JEJAK KATA, Jakarta — Di tengah zaman yang bergerak semakin cepat, ketika kata-kata lebih sering melintas sebagai notifikasi dari pada renungan, puisi tetap memilih jalannya sendiri. Ia tidak tergesa-gesa. Ia berjalan pelan, mengendap dalam ingatan, lalu tumbuh menjadi cara manusia memahami dirinya dan dunia.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 di Graha Utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengajak generasi muda kembali mendekati puisi, bukan sekadar sebagai karya sastra, melainkan sebagai ruang untuk membangun karakter, merawat kebudayaan, dan memperkuat jati diri bangsa.
Menurut Fadli, puisi adalah jejak peradaban. Di dalamnya tersimpan pengalaman manusia, kegelisahan zaman, harapan, hingga kritik yang melampaui batas generasi. Karena itu, ekosistem sastra harus terus dirawat agar mampu melahirkan penyair-penyair baru yang akan meneruskan estafet kebudayaan Indonesia.
“Indonesia memerlukan penyair-penyair baru yang akan melanjutkan estafet sastra nasional,” ujarnya.
Komitmen itu, kata Fadli, sejalan dengan amanat konstitusi dan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Pemerintah kini mengembangkan berbagai program pembinaan, mulai dari Manajemen Talenta Nasional di bidang sastra, penguatan festival sastra daerah, Belajar Bersama Maestro, Seniman Masuk Sekolah, hingga lomba sastra berbasis digital dan pengembangan karya melalui media baru.
Di negeri yang memiliki ratusan bahasa daerah dan ribuan cerita rakyat, puisi sesungguhnya tumbuh di mana-mana. Ia lahir dari pantun yang diwariskan di beranda rumah, dari syair yang mengiringi upacara adat, hingga sajak modern yang merekam denyut kota. Indonesia tidak pernah kekurangan kata; yang sering kurang adalah ruang untuk mendengarkannya.
Fadli juga berbagi pengalaman mengunjungi rumah-rumah para sastrawan dunia seperti William Shakespeare di Inggris, Fyodor Dostoevsky di Rusia, John Keats, hingga Pablo Neruda di Chile. Baginya, bangsa-bangsa besar menghormati para penyair bukan karena mereka pandai merangkai kata, melainkan karena mereka menjaga ingatan kolektif bangsanya.
Penghormatan kepada sastra, sesungguhnya, adalah penghormatan kepada cara sebuah bangsa berpikir.
Menutup peringatan Hari Puisi Indonesia 2026, Fadli menyampaikan selamat kepada LK Ara, penerima Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026. Penghargaan itu diharapkan menjadi penanda bahwa perjalanan sastra Indonesia terus berlanjut, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di tengah banjir informasi yang sering membuat kata kehilangan makna, puisi mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat berbicara, tetapi rumah tempat sebuah bangsa menyimpan nurani. Sebab peradaban yang besar tidak hanya dikenang melalui gedung-gedung tinggi atau jalan-jalan megah, melainkan juga melalui kata-kata yang mampu bertahan melampaui zaman. (*






