JEJAK KATA, Tangerang — Di Pasar Gudang Tigaraksa, ada satu aturan tak tertulis bagi pencinta gulai kambing: jangan datang kesiangan.
Bukan karena pasar akan tutup. Ketupat Gulai Kambing Haji Mardani memang hanya muncul dua kali sepekan—Minggu dan Rabu pagi, pukul 06.00 hingga 11.00 WIB. Tetapi pada jam-jam tertentu, kuah gulainya bisa lebih cepat menghilang ketimbang orang menghabiskan ketupat di mangkuk.
Warung sederhana itu berada di Jalan Aria Wangsakara Blok B No. 41, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Tak ada kemewahan yang menyertai tempatnya. Namun bagi sebagian warga, kesederhanaan justru menjadi bagian dari daya tarik.
Kuliner ini bukan pemain baru di Tigaraksa. Ia sudah ada jauh sebelum Pasar Gudang berdiri permanen seperti sekarang. Ketika pasar masih menempati lokasi lamanya, Haji Mardani telah menjajakan ketupat dengan gulai kambing sebagai menu andalan.
Dari generasi ke generasi, jadwalnya tak banyak berubah. Minggu pagi dan Rabu pagi. Setelah Haji Mardani, usaha itu diteruskan anaknya.
Tradisi itu agaknya juga menjadi bagian dari resep. Sebab pelanggan bukan hanya datang untuk makan, melainkan seperti sedang menjemput kembali rasa yang pernah mereka kenal.
Ada satu bagian yang membuat gulai kambing di sini punya penggemar sendiri: kepala kambing.

Bagian ini menjadi salah satu menu yang diburu. Kuah gulainya menjadi teman ketupat, sementara aroma rempah dan daging kambing menjadi alasan mengapa pelanggan rela bangun pagi.
Jadi, bagi yang hendak mencoba, istilah sat-set bukan sekadar gaya bahasa. Datanglah lebih pagi. Sebab di tempat ini, kesempatan menikmati seporsi gulai kambing tidak selalu menunggu sampai jam makan siang.
Pasar boleh ramai sejak pagi. Tetapi gulai Haji Mardani punya ritmenya sendiri: buka sebentar, ludes, lalu kembali menunggu Minggu atau Rabu berikutnya.
Warung kecil itu bertahan bukan dengan papan nama besar atau promosi berisik. Ia bertahan dengan sesuatu yang lebih sederhana—rasa yang diwariskan, pelanggan yang kembali, dan kepala kambing yang menjadi incaran.
Di tengah kuliner yang berlomba tampil di media sosial, Ketupat Gulai Kambing Haji Mardani memilih cara lama: buka pagi, masak secukupnya, dan membiarkan rasa bekerja sendiri. (*






