Jejak KataWisata dan Kuliner

Ketika Belalang Naik Kelas: Dari Hama Menjadi Kuliner Kaya Protein

×

Ketika Belalang Naik Kelas: Dari Hama Menjadi Kuliner Kaya Protein

Sebarkan artikel ini
Jenis belalang kayu yang ternyata banyak mengandung protein | FOTO: Dok. Widi Hatmoko

KULINER — Bagi sebagian orang, belalang adalah serangga yang biasa meloncat di antara rumput dan tanaman. Bagi petani, ia bahkan bisa menjadi hama. Namun di tempat lain, nasib belalang justru berakhir lebih terhormat: masuk wajan, diberi bumbu, lalu disajikan sebagai lauk atau camilan.

Di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, belalang telah lama menjadi bagian dari lanskap kuliner. Masyarakat mengenalnya sebagai walang goreng—belalang yang dibersihkan, diolah dengan bumbu, lalu digoreng hingga renyah. Jenis yang digunakan antara lain belalang kayu dan belalang yang hidup di kawasan pertanian.

Dari serangga yang gemar melompat, belalang berubah menjadi komoditas dapur.

Belalang sendiri merupakan serangga dari kelompok Caelifera dalam ordo Orthoptera. Tubuhnya dirancang untuk kehidupan di darat: kaki belakang panjang dan kuat untuk melompat, sementara beberapa jenis menghasilkan bunyi khas melalui gesekan bagian tubuhnya, sebuah proses yang dikenal sebagai stridulasi.

Tetapi sejarah belalang sebagai makanan jauh lebih luas daripada Gunungkidul.

Di Meksiko, sejumlah jenis belalang dikenal sebagai chapulines. Serangga ini telah lama hadir dalam tradisi pangan masyarakat setempat dan biasa diolah dengan beragam bumbu. Belalang bisa dipanggang atau digoreng, lalu disantap sebagai camilan maupun pelengkap hidangan.

Di sejumlah kawasan Timur Tengah dan Afrika, serangga ini juga menjadi bagian dari tradisi pangan. Pengolahannya beragam, dari direbus hingga dikeringkan dan dimakan sebagai makanan ringan. Di beberapa wilayah, serangga bahkan menjadi sumber pangan alternatif ketika bahan makanan lain sulit diperoleh.

Di Tiongkok, berbagai jenis serangga kerap muncul dalam kuliner jalanan, termasuk yang disajikan dalam bentuk tusuk sate. Pemandangan semacam itu mungkin membuat sebagian orang Indonesia mengernyitkan dahi. Padahal, Indonesia sendiri memiliki tradisi panjang mengolah berbagai bahan pangan yang bagi masyarakat lain mungkin terdengar tak lazim.

Dalam perspektif Islam, belalang juga memiliki kedudukan tersendiri. Hewan ini dikenal sebagai salah satu jenis hewan yang diperbolehkan dikonsumsi meskipun ditemukan dalam keadaan sudah mati, berdasarkan ketentuan fikih yang bersumber dari hadis.

Soal rasa, pendapat masyarakat beragam. Ada yang menyebut tekstur dan cita rasa belalang mendekati udang—gurih, ringan, terutama setelah digoreng. Perbandingan itu tentu lebih merupakan pengalaman lidah ketimbang rumus ilmiah.

Yang lebih menarik adalah kandungan gizinya. Berbagai penelitian tentang serangga pangan menunjukkan bahwa belalang dapat menjadi sumber protein dan sejumlah zat gizi lain. Namun kandungan nutrisi tidak bisa dipukul rata. Jenis belalang, pakan, ukuran, hingga cara pengolahan dapat menghasilkan nilai gizi yang berbeda.

Belalang goreng, tentu saja, juga memiliki persoalan yang lebih modern: keamanan pangan. Belalang yang dikonsumsi perlu berasal dari lingkungan yang aman dan tidak terpapar pestisida atau bahan kimia berbahaya. Serangga yang hidup di ladang bukan otomatis aman masuk ke penggorengan.

Di situlah belalang memperlihatkan paradoksnya.

Ia bisa menjadi hama bagi tanaman, tetapi juga pangan bagi manusia. Ia melompat di antara rerumputan, tetapi di Gunungkidul bisa berakhir sebagai lauk. Di Meksiko menjadi chapulines, di tempat lain hadir dalam bentuk camilan atau masakan tradisional.

Barangkali belalang mengajarkan satu hal sederhana: selera manusia sering kali ditentukan bukan hanya oleh lidah, melainkan juga oleh sejarah, lingkungan, dan kebiasaan.

Bagi yang belum pernah mencobanya, belalang mungkin masih sekadar serangga. Bagi sebagian masyarakat Gunungkidul, ia sudah lama menjadi cemilan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *