EsaiJejak Kata

Legasi Duterte yang Kontroversi dan Hubungan Baik Filipina dengan Indonesia

×

Legasi Duterte yang Kontroversi dan Hubungan Baik Filipina dengan Indonesia

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

RODRIGO Duterte, adalah presiden Filipina yang menjabat dari 2016 hingga 2022. Duterte menjadi salah satu pemimpin yang paling kontroversial dalam sejarah negara tersebut. Gaya kepemimpinannya yang keras, penuh dengan retorika tajam dan kebijakan yang kadang melawan norma internasional, membuat banyak orang memandangnya dengan beragam pendapat.

Beberapa menganggap, Duterte sebagai pemimpin yang berani dan tegas, sementara yang lain mengkritiknya sebagai otoriter yang mengabaikan hak asasi manusia. Keberhasilannya dalam memerangi narkoba, mengurangi tingkat kriminalitas, serta memperbaiki infrastruktur negara menjadi salah satu capaian yang patut diakui, tetapi kebijakan-kebijakan kontroversialnya tak bisa dibiarkan begitu saja.

Keberhasilan yang Membuat Filipina Aman dan Kunjungan Duterte ke Indonesia

Salah satu kebijakan paling menonjol dari Duterte adalah “perang terhadap narkoba.” Kampanye ini disambut baik oleh banyak warga Filipina yang merasa negara mereka semakin tidak aman akibat tingginya tingkat kejahatan yang berhubungan dengan narkoba. Dengan pendekatan yang sangat keras, Duterte memerintahkan polisi untuk menindak tegas pengedar dan pengguna narkoba, bahkan dengan cara yang sangat brutal. Hasilnya, tingkat kejahatan turun drastis di banyak kota besar, dan banyak orang merasa lebih aman berjalan di jalanan.

Namun, meskipun ada hasil yang tampak positif, perang melawan narkoba Duterte menyisakan banyak masalah besar. Ribuan orang yang diduga terlibat narkoba tewas dalam operasi yang seringkali tidak memperhatikan proses hukum yang jelas. Banyak yang menganggap hal ini sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang sangat serius. Laporan-laporan internasional menyebutkan bahwa banyak korban yang tidak diberikan kesempatan untuk membela diri atau diadili dengan adil. Bahkan organisasi-organisasi internasional, seperti PBB dan Human Rights Watch, mengecam keras kebijakan ini, yang dianggap lebih banyak berfokus pada pembunuhan daripada solusi jangka panjang. Jadi, meskipun ada penurunan kejahatan, banyak pihak merasa bahwa kebijakan ini memunculkan ketidakadilan dan kekerasan yang tak terkontrol.

Pada 2017, Presiden Filipina Rodrigo Duterte melakukan kunjungan ke Indonesia sebagai bagian dari upayanya mempererat hubungan bilateral antara kedua negara, terutama dalam hal keamanan dan kerjasama ekonomi. Dalam kunjungannya, Duterte bertemu dengan Presiden Indonesia, Joko Widodo, dan membahas berbagai isu, termasuk kerjasama dalam menghadapi ancaman terorisme dan perdagangan narkoba yang menjadi masalah bersama. Mereka juga membahas tentang meningkatkan hubungan perdagangan, investasi, dan hubungan budaya antara kedua negara. Selain itu, kunjungan ini juga memperlihatkan pentingnya kerjasama regional dalam menghadapi isu-isu global, mengingat kedua negara berbagi perbatasan laut yang cukup signifikan dan memiliki masalah serupa terkait dengan kelompok militan dan ekstremis.

Dalam banyak hal, kunjungan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam pendekatan politik dan kebijakan luar negeri antara Duterte dan Jokowi, ada banyak kesamaan yang dapat dijadikan landasan untuk kerjasama yang lebih baik, khususnya dalam menghadapi tantangan keamanan dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Keamanan menjadi isu utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Dengan ancaman terorisme dan kejahatan lintas negara yang semakin meningkat, kerjasama antara Indonesia dan Filipina sangatlah penting. Kedua negara, yang berbagi perbatasan maritim, memiliki tantangan yang hampir serupa dalam mengatasi perompakan dan kegiatan ilegal di Laut Sulu dan Laut Sulawesi. Patroli gabungan yang disepakati oleh kedua pemimpin bukan hanya akan mengurangi ancaman bagi jalur pelayaran internasional, tetapi juga meningkatkan rasa aman bagi masyarakat kedua negara.

Namun, meskipun kerjasama di bidang keamanan menjadi prioritas, sektor ekonomi juga memiliki potensi yang sangat besar untuk ditingkatkan. Indonesia dan Filipina adalah dua negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Asia Tenggara. Tetapi, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kunjungan Duterte ke Indonesia membuka ruang bagi kedua negara untuk memperluas perdagangan, investasi, dan pembangunan infrastruktur bersama. Ke depan, kerjasama di bidang ini dapat mempercepat pembangunan ekonomi kedua negara, sambil meningkatkan hubungan antarnegara di tingkat kawasan.

Di sisi lain, hubungan Indonesia dan Filipina juga tidak bisa dipandang lepas dari dinamika politik global, terutama dalam menghadapi sengketa Laut China Selatan. Meski Indonesia tidak terlibat langsung dalam sengketa ini, peran aktif Indonesia dan Filipina dalam mendorong penyelesaian damai dan berbasis hukum internasional tetap krusial. Menjaga kebebasan navigasi dan stabilitas kawasan adalah hal yang tak bisa ditawar, dan kedua negara harus terus memperkuat solidaritas dalam menghadapi tekanan eksternal.

Kunjungan Duterte ke Indonesia menunjukkan bahwa meskipun kepemimpinan Duterte kerap dipandang kontroversial di arena internasional, ia tetap dapat mengedepankan pragmatisme dalam kebijakan luar negerinya. Dengan menggandeng Indonesia sebagai mitra strategis, Duterte membuka peluang bagi Filipina untuk memaksimalkan potensi kawasan, sementara Indonesia juga semakin menunjukkan peran sentralnya sebagai kekuatan utama di Asia Tenggara.

Namun, untuk mencapai hasil yang maksimal, kerjasama ini harus diikuti dengan komitmen yang nyata dari kedua belah pihak. Kedua negara harus terus menjalin komunikasi yang intens, memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dibuat dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan. Selain itu, kerjasama tidak boleh terbatas hanya pada masalah keamanan atau perdagangan, tetapi juga harus melibatkan sektor sosial, budaya, dan pendidikan, yang akan memberikan dampak jangka panjang bagi hubungan antarwarga kedua negara.

Proyek Infrastruktur dan Pembangunan Ekonomi

Selain perang narkoba, Duterte juga terkenal dengan program pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dikenal dengan nama “Build, Build, Build.” Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan fasilitas publik di seluruh Filipina, termasuk pembangunan jalan, jembatan, bandara, dan berbagai fasilitas lainnya. Dalam hal ini, Duterte berhasil membuat kemajuan signifikan. Banyak daerah yang sebelumnya terisolasi kini memiliki akses yang lebih baik, yang pada gilirannya mendorong perkembangan ekonomi.

Namun, meskipun proyek ini berhasil menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja, ada kritik mengenai pelaksanaan proyek yang seringkali terganggu oleh masalah birokrasi dan transparansi. Beberapa proyek bahkan dikritik karena tidak sesuai dengan anggaran yang diajukan, atau berjalan lebih lambat dari yang diperkirakan. Meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa program ini memberikan dampak positif yang besar pada perekonomian Filipina, khususnya dalam hal konektivitas antar daerah dan sektor pariwisata

Masa Depan Filipina: Apa yang Ditinggalkan Duterte?

Setelah Duterte mengakhiri masa jabatannya, banyak yang bertanya-tanya bagaimana warisannya akan mempengaruhi masa depan Filipina. Apakah kebijakan-kebijakan kontroversial yang dia jalankan akan dilanjutkan ataukah negara ini akan berusaha mengubah arah dan kembali ke jalan yang lebih moderat dan menghargai hak asasi manusia?

Bagi penerusnya, tantangan terbesar adalah bagaimana menyeimbangkan antara menjaga keamanan, melanjutkan pembangunan ekonomi, dan mengembalikan citra internasional Filipina. Salah satu keputusan besar yang harus dihadapi adalah apakah mereka akan melanjutkan kebijakan “perang terhadap narkoba” yang keras ataukah mencari pendekatan yang lebih berbasis rehabilitasi dan pencegahan. Meskipun banyak orang yang merasa lebih aman selama masa kepresidenan Duterte, banyak juga yang merasa bahwa kebijakan ini menciptakan lebih banyak korban daripada solusi yang tepat.

Demikian juga dengan hubungan luar negeri Filipina. Apakah negara ini akan kembali mendekatkan diri dengan Amerika Serikat, atau tetap mempertahankan hubungan lebih dekat dengan China? Langkah-langkah yang diambil oleh pemimpin berikutnya akan sangat menentukan bagaimana Filipina akan berperan di panggung internasional di masa depan.

Kepemimpinan Duterte adalah campuran antara keberhasilan yang nyata dan kontroversi besar. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia berhasil membawa perubahan besar di Filipina, baik dalam hal keamanan maupun pembangunan infrastruktur. Namun, pendekatannya yang keras dan terkadang otoriter, terutama dalam perang terhadap narkoba dan cara dia berurusan dengan oposisi, membuat banyak pihak meragukan apakah perubahan tersebut benar-benar menuju arah yang positif.

Ke depan, Filipina harus menilai dengan cermat warisan Duterte. Apakah negara ini akan melanjutkan kebijakan-kebijakan tegasnya ataukah akan mencari jalan tengah yang lebih menghargai hak asasi manusia dan menjaga keseimbangan dalam hubungan internasional? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan arah Filipina di masa depan, baik sebagai negara yang kuat dan mandiri, maupun sebagai negara yang lebih terbuka, adil, dan demokratis.


Penulis:
Nadila Harnas
Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Serang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *