Jejak KataWisata dan Kuliner

John Kopi, Menyimpan Lasem dalam Cangkir dan Sebatang Rokok

×

John Kopi, Menyimpan Lasem dalam Cangkir dan Sebatang Rokok

Sebarkan artikel ini
FOTO: Dok. Istimewa

KULINER — Di Jalan KH Ma’shoem, Bayanan, Soditan, Lasem, aroma kopi hitam seperti punya cara sendiri untuk menahan orang agar tidak segera pulang. Di sebuah warung sederhana bernama John Kopi, waktu berjalan lebih lambat. Orang datang bukan semata-mata untuk mengusir kantuk.

Mereka datang untuk duduk, berbincang, berdebat, bertukar kabar, lalu menyeruput kopi.

Di Lasem, warung kopi memang bukan sekadar tempat menjual minuman. Ia adalah ruang sosial. Di meja-meja sederhana, warga kampung bertemu santri, pendatang bertemu penduduk lama, dan kabar dari luar kota kadang tiba lebih dahulu daripada koran pagi.

Di antara percakapan itulah secangkir kopi lelet hadir dengan tradisinya yang khas—bahkan sedikit ganjil bagi orang yang baru pertama kali melihatnya. Kopi diminum. Ampasnya justru tidak dibuang.

Ampas yang Menjadi Kuas

Kedai John Kopi di Lasem | FOTO: Dok. Istimewa

Setelah kopi hitam di dalam cangkir tinggal menyisakan endapan, ampasnya dituangkan ke dalam lepek—piring kecil yang menjadi pasangan setia cangkir. Ampas itu kemudian dicampur sedikit susu atau mentega hingga berubah menjadi pasta pekat.

Di tangan orang Lasem, pasta kopi itu menjadi semacam tinta.

Dengan lidi, tusuk gigi, benang, sendok kecil, atau kadang hanya jari, ampas kopi kemudian dioleskan ke batang rokok. Proses itu dikenal sebagai ngelelet atau nyethe.

Sebatang rokok pun berubah menjadi kanvas.

Ada garis, lengkungan, bunga, hingga motif-motif yang mengingatkan pada seni batik. Tidak semua hasilnya rapi. Tidak semua orang pula mengaku seniman. Tapi di situlah daya tariknya: seni tumbuh dari kebiasaan sehari-hari, dari sesuatu yang semula hanya dianggap ampas.

Kopi lelet kemudian dibakar bersama rokok. Aroma kopi bercampur dengan asap, menciptakan pengalaman yang menjadi salah satu penanda khas Lasem.

Dari Kopi Sedulit

FOTO: Dok. Istimewa

Tradisi ini disebut telah tumbuh sejak masa kolonial. Sekitar dekade 1930-an, kebiasaan tersebut berkembang di warung-warung kopi di kawasan perbatasan Desa Gedongmulyo dan Desa Dasun, Kecamatan Lasem.

Pada masa awal, orang mengenalnya sebagai kopi sedulit.

Ketika itu, ampas kopi dioleskan ke batang rokok dengan cara sederhana. Jari tangan menjadi alat utama. Tidak ada motif rumit, apalagi komposisi yang perlu dipamerkan. Yang penting, kopi menempel.

Namun tradisi, seperti manusia, rupanya gemar berkembang.

Dari olesan sederhana, muncul eksperimen. Orang mulai menggunakan lidi, benang, hingga sendok. Garis-garis kecil berubah menjadi pola. Pola berkembang menjadi motif. Aktivitas yang semula praktis perlahan menemukan unsur estetikanya. Maka lahirlah istilah ngelelet.

Tradisi itu kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Lasem, yang selama berabad-abad menjadi kota pelabuhan dan tempat perjumpaan berbagai kebudayaan, kembali menunjukkan kemampuannya merawat sesuatu yang sederhana menjadi identitas.

Di kota yang dikenal dengan batik, jejak seni rupanya bisa muncul bahkan pada sebatang rokok.

Kopi yang Harus Sangat Halus

FOTO: Dok. Istimewa

Kopi lelet memiliki syarat yang tidak sepenuhnya bisa ditawar: ampasnya harus halus.

Bubuk kopi digiling berulang kali—bisa lima hingga enam kali—hingga menghasilkan tekstur yang lembut. Tujuannya bukan sekadar agar kopi mudah larut dalam air, melainkan agar ampas yang tersisa cukup halus untuk diolah kembali.

Ampas kasar tentu sulit dijadikan bahan menggambar.

Karakter rasa kopi lelet sendiri cenderung kuat dan pekat. Robusta dengan kepahitan khas kopi tubruk menjadi pilihan yang lazim. Bagi sebagian orang, rasa pahit itu justru bagian dari ritual.

Kopi diminum perlahan. Percakapan mengalir. Ampas disisihkan. Rokok dilelet. Kemudian waktu kembali berjalan. Tidak ada yang tergesa-gesa.

Warung Pak John dan Ruang Sosial Lasem

FOTO: Dok. Istimewa

Kedai John Kopi menjadi salah satu tempat yang menjaga suasana itu tetap hidup. Kedainya dikenal sebagai ruang perjumpaan. Orang dari berbagai latar datang dan duduk dalam jarak yang dekat.

Di tempat seperti inilah tradisi kuliner sulit dipisahkan dari tradisi sosial. Kopi bukan sekadar minuman. Ia menjadi alasan untuk bertemu.

Orang bisa datang sendirian, tetapi jarang benar-benar sendirian terlalu lama. Selalu ada obrolan yang menyusup: tentang kampung, pekerjaan, politik, perdagangan, sepak bola, hingga kabar seseorang yang entah sejak kapan tidak pulang. Warung kopi menjadi semacam parlemen kecil tanpa palu sidang.

Di tengah perubahan zaman, keberadaan tempat seperti John Kopi juga mengingatkan bahwa kuliner tradisional bukan hanya soal resep. Ada kebiasaan, ruang, bahasa, dan perjumpaan manusia yang menyertainya.

Kopi lelet mungkin hanya tampak sebagai kopi hitam dengan ampas yang dioleskan ke batang rokok. Namun di Lasem, ia menyimpan lapisan sejarah yang lebih panjang.

Dari kopi sedulit pada masa kolonial, berkembang menjadi ngelelet yang artistik. Dari warung sederhana, lahir ruang pergaulan lintas generasi. Dari ampas yang biasanya dibuang, muncul motif yang mengingatkan orang pada kebudayaan setempat.

Lasem telah lama dikenal sebagai kota tua yang menyimpan jejak banyak peradaban. Di jalan-jalannya berdiri rumah-rumah kuno, bangunan bergaya Tionghoa, masjid, dan jejak sejarah perdagangan.

Di salah satu sudut kota itu, sejarah ternyata juga bisa ditemukan dalam secangkir kopi. Dan di kedai John Kopi, ampas yang tersisa seolah mengajarkan satu hal sederhana: tidak semua yang tinggal di dasar harus dibuang. Kadang, justru dari situlah sebuah tradisi menemukan bentuknya. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *