Liputan

Lewat Lomba, Lurah Mekar Bakti Gerakkan Warga Peduli Lingkungan

×

Lewat Lomba, Lurah Mekar Bakti Gerakkan Warga Peduli Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Tim penilai Lomba Kampung Bersih Sehat yang digelar Pemerintahan Kelurahan Mekar Bakti, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang

JEJAK KATA, Tangerang—Ada cara sederhana untuk membuat warga tiba-tiba rajin membersihkan kampung: adakan lomba!

Mendadak, sapu punya harga diri. Selokan yang selama ini diperlakukan seperti tempat penitipan sampah mulai diperhatikan. Plastik bekas jajanan yang biasanya dibiarkan menunggu hujan kini buru-buru dipungut. Bahkan daun kering pun, yang sebelumnya dianggap bagian dari pemandangan alam, mendadak menjadi tersangka dan dicomot.

Di Kelurahan Mekar Bakti, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Kepala Kelurahan Mekar Bakti, Ucu Darsono, memilih cara yang cukup sederhana untuk mengajak warga lebih peduli terhadap lingkungan. Bukan dengan pidato panjang tentang bahaya sampah. Bukan pula dengan memasang spanduk sebanyak-banyaknya—yang ironisnya kelak bisa ikut menjadi sampah.

Ia membuat Lomba Kampung Bersih Sehat.

Cara ini tampaknya “ces pleng”. Pagi menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia, di sejumlah wilayah Mekar Bakti, warga terlihat lebih sibuk dari biasanya. Pagi-pagi, ketika matahari baru naik, beberapa warga sudah bergerak membersihkan lingkungan. Sampah yang sebelumnya dianggap bukan urusan siapa-siapa mendadak menjadi urusan bersama.

Tim penilai foto bersama warga di salah satu kompleks perumahan di wilayah Kelurahan Mekar bakti

Plastik bekas minuman, bungkus makanan, daun kering, dan berbagai benda yang entah bagaimana bisa berakhir di jalan atau selokan, dipungut.

Yang menarik bukan semata-mata kampung menjadi lebih bersih. Namun bagaimana sebuah lomba mampu mengubah perilaku.

Di sinilah persoalannya. Apakah warga membersihkan lingkungan karena mulai sadar bahwa kebersihan adalah kebutuhan bersama, atau karena ada penilaian, hadiah, dan gengsi antar-kampung?

Pertanyaan itu penting. Sebab kebersihan lingkungan tidak seharusnya menunggu juri datang.

Kampung mestinya tetap bersih meski tidak ada piala yang diperebutkan. Selokan seharusnya tidak perlu menunggu lomba untuk dibersihkan. Sampah semestinya masuk tempatnya bukan karena takut mendapat nilai buruk, melainkan karena membuangnya sembarangan memang bukan kebiasaan yang layak dipelihara.

Ucu tampaknya memahami persoalan tersebut. Ia berharap kegairahan warga menjelang lomba tidak berhenti setelah pemenang diumumkan. Harapannya, kegiatan itu menjadi pintu masuk menuju kebiasaan baru: menjaga lingkungan bukan sebagai kegiatan musiman, melainkan pekerjaan sehari-hari.

Sebab lomba hanya bisa memaksa orang bergerak untuk sementara. Kebiasaan lah yang membuat perubahan bertahan lebih lama.

Persoalan sampah memang tidak selesai hanya dengan memungut sampah yang terlihat. Ada perilaku membuang sampah, pengelolaan dari rumah, ketersediaan tempat pembuangan, pengangkutan, hingga kesadaran bahwa ruang publik bukan halaman belakang rumah sendiri.

Karena itu, Lomba Kampung Bersih Sehat layak dilihat sebagai pemantik, bukan obat mujarab.

Program semacam ini akan lebih berarti jika setelah lomba selesai ada kebiasaan yang terus dipelihara: warga memilah sampah, menjaga saluran air, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan saling mengingatkan tanpa harus menunggu instruksi kelurahan.

Ucu berharap warga Mekar Bakti bisa menjadi pelopor bagi lingkungan sekitarnya. Harapan itu sederhana, tetapi justru karena sederhana ia mudah diuji.

Coba lihat kampung beberapa bulan setelah lomba berakhir. Jika sapu masih bergerak, selokan tetap bersih, dan sampah tidak kembali ke tempat semula, berarti lombanya berhasil melampaui panggung.

Tetapi jika kebersihan kembali hanya muncul menjelang lomba berikutnya, barangkali yang menang bukan kampungnya. Yang menang hanya lombanya. Dan sampah, seperti biasa, tinggal menunggu giliran untuk kembali. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *