KHAZANAH ilmu hitam (black magic) dalam kebudayaan Nusantara sangat kaya. Di setiap darah punya namanya masing-masing. Jawa Timur ada santet, di Jawa Barat dan Banten ada teluh. Santet maupun teluh adalah praktik mengirimkan kekuatan jahat yang merusak kepada korban dengan tujuan menyakiti bahkan membunuh.
Ilmu hitam ini menjadi sumber inspirasi yang tak habis-habis digali menjadi cerita film horor, yang terbaru adalah film ‘Kitab Sijjin dan Illiyin’ garapan Hadrah Daeng Ratu yang sedang beredar di jaringan XXI. Cerita film ini berpusat kepada Yuli (Yunita Siregar), seorang gadis yang berupaya menyantet orang-orang yang menyiksa dan memperlakukannya dengan tidak semestinya.
Yuli adalah anak tiri dari Ambar (Djenar Maesa Ayu). Yuli sangat dibenci Ambar karena ibu Yuli tak lain selingkuhan suami Ambar. Kebencian itulah yang menjadi bahan bakar Ambar dan anak-anaknya membenci Yui sehingga mereka rajin menyiksa Yuli. Setelah dewasa Yuli yang sebenarnya gadis yang baik dan tulus tumbuh jadi pribadi penuh dendam.
Melalui seorang dukun bernama Pana (Septian Dwi Cahyo), Yuli mengirim santet kepada Ambar dan anak-anaknya, yaitu Laras (Dinda Kanya Dewi), anak Ambar yang pemarah dan suka mengatur; Rudi (Tarra Budiman), suami Laras yang selalu menghiraukan penderitaan Yuli; Dean (Sulthan Hamonangan) si cucu bungsu yang suka meledek Yuli; serta Tika (Kawai Labiba) yang sebenarnya baik hati dan taat agama tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Yuli.
Dikisahkan santet yang disarankan oleh sang dukun ternyata sangat mematikan. Santet ini mengharuskan Yuli melakukan ritual memasukkan nama-nama target santet ke sebuah mayat segar yang baru meninggal. Yuli juga harus menyelesaikan ritualnya dalam waktu satu minggu. Jika ritualnya gagal selesai, konsekuensi mengerikan akan Yuli terima.
‘Kitab Sijjin dan Illiyin’ merupakan sekuel dari Sijjin (2023). Meski sekuel, film ini bisa ditonton tanpa harus menonton film pertamanya karena memiliki cerita sendiri yang beda dari yang pertama. Film ini menampilkan horor yang beda dan naskahnya ditulis dengan benar, lebih bagus dari yang pertama.
Naksah film ini ditulis Lele Laila yang disusun dengan cermat dan penuh perhatian dan berhasil membangkitkan rasa benci penonton terhadap karakter-karakter antagonis yang memperlakukan tokoh utama dengan kejam, sekaligus menumbuhkan empati terhadap sang protagonis. Pola penceritaannya sedikit mengingatkan pada dongeng Cinderella, di mana Yuli digambarkan sebagai tokoh mirip Cinderella yang memilih untuk membalas dendam atas nasib buruknya.
Film ini juga menyuguhkan tampilan visual yang menjijikkan namun memikat, seperti adegan memotong dan menyayat daging mayat segar yang dibelah untuk menyisipkan nama-nama korban santet—sebuah bukti keseriusan tim artistik dalam menciptakan citra visual yang kuat dan berkesan.
Jalan cerita mengikuti protagonis yang sejak awal memilih jalur gelap tanpa ada keinginan untuk kembali ke jalan yang benar, memberikan sentuhan segar dalam genre ini. Tokoh Abuya (David Chalik), yang di dua bagian awal hanya tampil sebagai ustaz biasa dengan dominasi ceramah, mengalami perubahan drastis menjadi sosok pahlawan tangguh di klimaks cerita.
Salah satu adegan paling mencolok terjadi saat santet kiriman Yuli membuat salah satu karakter dirasuki makhluk halus. Dengan kekuatan dalamnya, Abuya menghantam sosok setan tersebut hingga lantai di sekitarnya hancur—adegan yang benar-benar spektakuler!






