“Sama halnya dengan viralnya video ucapan seorang pemuka agama kepada salah seorang penjual es teh. Hal tersebut akan abadi hingga anak cucunya, meski itu dilakukan dalam maksud kelakar ataupun bercanda dan sudah meminta maaf. Maka, kita harus bijak dalam bersikap khususnya dalam dunia digital dan media sosial. Jagalah jejak digital kita dengan sebaik-baiknya karena kini menjadi reputasi diri kita,” lanjut Taufiq.
Salah seorang peserta, Renny Melfia Afwan sangat antusias dan tertarik atas paparan yang disampaikan narasumber. Ia bertanya untuk mempertajam terkait upaya detoksifikasi dari gejala kecanduan digital.
Ada Kecurangan di SPBU Kota Tangerang? Laporkan ke Nomor Ini!
“Saya mencermati terkait langkah-langkah detoksifikasi kecanduan digital yang sudah dipaparkan dan ingin bertanya bagaimana implementasinya dalam pola pengasuhan keluarga di era digital saat ini (digital parenting), saya sangat tertarik dan rasanya ini penting sekali untuk diimplementasikan anak-cucu di keluarga-keluarga kita,” ungkap Renny.
Narasumber kemudian memperdalam terkait pola pengasuhan digital bisa dibangun bersama anak-anak melalui sebuah kesepakatan. Jangan bersifat memaksakan, namun harus dibangun berdasarkan kesadaran. Sepakati bersama mana yang boleh dan tidak boleh, misal terkait penggunaan gawai di rumah. Seperti di tempat/kamar tidur, meja makan, toilet, dan di saat waktu kebersamaan keluarga dilarang menggunakan gawai. Hal yang membahayakan kesehatan mata juga apabila lampu kamar sudah dimatikan di waktu istirahat namun anak masih menyalakan dan melihat layar ponsel dengan cahaya yang terang, hal tersebut harus dihindari.
Kisah Sukses Bonavie, Parfum Lokal yang Melejit Melalui Shopee Live
Selain itu, seluruh anggota keluarga juga bisa mengagendakan aktivitas fisik bersama yang menarik untuk lepas sementara dari keterhubungan dengan gawai. Seperti membaca buku, lari pagi, mengembangkan hobi, menanam, atau berlibur ke daerah yang masih asri dan tidak ada sinyal seluler. Langkah detoksifikasi kecanduan digital lainnya bisa juga dengan meredupkan layar, menghapus notifikasi dan aplikasi yang tidak perlu, serta menyimpan gawai di tempat yang aman saat kita harus hadir dalam komunikasi dan aktivitas fisik di dunia nyata.
Sebagai informasi kegiatan ini masuk dalam rangkaian kegiatan Tangerang Gemilang Books Fair 2024, dan dihadiri lebih dari 20 orang perwakilan perpustakaan desa di Kabupaten Tangerang serta pengunjung yang hadir dalam pameran buku tersebut. (*






