KELUCUAN kadang muncul bukan dari adegan bodoh yang menggelitik syaraf tawa, melainkan karena tindakan nggak masuk akal, aneh, tidak-nyambung logika sebab akibat. Dalam situasi itu penonton merasa geram dan putus asa bagaimana ketidak-nyambungan logika dan sebab akibat bisa terjadi. Rasa geram dan putus asa kemudian memunculkan tawa. Semacam menertawai kekonyolan diri sendiri.
Itulah kiranya yang dihadirkan film “GJLS: Ibuku Ibu-Ibu” arahan Monty Tiwa (sutradara ‘Mendadak Dangdut‘, ‘Sabtu Bersama Bapak‘ dll.). Film ini menghadirkan stand up comedy: Hifdzi, Rigen, dan Rispo, yang dikenal sebagai trio GJLS. Mereka berperan dengan nama mereka masing-masing. Mereka adalah putra dari Pak Tyo yang diperankan Bucek Depp.
Tokoh-tokoh diperkenalkan dengan sat-set dalam adegan-adegan serba gak jelas tapi karena itu jadi lucu tanpa berpretensi melucu. Dikenalkan Rispo yang hobi berjudi online, Hifdzi bekerja sebagai MC dangdut, dan Rigen menjadi pawang hujan. Bagi yang mengikuti channel YouTube GJLS Entertainment, tentu bisa dengan mudah nyambung dengan komedi trio GJLS ini. Tapi bukan berarti yang baru menonton akting mereka jadi nggak nyambung. Konsep komedi mereka bahwa kelucuan adalah ketidak-nyambungan logika sebab akibat akan bisa dengan mudah nyambung.
Bagi trio GJLS, film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu adalah debut, namun tidak bagi Rigen. Rigen sudah main di sejumlah film komedi laris, antara lain Kang Mak From Pee Mak dan Miracle in Cell No 7. Itu sebabnya Rigen yang paling mengalir aktingnya.
Film dibuka dengan kabar kematian Kartini dari pelantang suara masjid ketika trio GJLS sedang menjalani pekerjaan masing-masing. Setelah itu adegan langsung beralih ke masa enam bulan setelah wafatnya ibu mereka.
Masalah dimulai ketika Pak Tyo, sebagai pemilik kos-kosan, mengalami kesulitan mengurus propertinya lantaran selama dia tak pernah tahu menahu mengelola kos-kosan. Pekerjaan ini seluruhnya ditangani Kartini. Pada saat itulah tawaran untuk menjual kos-kosan seharga Rp 8 miliar pun datang, namun dengan pongah Pak Tyo menolak.
Sialnya pada saat yang bersamaan, Rispo terlilit pinjaman online, Rigen menghilangkan mobil teman, dan pacar Hifdzi mendesak dinikahi karena sudah hamil. Jelas, mereka bertiga punya misi yang sama mendesak ayah mereka untuk menjual kos-kosan.
Konflik muncul bukan hanya karena Pak Tyo menolak desakan ketiga anaknya itu, melainkan Pak Tyo rupanya jatuh cinta dengan penghuni kos baru bernama Feni (Nadya Arina) yang rupa-rupanya sanggup menggantikan Kartini mengurus propertinya. Maka misi Rispo, Rigen, dan Hifdzi bertambah, yaitu menghentikan hubungan asmara Pak Tyo dan Feni berakhir. Apakah misi mereka berhasil?
Sekonyol apa pun, film ini ditulis dengan alur cerita yang masuk akal sehingga bisa diikuti penonton sebagai pijakan untuk menikmati kelucuan-kelucuan yang gak gelas! Namun ketidakjelasan itulah menjadi daya tarik utama ini. Monty Tiwa sadar betul bahwa tulang punggung sebuah film adalah cerita. Elemen kelucuan atau keseraman, bila itu film horor, muncul setelah cerita ditulis dengan benar.
Jadi, bagi kamu yang muak dengan kenyataan sehari-hari, film ini merupakan hiburan yang tepat yang bisa sejenak melupakan dunia perpolitikan kita dan kenyataan sehar-hari yang menyebalkan. Kita bisa menikmati dialog-dialog para pemain, terutama Rispo, Rigen, dan Hifdzi yang natural seolah mereka tidak sedang akting di depan kamera.
Celetukan-celetukan nakal dalam film ini juga sangat menyegarkan, tanpa perlu berlebihan dan mengada-ada. Ketidakjelasan yang mengundang kelucuan bisa jadi cermin dari keputus-asaan kita terhadap realitas politik yang makin ngawur belakangan ini. Bedanya realitas politik bikin bodoh dan marah, film ini bikin bodoh tapi sambil tertawa. Dan sepertinya film ini dibutuhkan masyarakat.
Tak heran pada penayangan hari pertama, Kamis 12 Juni lalu, film ini berhasil mengumpulkan jumlah penonton paling banyak dibanding film-film yang dirilis pada waktu bersamaan, yaitu 75 ribuan penonton. (Aris K)






