru malah membuatnya semakin geram. Karena, sikap dan prilaku warga desa terhadap dirinya itu dinilai hanya berpura-pura.
Pada saat para warga mempersilahkan Gajah Barong masuk ke arena pesta, dia menolak. Dengan suara lantang Gajah Barong melontarkan kalimat-kalimat pedas terhadap warga dan yang punya hajat.
“Oh, begini orang di kampung ini hanya melihat pakaian dan kendaraan, kalau orang biasa tidak digubris,” begitulah kalimat Gajah Barong yang dikutip dari buku Inventarisasi dan Dokumentasi Data Seni Budaya Kabupaten Tangerang yang diterbitkan Disporbudpar Kabupaten Tangerang tahun 2014.






