JEJAK KATA, Gunungkidul — Di meja makan, belalang bisa membuat dua jenis manusia bertemu: yang langsung mengambil piring dan yang buru-buru mencari alasan untuk tidak makan.
Di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, serangga yang bagi sebagian orang tampak seperti penghuni sawah atau kebon-kebon jati itu justru telah lama diperlakukan sebagai lauk. Masyarakat setempat menyebutnya walang goreng.
Belalang yang biasanya dikejar petani karena dianggap mengganggu tanaman, di tangan warga Gunungkidul justru berakhir di penggorengan. Setelah dibumbui dan digoreng hingga kering, tubuh serangga itu berubah menjadi kudapan gurih, renyah dan kriuk.
Dari hama menjadi hidangan. Dari gangguan menjadi dagangan. Begitulah kira-kira ekonomi kreatif bekerja jauh sebelum istilah ekonomi kreatif terdengar keren.
Dari Sawah ke Penggorengan
Walang goreng dipercaya berawal dari persoalan sederhana: belalang yang terlalu banyak di lahan pertanian.
Petani Gunungkidul menghadapi serangga yang merusak tanaman. Belalang ditangkap untuk mengurangi gangguan di sawah. Namun daripada dibuang, sebagian kemudian diolah menjadi makanan.
Rupanya lidah manusia punya selera yang kadang lebih lentur daripada dugaan. Belalang yang semula dianggap hama ternyata terasa gurih setelah digoreng. Teksturnya renyah. Rasanya unik. Dari dapur rumah, walang goreng kemudian bergerak ke pasar.
Kini makanan tersebut menjadi salah satu kuliner khas Gunungkidul. Pedagang menjajakannya di sepanjang jalur Jalan Raya Patuk menuju kawasan perbukitan Gunungkidul.
Pengunjung yang melintas tak hanya membawa oleh-oleh berupa cerita tentang pantai atau perbukitan. Sebagian pulang membawa sekantong belalang goreng.
Bagi warga, serangga yang dulu menjadi musuh tanaman itu berubah menjadi sumber penghasilan.

Tidak Semua Belalang Boleh Masuk Wajan
Meski terlihat sederhana, menggoreng belalang tidak berarti semua belalang bisa langsung dicemplungkan ke minyak panas.
Jenis yang biasa dikonsumsi antara lain belalang kayu, belalang hijau, belalang gurun, belalang migrasi, belalang merah, belalang cokelat, serta chapulines.
Belalang yang dikonsumsi umumnya diperoleh dari area persawahan, kebun dan lahan pertanian.
Kemunculannya juga bergantung musim. Saat musim hujan, belalang lebih mudah ditemukan. Ketika kemarau datang, perburuan belalang menjadi lebih sulit.
Bagi pedagang, perubahan musim berarti perubahan stok. Bagi belalang, mungkin itu berarti kesempatan hidup sedikit lebih panjang.
Dari Hama Menjadi Sumber Protein
Walang goreng juga menarik bukan semata karena kisahnya, tetapi karena kandungan gizinya.
Belalang dikenal mengandung protein dan kalsium. Sejumlah sumber menyebut kandungan proteinnya dapat berada di kisaran 20-40 persen, meski nilai pastinya bergantung pada spesies dan cara pengolahan.
Karena itu, belalang mulai mendapat perhatian sebagai salah satu sumber pangan alternatif.
Namun klaim bahwa belalang pasti dapat menurunkan kolesterol, mencerdaskan otak, atau memberikan manfaat kesehatan tertentu sebaiknya tidak ditelan mentah-mentah. Manfaat pangan tetap bergantung pada kandungan gizi, jumlah konsumsi, serta cara pengolahannya.
Lagipula, menggoreng belalang dengan minyak bukanlah metode yang secara otomatis membuat semua persoalan kesehatan selesai.
Resep Sederhana, Cerita Panjang
Cara mengolahnya relatif sederhana. Belalang dibersihkan terlebih dahulu. Bagian kaki berduri dan sayap biasanya dibuang. Setelah itu belalang diberi bumbu, antara lain bawang putih dan garam.
Kemudian minyak dipanaskan. Belalang dimasukkan ke dalam wajan hingga berubah warna menjadi kuning kecokelatan dan teksturnya renyah. Selesai.
Tidak ada teknologi canggih. Tidak perlu dapur futuristis. Tidak membutuhkan istilah kuliner yang sulit dieja. Hanya belalang, bumbu dan minyak panas. Tetapi dari proses sederhana itu lahir cerita panjang tentang hubungan manusia dengan alam.
Apa yang dianggap hama oleh petani bisa menjadi makanan bagi orang lain. Apa yang awalnya ditangkap untuk menyelamatkan tanaman kemudian menjadi komoditas.
Gunungkidul menunjukkan bahwa kuliner tidak selalu lahir dari resep yang dirancang di dapur. Kadang ia lahir dari masalah di sawah. Dan ketika masalah itu digoreng sampai garing, ternyata bisa menjadi oleh-oleh. (*






