Jejak KataWisata dan Kuliner

Angkringan IKG, Sepotong Jogja yang Menyala di Pinggir Jalan Cikupa

×

Angkringan IKG, Sepotong Jogja yang Menyala di Pinggir Jalan Cikupa

Sebarkan artikel ini
Angkringan IKG di Jalan Raya Serang depan Surya Indah Motor | Foto: Dok. Widi Hatmoko

KULINER — Malam di Jalan Raya Serang tak selalu tentang deru kendaraan dan lampu toko yang bergantian padam. Di antara lalu lintas yang masih sibuk, ada tempat-tempat kecil yang justru baru ramai ketika hari mulai lelah. Angkringan salah satunya.

Meja sederhana, bangku panjang, makanan yang tersusun di atas meja, dan kepulan minuman hangat menjadi semacam jeda bagi warga Tangerang. Tak perlu pakaian rapi. Tak perlu reservasi. Datang, duduk, memilih makanan, lalu berbincang sampai lupa waktu.

Di kota yang bergerak cepat, angkringan menawarkan kemewahan yang agak berbeda: harga bersahabat dan waktu yang tidak tergesa-gesa.

Fenomena itu mudah ditemui di berbagai sudut Tangerang. Angkringan tumbuh di pinggir jalan, dekat permukiman, kawasan kampus, hingga jalur yang ramai dilalui pekerja. Ketika kafe menawarkan pendingin ruangan dan musik latar, angkringan menawarkan udara malam dan percakapan antarmeja.

Menu yang disajikan pun sederhana. Ada nasi kucing, aneka sate, gorengan, serta minuman hangat. Harganya relatif ringan sehingga bisa dijangkau pelajar, mahasiswa, pekerja, maupun warga yang sekadar ingin mengisi perut tanpa membuat dompet ikut lapar.

Ketika Jogja Bertemu Tangerang

Angkringan IKG di Jalan Raya Serang depan Surya Indah Motor | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Salah satu tempat yang menawarkan suasana semacam itu adalah Angkringan Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) di Jalan Raya Serang Km 16,8, Cikupa, Kabupaten Tangerang. Lokasinya berada tepat di depan bengkel aksesoris mobil Surya Indah Motor.

Dari luar, tempat ini tak mencoba menjadi kafe modern. Konsepnya justru mempertahankan wajah angkringan: sederhana, terbuka, dan dekat dengan jalan.

Namun ada satu hal yang membuatnya menarik. Angkringan IKG seperti membawa sedikit suasana Yogyakarta ke tengah hiruk-pikuk Tangerang.

Area yang cukup luas dengan tempat duduk lesehan membuat pengunjung bisa datang berkelompok. Suasananya lebih cair dibanding tempat makan yang mengharuskan pengunjung duduk formal di meja.

Di sini, obrolan menjadi bagian dari hidangan.

Pengunjung bisa menikmati aneka makanan khas angkringan sembari duduk santai. Bagi mereka yang pernah tinggal atau berkunjung ke Yogyakarta, atmosfer semacam ini barangkali menghadirkan nostalgia. Bagi yang belum pernah ke Jogja, angkringan bisa menjadi cara sederhana mengenal budaya kuliner kota itu.

Tentu saja, Tangerang bukan Yogyakarta. Tetapi kuliner tidak mengenal batas administratif. Makanan dapat berpindah kota bersama manusia. Begitu pula kebiasaan makan, cara nongkrong, dan kenangan.

Seporsi Mie Godok untuk Menutup Malam

Mie godok UMKM IKG di emperan Surya Indah Motor Cikupa, Tangerang | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Angkringan IKG memiliki tetangga kuliner yang masih satu rumpun: mie godok khas Jogja.

Mie godok menjadi pasangan yang cocok untuk mereka yang datang bukan sekadar mencari camilan. Kuahnya gurih dan hangat, terutama ketika disantap malam hari. Semangkuk mie panas di tengah udara malam Tangerang punya logika sederhananya sendiri: perut kenyang, badan hangat, obrolan berlanjut.

Di sinilah kekuatan angkringan. Ia bukan hanya tempat makan. Ia menjadi ruang sosial yang murah meriah.

Seorang pekerja bisa duduk bersebelahan dengan mahasiswa. Sekelompok teman dapat berbincang tanpa khawatir waktu berjalan terlalu cepat. Pengendara yang kebetulan melintas pun bisa berhenti untuk sekadar menikmati minuman dan makanan hangat.

Angkringan juga relatif mudah ditemukan. Banyak yang berada di tepi jalan sehingga pengunjung tak perlu menempuh perjalanan khusus untuk mendapatkan suasana nongkrong. Bagi sebagian warga Tangerang, ini lebih praktis daripada mendatangi pusat perbelanjaan atau kafe yang jauh dari rumah.

Jam operasional yang cenderung panjang membuat angkringan memiliki pelanggan khas: mereka yang belum ingin pulang ketika malam sudah larut.

Ada yang datang setelah bekerja. Ada yang baru selesai berkegiatan. Ada pula yang memang menjadikan angkringan sebagai tempat bertemu kawan.

Di tengah kota yang semakin penuh dengan bangunan komersial, angkringan mempertahankan formula lama: makanan sederhana, harga terjangkau, dan percakapan yang panjang.

Angkringan IKG di Cikupa memperlihatkan bagaimana formula itu bekerja di Tangerang. Ia membawa cita rasa Jogja tanpa harus membawa pengunjung menyeberang ke Jawa Tengah.

Cukup berhenti di Jalan Raya Serang. Duduk lesehan. Memesan makanan. Lalu biarkan malam Tangerang berjalan perlahan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *