Soft News

Tangis dari Pintu Air Sepuluh: Jejak Belanda dan Mitos di Sungai Cisadane

×

Tangis dari Pintu Air Sepuluh: Jejak Belanda dan Mitos di Sungai Cisadane

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

FEATURE—Malam punya cara sendiri untuk membuat sebuah bangunan tua terdengar lebih tua.

Di Bendungan Pintu Air Sepuluh, Tangerang, suara air Sungai Cisadane yang menghantam pintu-pintu besi bisa berubah menjadi sesuatu yang lain. Bagi sebagian orang, ia sekadar bunyi hidrolika. Bagi yang lain, terutama mereka yang pernah berjaga di kawasan itu ketika malam telah sepi, suara tersebut menyimpan cerita.

Ada kisah tentang sosok kecil seperti kurcaci yang konon pernah terlihat oleh penjaga bendungan. Ada pula cerita yang lebih membuat bulu kuduk berdiri: tangisan yang terdengar dari salah satu pintu air.

Tangisan itu dipercaya bukan sekadar suara angin yang terselip di antara konstruksi tua. Dalam cerita yang beredar dari mulut ke mulut, tangisan tersebut menjadi semacam pertanda bahwa ada mayat yang tersangkut di sekitar pintu bendungan.

Benar atau tidak, kisah itu tidak pernah memiliki tempat dalam laporan teknis bendungan. Tak ada kolom khusus dalam dokumen tata air yang mencatat suara tangisan. Tetapi cerita semacam itu hidup justru karena ia tidak membutuhkan stempel pemerintah untuk dipercaya.

Di siang hari, Pintu Air Sepuluh adalah bangunan pengendali air. Pada malam hari, dalam imajinasi warga, ia bisa berubah menjadi panggung bagi cerita mistik.

Bangunan tua itu memang punya modal yang cukup untuk melahirkan legenda.

Warisan Tata Air Kolonial

Pintu Air Sepuluh atau Bendungan Pasar Baru berdiri di Sungai Cisadane. Pembangunannya dimulai pada 1927 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai bagian dari proyek tata air di wilayah Tangerang.

Bendungan tersebut kemudian diresmikan pada 1930. Sejumlah catatan menyebut fasilitas ini mulai digunakan secara lebih luas hingga sekitar 1932.

Pada zamannya, pembangunan bendungan bukan pekerjaan kecil. Pemerintah kolonial membutuhkan sistem untuk mengendalikan air Cisadane—sungai yang sekaligus menjadi sumber kehidupan dan ancaman bagi kawasan di sekitarnya.

Karena itu, lahirlah konstruksi dengan sepuluh pintu air besar, masing-masing memiliki lebar sekitar 10 meter, serta 11 tiang penopang. Dari susunan itulah nama Pintu Air Sepuluh melekat.

Bendungan ini juga pernah dikenal sebagai Bendungan Sangego, mengikuti kawasan tempatnya berada.

Fungsinya sangat praktis: mengatur volume dan ketinggian air Sungai Cisadane, mengendalikan potensi banjir, sekaligus mengalirkan air untuk kebutuhan irigasi pertanian.

Puluhan ribu hektare lahan sawah di kawasan Tangerang dan sekitarnya pada masa lalu bergantung pada tata air semacam ini.

Dengan kata lain, Pintu Air Sepuluh pada mulanya tidak dibangun untuk menjadi objek wisata, apalagi lokasi cerita horor. Ia lahir dari kalkulasi: berapa banyak air yang harus ditahan, berapa banyak yang harus dialirkan, dan bagaimana manusia bisa berdamai dengan sungai.

Ketika Beton Bertemu Legenda

Hampir seabad kemudian, fungsi itu masih menjadi bagian dari identitas Pintu Air Sepuluh. Namun usia membuat bangunan ini memperoleh identitas lain.

Konstruksi bergaya klasik Belanda masih menjadi bagian yang mudah dikenali. Tiang-tiang besar, pintu air, dan struktur bangunan tua menghadirkan kesan bahwa waktu berhenti di tempat itu. Suasana semacam itulah yang sering menjadi bahan bakar legenda.

Bangunan tua, sungai yang deras, ruang-ruang sunyi, dan pekerjaan penjaga yang kadang berlangsung hingga malam adalah kombinasi yang nyaris sempurna untuk melahirkan cerita mistik.

Salah satunya tentang sosok kecil menyerupai kurcaci. Cerita itu tidak datang bersama bukti fotografi atau laporan investigasi. Ia beredar sebagai kisah dari mereka yang pernah berada di kawasan bendungan. Sosok tersebut konon terlihat dalam situasi tertentu, kemudian menghilang.

Cerita lain jauh lebih menyeramkan. Tangisan. Konon, suara tangisan pernah terdengar dari salah satu pintu bendungan. Dalam kepercayaan yang berkembang di sekitar kawasan tersebut, suara itu kerap dikaitkan dengan keberadaan jenazah yang tersangkut di pintu air.

Ada penjelasan yang lebih masuk akal. Suara air yang melewati celah-celah konstruksi, tekanan arus, gema di antara beton dan besi, serta kesunyian malam memang dapat menghasilkan bunyi yang menyerupai suara manusia.

Tetapi mitos tidak selalu tumbuh dari kebutuhan untuk masuk akal. Kadang-kadang, ia tumbuh karena manusia membutuhkan cerita untuk menjelaskan sesuatu yang belum mereka pahami.

Bendungan yang Menyimpan Dua Wajah

Pintu Air Sepuluh akhirnya memiliki dua wajah.

Wajah pertama adalah wajah teknik: sebuah karya rekayasa air peninggalan kolonial yang dibangun untuk mengendalikan Cisadane, mencegah banjir, dan menopang pertanian.

Wajah kedua adalah wajah cerita: tempat di mana sosok kurcaci, suara tangisan, dan kisah mayat yang tersangkut di pintu air menjadi bagian dari ingatan masyarakat.

Keduanya hidup berdampingan. Pada siang hari, orang datang menikmati lanskap bendungan, melihat konstruksi tua, dan menyaksikan aliran Cisadane. Kamera telepon pintar menggantikan buku catatan kolonial.

Ketika malam datang, sungai kembali mengambil perannya sebagai suara utama.

Air mengalir. Besi berderit. Angin melewati bangunan tua.

Dan jika seseorang berdiri terlalu lama di dekat pintu air, mungkin ia akan mendengar sesuatu.

Bisa jadi hanya suara Cisadane. Bisa pula, menurut cerita yang diwariskan dari satu penjaga kepada penjaga lain, suara tangisan dari masa lalu.

Sejarah memang mencatat kapan bendungan dibangun dan untuk apa ia digunakan. Tetapi sejarah lokal sering menyimpan catatan lain yang tidak ditulis di atas kertas: cerita yang hidup di antara masyarakat.

Di Pintu Air Sepuluh, Tangerang, batas antara keduanya menjadi samar. Yang satu berbicara tentang air. Yang lain berbicara tentang arwah.

Dan hampir seratus tahun setelah batu pertama diletakkan, keduanya masih mengalir bersama Sungai Cisadane. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *